
Setelah mengatakan hal itu, nyonya Ratih langsung mematikan panggilan dan menyuruh sopirnya Untuk mengantarkan dirinya ke butik. Kini ia tidak jadi ke apartemen Raka untuk bertemu suami dan anak-anaknya. Nyonya Ratih akan melakukan hal itu lain kali.
***
Sementara di apartemen Raka, mereka semua sudah siap dengan barang bawaan dan juga telah rapi. Raka juga tidak memeriksa handphonenya Begitu juga dengan Ridho, jadi mereka tidak tahu bahwa ada beberapa panggilan masuk di HP mereka.
saat ini juga, Mereka akan melakukan penerbangan yang akan dilakukan sebentar lagi. Dengan segera, asisten milik Raka langsung mengantarkan mereka ke bandar udara Soekarno Hatta. Tuan Sanjaya di sana pun masih dengan kondisi semula, namun sudah agak lebih tenang.
Tatapannya kosong seperti tak ada tujuan, namun ia selalu mengikuti ke manapun kedua anak-anaknya membawanya. Mulutnya tak henti-hentinya mengatakan Julia putrinya. Walaupun terdengar lirih namun masih ditangkap oleh indra pendengaran kedua putranya itu.
"Julia putriku..." Ujar Tuan Sanjaya dengan suara pelannya itu. Raka dan Ridho yang duduk di masing-masing kiri dan kanan Tuan Sanjaya menatap ayah mereka dengan penuh prihatin.
"papa sabar ya, sebentar lagi kita akan bertemu dengan Julia." Ujar Raka menenangkan ayahnya. mereka sangat prihatin dengan kondisi tuan Sanjaya. mereka tentu tak sampai hati membiarkan ayah mereka menderita.
Akhirnya pesawat pun diberangkatkan menuju bandar udara Minangkabau. Seperti biasa jarak yang mereka tempuh kurang lebih 2 jam perjalanan udara. Sesampainya mereka di bandar udara Minangkabau, waktu sudah menunjukkan jam 05.00 sore. Dengan segera, Raka langsung menghubungi nomor pamannya. Karena Ia memang tak memiliki nomor Julia yang baru.
di sana Raka baru melihat dan menemukan riwayat panggilan sang ibu yang menelpon mereka berkali-kali.
"mama" ujar Raka dengan suara pelan dan lirih, sehingga Ridho tak mendengarnya.
tapi ternyata, Raka malah mengabaikannya jujur saja ia masih kesal dengan sifat keras kepala yang mamanya miliki. namun tentu Raka Tidak membenci ibunya itu walau bagaimanapun nyonya Ratih tetap menyayangi mereka. Raka pun langsung memanggil nomor telepon sang paman.
Tut
"Assalamualaikum paman, Ini Raka. Saat ini, Raka sudah berada di bandara Minangkabau bersama dengan papa dan Ridho. " Ujar Ridho dalam teleponnya.
Tuan Antonio yang berada di seberang telepon langsung terkejut.
"Eh !! kenapa kalian cepat sekali datang ke sininya nak, Apakah papa kamu baik-baik saja..??" Tanya Tuan Antonio tiba-tiba mencemaskan saudara bungsunya itu.
"Papa di sini bersamaku, papa tidak apa-apa. Justru karena papa histeris makanya saya memaksakan untuk membawa papa bertemu dengan Julia." Ujar Raka lagi dengan suara sayu. Terdengar helaan nafas dari seberang telepon. Tuan Antonio tidak habis pikir, ternyata mereka bergerak dengan cepat untuk bertemu dengan Julia.
"Ya sudah kalau begitu, kalian tunggu di sana dan jangan kemana-mana." Ujar Tuan Antonio kepada keponakannya itu.
"Baik paman." Setelah itu panggilan pun berakhir, Raka dan Ridho beralih mengambil tempat duduk untuk menunggu di sana. Sedang sang papa selalu mereka awasi dengan baik.
Sementara di tempat lain, Tuan Antonio menyampaikan informasi ini kepada Putra pertamanya Arvin untuk menjemput paman dan kedua saudara sepupunya di bandara. Sementara saat ini, Julia masih belum dikasih tahu, kalau ternyata kakaknya itu memutuskan untuk terbang hari ini ke Sumatera barat. Julia saat ini sedang berada di rumah makannya, untuk memantau sedikit kinerja dari karyawannya itu.
"Maksudnya bagaimana pah..??" Tanya Arvin pada Tuan Antonio.
"Tidak ada maksud apa-apa, sekarang ayo kamu ke bandara dan jemput paman serta kedua saudara sepupu mu. Paman kamu Sanjaya dan kedua sepupumu nekat datang ke Sumatera untuk bertemu dengan Julia. Tapi jangan kasih tahu adikmu dulu. Ayo sana, mereka sudah menunggu nak." Ujar Tuan Antonio lagi kepada putranya.
"iya pa, sabar.. tenang. yaudah.. kami berangkat." ujar Arvin lagi.
Akhirnya Arvin dengan ditemani oleh Abi, langsung mengambil kunci mobil yang sengaja ditinggalkan oleh Julia agar paman dan kakak-kakaknya bisa menggunakannya.
Sementara ia sendiri, berangkat ke rumah makan dengan mengendarai motornya. Tentu saja motor itu adalah pemberian dari keluarga sang paman. Selama 30 menit menempuh perjalanan dengan kecepatan di atas rata-rata, akhirnya Arvin dan Abi sampai di bandara Minangkabau.
Sesampainya mereka di sana, mereka langsung bergegas masuk dan menuju tempat di mana para penumpang menunggu jemputan ataupun lainnya. Ternyata benar, sesampainya mereka di sana, Mereka melihat Raka dan Ridho serta Tuan Sanjaya seperti orang hilang dan tak terurus. Terlebih penampilan Tuan Sanjaya yang biasanya glamour, Tapi kini tidak ada lagi. Mereka berdua pun buru-buru mendekat ke arah ketiganya.
"Raka/ mas" panggil Arvin dan Abi secara bersamaan.
Raka dan Ridho pun langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah sumber suara. Di sana terlihat Arvin dan Abi sedang berjalan tergesa-gesa menuju ke arah mereka. Melihat kedatangan kedua sepupunya, Raka pun beranjak dari posisi tempat duduknya itu.
"Mas Arvin, Abi." Panggil Raka seolah tidak percaya.
Bukankah kedua saudara sepupunya ini sedang sibuk mengurusi kuliah dan juga perusahaan mereka. Tapi kenapa keduanya malah berada di Sumatera barat. namun raga tidak merasa cemburu dengan keduanya. Raka tahu, bahwa Julia lebih sayang kepada keluarga pamannya ketimbang mereka karena mereka memperlakukan Julia dengan baik.
"Kalian sudah lama menunggu..?? Astaga !!kenapa tidak bilang dari awal, agar kami bisa berada di sini lebih awal. Ya sudah ayo Paman, Ayo arvin bantu jalan." Ujar Arvin kepada pamannya yang masih dengan tatapan kosongnya.
Seolah-olah hidup Tuan Sanjaya tak bergairah sama sekali. Ini semua adalah efek karena siksa batin yang dialaminya. Mungkin Tuan Sanjaya pikir, ia akan kuat membiarkan Putri tengahnya itu pergi dari kehidupan mereka, ternyata tidak.
Sejahat jahatnya dirinya kepada sang anak, seorang ayah pasti tidak akan tega membiarkan putrinya jauh dari rangkulannya. Dan inilah yang terjadi sekarang. Mereka semua berjalan menuju arah mobil Julia, Mereka pun semuanya masuk kini yang duduk di depan bersama dengan sopirnya adalah Raka, bukan lagi abi.
"Mas, Di sini juga..??" Tanya Raka kepada Arvin.
Arvin pun menganggukkan kepalanya, tapi tidak menjawab. Ia malah fokus menjalankan mobilnya untuk menuju tujuan mereka. Seperti biasa perjalanan yang mereka tempuh sekitar beberapa menit, akhirnya mereka sampai di kediaman Julia yang memang tidak sebesar mention mereka. Namun sudah lumayan besar untuk menampung mereka di sana.
"Ayo turun.." ujar Arvin lagi sambil membukakan pintu belakang untuk membantu adik-adiknya memapah Paman mereka.
Arvin sendiri sangat prihatin melihat kondisi pamannya seperti itu. Ia tidak bisa berkata-kata, dirinya hanya bisa berdoa agar pertemuan mereka tidak sia-sia dan pamannya bisa sadar. bahwa Begitu pentingnya Julia dalam hidup mereka.