JULIA

JULIA
94. papa tinggal disini sementara



"Itulah yang terbaik untuk papa. Papa depresi karena permasalahan yang ada di rumah tangga. ditambah lagi, papa merindukan dirimu dan juga merasa bersalah dengan kepergianmu. Jadi, setelah Kakak mendapatkan informasi keberadaanmu sekarang, kakak langsung berinisiatif dan mengajak papa juga ikut serta. Sekarang kamu lihat kan, papa dapat mengenalimu dengan cepat, Bahkan tak lagi melayangkan tatapan kosong disorot matanya. Papa merindukanmu dan begitu pula kami." Ujar Kakak lagi kepada adiknya itu. Julia pun tersenyum mendengar penuturan kakaknya, Ia pun langsung kembali memeluk tubuh ayahnya dengan erat.


"Kalau begitu, tinggallah di sini bersama Julia beberapa waktu. Nanti kalau papa sudah sembuh, papa boleh pulang kembali." Ujar Julia kepada tuan Sanjaya.


Tuan Sanjaya yang memang masih lemah itu pun tersenyum mendengar penuturan putrinya. Tentu saja ini merupakan solusi yang baik, ia akan memilih untuk menetap sementara di sini sambil menenangkan pikirannya sebelum ia memperbaiki hubungannya dengan sang istri.


"Ya sudah kalau begitu, sudahi sedih-sedihnya. Sekarang, Julia sebaiknya kamu pergi mandi bersihkan dirimu nak." Ucap nyonya Salsa kepada keponakan suaminya itu.


Julia yang mendengarkan ucapan nanya Salsa langsung menghapus air matanya, Begitu juga dengan air mata ayahnya. Julia juga dengan senang hati membantu memapah ayahnya untuk duduk di atas sofa.


"Kalau begitu, Julia bersih-bersih dulu ya bi. Oh ya Kak, nanti kalau ada yang mengantar makanan ambil saja." Ujar Julia lagi berpesan kepada kakak-kakaknya yang ada di sana.


Mereka semua pun langsung mengangkat jari mereka dengan gaya yang berbeda-beda. Julia pun tersenyum dan langsung bergegas naik ke atas menuju kamarnya untuk bersih-bersih. Sementara kondisi Tuan Sanjaya masih sama seperti semula, Ia tadi sempat mencegah putrinya pergi karena berpikir Julia pasti akan meninggalkannya lagi. namun setelah dijelaskan oleh Raka akhirnya Tuan Sanjaya mengizinkannya. walaupun kondisi masih belum pulih, namun kini tatapannya tidak lagi menyiratkan kekosongan melainkan tatapan penuh dengan kebahagiaan karena telah bertemu dengan putrinya.


Ia juga berjanji dan bertekad dalam hatinya tidak akan membiarkan Putri tengahnya ini kembali terlunta-lunta dan terasing dalam keluarganya. Namun Tuan Sanjaya juga tidak akan memaksa putrinya apabila Sang Putri memiliki keinginan lain.


Ting tong ting tong


Terdengar suara bel dari rumah itu, sepertinya orang yang diutus Julia Untuk mengantarkan makanan sudah datang. Dengan segera Abi beranjak dari posisi tempat duduknya dan menuju pintu.


Ceklek


"Selamat malam mas.. Apakah ada ibu Julia.. saya karyawan rumah makan yang dimintai tolong oleh beliau Untuk mengantarkan makanan ke rumah ini." Ujar karyawan rumah makan itu dengan penuh kesopanan. Abi terdiam namun tersenyum, ia langsung merogoh sakunya.


"Iya saya kakaknya. Terima kasih sudah mengantar ya mas dan ini tips untuk mas." Ujar Abi menyodorkan uang rp100.000 di tangan itu kepada karyawan tersebut. Karyawan laki-laki yang melihat uang rp100.000 langsung menolaknya dengan halus.


"Tidak apa-apa mas, Saya memang mengantarkan makanan ini atas perintah beliau." Ujar karyawan tersebut.


Namun Abi tidak mau tahu. Abi langsung meletakkan uang 100.000 itu di dalam saku baju karyawan tersebut. Karyawan itu pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengucapkan terima kasih.


"Kalau begitu, terima kasih mas.. semoga rezeki mas berkah dan lancar mas, mari mas saya pamit.." ujar karyawan laki-laki itu.


Setelah itu, Abi langsung berlalu masuk ke dalam rumah, Ia juga langsung pergi menuju dapur. Abi dengan tangannya sendiri Langsung memindahkan makanan-makanan itu ke dalam piring masing-masing. Beserta nasi yang dibungkus dan juga sambal-sambalnya yang dipisah.


Karena Julia tidak menstok makanan di rumah, makanya Julia juga tak mengizinkan bibinya untuk memasak. Setelah itu, Abi duduk di sana untuk menunggu kedatangan keluarnya. lagi pula, makanan-makanan itu tidak bisa di tinggal, bisa-bisa dimakan kucing. sementara yang lain masih duduk di ruang tamu. Tak menunggu waktu yang lama akhirnya Julia turun bergabung dengan mereka semua.


"Kamu sudah turun dek.. makanannya sudah datang.." ujar Arvin kepada adiknya. Julia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada saudara sepupunya itu.


"Ya sudah tunggu apa lagi.. Ayo kita makan.." ujar Julia kepada keluarganya itu.


Akhirnya mereka semua berjalan menuju meja makan di mana Abi telah berada di sana sejak tadi untuk menjaga makanan itu agar tidak dimakan kucing. Sementara Julia berjalan sambil menggandeng lengan Tuan Sanjaya. Mereka pun juga duduk berdekatan. Julia sangat merasa senang hari ini, karena ia dapat bertemu dengan papa dan kakak-kakak kandungnya walaupun tidak lengkap.


Dengan telaten, Julia membuka bungkus nasi untuk tuan Sanjaya. Sementara, tuan Sanjaya terus memandangi wajah Putri nya itu. Seolah semua yang dialaminya saat ini adalah mimpi. Sesekali tuan Sanjaya akan tersenyum dan kadang kadang juga menangis. Julia yang menangkap tatapan sang papa yang berubah-ubah. Akhirnya Tersenyum. Ia tau, kalau tuan Sanjaya pasti sedang memikirkan semua hal yang pernah ia lakukan dulu untuk menyakiti hati putrinya itu.


"Pa. Papa kenapa lihatin Julia seperti itu..?? Apa Julia sekarang jelek ya.." ujar Julia sambil memasang wajah cemberut. Tuan Sanjaya terkekeh mendengar penuturan putrinya itu.


"Julia putriku.." ujar tuan Sanjaya lagi dengan penuh haru.


Untuk sementara, tuan Sanjaya memang hanya bersuara memanggil nama Putri nya saja. Seolah, hidup nya akan hancur ketika ia tidak melihat putrinya itu. Julia pun tersenyum lagi.


"Iya papa. Ini Julia putri cantik papa." Ujar Julia menggoda tuan Sanjaya itu. Tuan Sanjaya dan semua orang yang ada di sana juga ikut tersenyum.


"Paman jangan terus memandangi Putri Paman seperti itu. Kalau terus dipandang-pandang nanti juliannya jadi berpindah." Ujar Abi kepada tuan Sanjaya. Tapi Tuan Sanjaya memang tak mengubris orang lain selain putrinya. Mereka terkekeh mendengar ucapan konyol Abi.


"Memangnya Julia kucing yang baru melahirkan, di mana kalau terus dipandang-pandang oleh kita akan langsung dipindahkan oleh induknya ke tempat lain." Timpal Melvin menimpali candaan adiknya. Mereka semua pun kembali terkekeh. Termasuk Julia.


"Ya sudah ya sudah, hentikan berdebatnya. Lebih baik sekarang kita makan malam mumpung makanannya juga masih hangat." Ujar Tuan Antonio kepada anak-anaknya itu. Mereka semua pun menurut dan langsung menyantap makanan mereka.


"Maaf ya Paman, bibi, kakak semuanya, untuk sementara Julia hanya bisa memberikan nasi bungkus saja. nanti besok insya Allah Julia akan pergi belanja ke pasar. Soalnya Julia tidak menyimpan stok di rumah." Ujar Julia kepada Paman bibi dan kakak-kakaknya itu. Mereka semua pun mengganggu anggukan kepala.


"Tidak apa-apa dek, kalau makanannya tiap hari seenak ini mending Tidak usah masak aja hehehe.." ujar Arvin sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.