JULIA

JULIA
boncap 2



"tidak usah tapi-tapian Kak. oh iya, Kak Dea tolong belikan lagi sarapan untuk kita biar nanti kita bisa makan sama-sama aku yakin Kak pejal merasa tidak enak." ujar dunia lagi sambil tersenyum lucu ke arah pejal.


"oh iya oke..." dia pun langsung bergegas bangkit untuk pergi membeli sarapan pagi untuk mereka tapi setelah itu Dea terlebih dahulu bertanya kepada pejal di mana dia dapat menemukan makanan yang serupa.


kini mereka semua telah sarapan pagi bersama setelah Julia menyuapi Bryan dan memberikan obat untuknya. pejal pun sudah ikut makan bersama dengan mereka. ia tidak berkutik ketika mendapatkan paksaan seperti itu dari tamu-tamunya.


"Lia boleh kakak pinjam handphone-mu. kakak ingin menghubungi keluarga kakak sekaligus memberitahu kalau Kakak akan kembali hari ini dengan kalian." ujar Brian lagi kepada Julia.


pejal yang mendengar penuturan Brian seketika langsung memasang wajah sayu karena jujur saja, Ia begitu senang mendapati seorang teman berada di sampingnya yang sudah ia anggap sebagai keluarga sendiri. tapi lagi-lagi, pejal kembali disadarkan kalau Brian bukanlah adiknya atau keluarganya yang mana sewaktu-waktu pasti akan kembali kepada pemiliknya.


" ini kak.." ujar Julia menyodorkan telepon mahal kepada Brian.


Bryan sendiri Langsung menyambut telepon seluler itu. pejal yang melihat telepon mahal itu pun langsung menjadi malu. karena beberapa hari Brian menggunakan handphonenya pasti Brian mengatakan handphone itu sudah ketinggalan zaman pikir pejal. tiba-tiba ia merasa kecil dan kehilangan semangatnya. sementara Brian langsung mengotak-atik handphone Julia dan menghubungi keluarganya.


Tut


beruntungnya, panggilan itu cepat di respon oleh Tuan Herman.


"hallo... siapa..??" tanya tuan Herman. Brian yang mendengar suara papanya itu langsung memejamkan matanya.


"halo." ulang Tuan Herman lagi. sebelum menjawab Brian pun menarik nafasnya.


"halo Pa, papa apa kabar..??" ujar Brian dengan suara bergetar. Tuan Herman yang berada di seberang telepon langsung terkejut mendengar panggilan itu. tangannya gemetaran namun berusaha untuk mempertahankannya.


"halo siapa di sana..?? kalau bisakah anda menjelaskan Siapa dirimu..??" tanya Tuan Herman lagi. air mata Brian menetes ketika mendengar suara Tuan Herman yang tampaknya memang bergetar.


"ini Brian pa.. maafkan Brian baru menghubungi sekarang. Brian baru sembuh.." jawab Brian lagi dengan suara ikut bergetar menahan tangis.


"apa !!! tolong jangan bercanda. Apakah benar kamu adalah Brian Putra saya !! kalau memang iya tolong katakan gimana keberadaanmu sekarang." ujar Tuan Herman yang kini sudah bangkit dari kursi kebesarannya.


"papa tenanglah. hari ini juga Aku akan kembali ke Jakarta. aku akan membawa seseorang yang telah menyelamatkanku di sini dan merawatku dengan baik. aku tidak tega meninggalkannya sendiri karena dirinya tidak memiliki siapapun di sini.. bolehkah aku membawanya pa.." tanya Brian lagi kepada tuan Herman.


Tuan Herman yang mendengar penuturan itu tidak tahu harus bereaksi seperti apa. tapi tiba-tiba dia langsung merubah panggilan suara itu berubah menjadi video call. karena kebetulan Brian hanya menggunakan panggilan suara di aplikasi WhatsApp. Brian yang melihat pengalihan panggilan itu pun langsung tersenyum dan menekan tombol hijau. terpampang lah wajah Bryan dan Tuan Herman di sana.


"Brian... nak.. Apa itu beneran kamu... astaga tolong jawab papa nak...!!" seru Tuan Herman lagi. Brian tersenyum dan menganggukkan kepalanya dan menjawab.


"tentu saja Pa. ini aku. aku boleh kan membawa pejal bersamaku ke Jakarta dan akan tinggal bersama dengan kita..??" tanya Brian lagi karena tidak mungkin dirinya meninggalkan pejal di sini ia merasa tidak tega dan juga ditambah dirinya sudah sangat nyaman bersama dengan pejal.


Tuan Herman masih belum merespon. ya masih bingung melihat ternyata putranya selamat dan terlihat jelas juga wajah putranya penuh dengan luka goresan.


"pa.." ujar Brian lagi memanggil Tuan Herman yang masih terlihat bingung.


"eh iya nak. tentu saja Tentu saja boleh.. kalau papa boleh tahu kamu di mana sekarang biar papa yang menjemputmu pulang.." ujar tuan Herman dengan mata berkaca-kaca.


"tidak perlu pa. Aku akan kembali bersama dengan calon menantu papa mereka juga baru sampai kemarin. hehehe.. nggak papa kan pa..??" tanya brain lagi kepada tuan Herman. Tuan Herman tersenyum mendengar penuturan putranya itu.


"tentu saja. kalau begitu papa akan menunggu kepulanganmu. cepatlah kembali nak.. kembali saat ini juga." ujar Tuan Herman lagi kepada putranya.


"baik Pa. Tapi tolong jangan kasih tahu mama dulu ya. takutnya Mama nanti menjadi tidak tenang dan cemas. kalau begitu Bryan tutup teleponnya, hari ini juga kami akan berangkat." ujar Brayan lagi.


"iYa nak, iYa nak. papa pasti akan menunggu kedatanganmu." akhirnya setelah obrolan singkat itu Brian langsung mengakhiri panggilannya setelah mendapatkan persetujuan dari papanya.


sementara itu, pejal yang mendengar namanya disebut beberapa saat yang lalu oleh Brian langsung menjadi diam.


pejal sebenarnya tidak ingin ikut. dirinya sudah sangat nyaman berada di Desa nelayan ini. tetapi melihat tatapan permohonan yang begitu kentara diraut wajah dan sorot mata Brian membuat pejal tidak tega.


"Kalau mas ikut bersama denganmu, apa yang akan mas kerjakan di sana Bri. mas tidak memiliki keahlian apapun selain memancing." ujar pejal mencoba untuk menolak dengan halus.


"mas tidak perlu khawatir, nanti kita akan buka usaha untuk mas kelola di sana. mas tidak perlu khawatir Brian juga sudah membicarakan ini pada papa Dan papa setuju. jadi mas tidak punya alasan untuk tidak ikut."ujar Brian memaksakan kehendaknya. akhirnya walaupun merasa tidak percaya, pejal menganggukkan kepalanya dan setuju untuk ikut dengan Brian.


"Ya sudah kalau begitu.. tapi di sana nanti carikan mas kerja ya.. hehehe.. kerja apa aja boleh.." ujar pejal lagi.


Brian yang mendengar penuturan pejal pun langsung tersenyum.


"Iya mas tenang saja.. sebaiknya mas segera siap-siap, karena sepertinya Julia sudah menghubungi travel dan kita akan berangkat hari ini juga." ujar Brian pagi.


Dea dan Astra yang Mendengar hal itu pun langsung terkejut.


"eh kita nggak mandi dulu Pak bos.. dari kemarin kita sudah melakukan perjalanan panjang. terus kita juga belum mandi.. masak langsung berangkat aja.." ujar Dea dengan gamblangnya.


Brian yang mendengar penuturan bawahan Julia itu pun langsung terkekeh. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Ya nggak gitu juga konsepnya Mbak. maksud Brian siap mbak dan yang lainnya mandi. baru kita berangkat hari ini.. begitu.." ujar Brian lagi.


"oh okelah kalau begitu..." akhirnya mereka semua pun siap-siap tanpa menunggu waktu yang lama. mereka tidak boleh menyia-nyiakan waktu yang mereka miliki apalagi Julia juga masih memiliki kesibukan tidak mungkin ia akan meninggalkan restoran dan kuliahnya dalam waktu yang lama.


***


kini mereka semua telah berada di atas mobil travel yang akan mengantarkan mereka ke bandara. sebelumnya juga Julia sudah memesan tiket untuk mereka berlima jadi mereka tidak perlu antri lagi untuk membeli tiket.


tak lama perjalanan berada di atas udara akhirnya pesawat mulai landas di bandara Soekarno Hatta. sesampainya mereka di sana, sambil menunggu barang-barang mereka dikeluarkan Julia langsung menghubungi Kakak pertamanya Raka untuk menjemput mereka berlima di bandara Soekarno Hatta. dan saat itu juga Raka langsung meluncur ke bandara tersebut bersama dengan Ridho dengan membawa masing-masing satu mobil.


"kakak...!!" teriak Julia sambil mengangkat sebelah tangannya mendada ke arah kedua kakaknya. Raka dan Ridho yang melihat kedatangan Julia langsung tersenyum tapi mereka juga sekaligus mengerutkan kening ketika melihat Julia berjalan bersama dengan dua orang yang tidak mereka kenali tetapi yang satunya tentu saja yang pernah diberitakan menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat.


sesampainya juga di hadapan kakak-kakaknya, Julia langsung memeluk kedua kakaknya itu secara bergantian.


"Kak Ridho sama Kak Raka apa kabar..?? Julia kangen banget sama kakak berdua. oh ya Kak kenalin, ini Brian dan mas pejal. sementara Yang dua ini pasti Kakak juga sudah kenal kan..??" ujar Julia lagi.


"dan Kak Brian sama mas pejal kenalkan ini kakak pertama aku Kak Raka dan ini kakak kedua aku Kak Ridho." ujar Julia memperkenalkan Brian dengan kedua kakaknya.


mereka berempat pun bersalaman saling memperkenalkan diri Begitu juga dengan Dea dan Astra yang juga ikut disalami oleh keduanya.


"loh bukannya ini orang yang diberitakan menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat ya dek..?" tanya Ridho kepada Julia.


Julia yang mendengar penuturan Kakak keduanya itu berlangsung menganggukkan kepalanya.


"benarkah dan beruntungnya Kak Brian selamat dari insiden itu. karena dirinya sempat terlempar ke laut ketika badan pesawat mengalami patah. oh ya Kak temenin kita dulu ke rumah Kak brain ya. soalnya kita harus nganterin dia pulang dulu." ujar Julia lagi kepada kedua kakaknya.


"okelah kalau begitu.. tapi setelah itu berarti kamu pulang ke rumah ya dek..??" tanya Ridho lagi berharap adiknya mau ikut bersama dengan mereka.


untuk sesaat Julia malah memilih bungkam. jujur saja yang masih ragu untuk bertemu dengan nyonya Ratih alias mamahnya. tapi akhirnya Julia menganggukkan kepalanya walaupun ragu.


"ba-baiklah kak.." ujar Julia. keduanya pun langsung tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu, Ayo kita jalan." akhirnya mereka semua pun meninggalkan bandara Soekarno Hatta dan menaiki mobil menuju rumah atau kediaman Tuan Herman dan nyonya Sofia.