
Masih dibandara Incheon, saat ini tampak Shi Woon yang tengah duduk tak berdaya di kursi tunggu. Entah ada apa dengannya, namun ia berada ditempatnya sekarang karena masih berharap Emily akan kembali.
" Kembalilah, disaat itu aku tidak akan melepaskanmu. Kembalilah, dan aku akan menjadi orang pertama yang menunggumu dibandara." gumamnya dengan wajah sendu.
...🌸🌸🌸...
Hunian Myeongdong, Seoul.
Ceklek.
Keluar dari rumah dengan tergesa-gesa, tampak Oya kini yang begitu khawatir bila dirinya terlambat sampai dirumah sakit. Tak henti-hentinya ia juga melirik jam dipergelangan tangannya seraya menuruni satu demi satu anak tangga. Hingga tiba dipenghujung tangga, ia terkejut saat mendapati sosok Shin Ho yang tengah berdiri dihadapannya.
" Kau... apa yang kau lakukan disini?" kedua mata Oya membulat, menatap intens wajah tampan Shin Ho.
" Aku menunggumu. Ayo, kita pergi bersama." seru Shin Ho sembari menyunggingkan senyum tipisnya.
" Ah, kurasa tidak perlu. Aku akan naik bus saja." tolak Oya dengan cepat.
" Naik bus?" Shin Ho melirik jam dipergelangan tangannya. "Kurasa kau tidak akan mendapatkan bus dengan jalur rumah sakit jika jam seperti ini. Kau harus menunggu tiga puluh menit lagi. Bagaimana? Kau mau naik bus atau pergi bersamaku?" tambahnya.
Mendengar ucapan Shin Ho, Oya terdiam sejenak. Setelahnya ia mengangguk saat tak ada pilihan lain selain mengikuti saran pria gagah itu.
****
Disepanjang perjalanan, Shin Ho dan Oya saling terdiam. Keduanya sama-sama merasa gugup hingga tak terpikirkan topik pembicaraan apapun.
Ehem..
Menarik diri dari keterdiamannya, Shin Ho berdehem untuk menetralkan perasaannya. Ia sesekali melirik pada wanita cantik disampingnya yang duduk tak bergeming sejak tadi.
" Maaf.. aku minta maaf." ucapnya tiba-tiba membuat Oya sontak menoleh dan menatap heran.
" Untuk apa?"
" Aku terlalu terburu-buru menyatakan perasaanku. Aku minta maaf jika perkataanku semalam membuatmu tidak nyaman." tutur Shin Ho membagi fokus dengan kemudinya.
" Ah.. tidak masalah." jawab Oya seadanya.
" Baiklah... jika hal ini masih mengganggumu, maka lupakan saja. Lupakan semua yang kukatakan semalam." Shin Ho menoleh sekilas pada Oya dengan memperlihatkan senyum tipisnya.
Oya termangu, bibirnya terkatup rapat tak menanggapi ucapan Shin Ho hingga selang beberapa saat mereka kini sudah sampai dirumah sakit.
Membuka seatbelt, Oya hendak keluar dari mobil Shin Ho namun entah mengapa gadis itu berdiam diri sesaat.
" S.. Shin Ho.." panggil Oya dengan terbata-bata.
" Mari berkencan."
Deg.
Shin Ho terkejut, pria itu tak menyangka bahwa Oya akan mengatakan hal yang menurutnya mustahil. Sepersekian detik kemudian, Shin Ho mengulum senyumnya. Sementara Oya, ia merasa sangat gugup setelah menyatakan jawabannya.
Merasa tak sanggup berlama-lama disamping Shin Ho, Oya pun segera keluar dari mobil namun seketika pria tampan itu menarik tangannya hingga kembali duduk ditempat semula. Tak sampai situ, tanpa aba-aba Shin Ho juga melabuhkan ciuman singkat dipipinya hingga membuatnya mematung sesaat.
" Sampai nanti, aku akan menjemputmu." seru Shin Ho setelahnya. Oya tersadar, dan segera beranjak.
...🌸🌸🌸...
Tak terasa kini tiba dipergantian waktu, sore hari menyapa. Tampak saat ini Oya yang tengah bersama Shin Ho dipinggir sungai Han, duduk bersama dibangku seraya menikmati ramyeon panas.
" Aku baru pertama kali makan ramyeon ditempat ini." ujar Shin Ho menghentikan kegiatan makannya. Ia memandangi sungai Han didepan sana, dan kemudian beralih menatap pada Oya.
" Benarkah?" Oya menanggapi seadanya, tanpa menghentikan kegiatan makannya.
Shin Ho hanya mengangguk, namun diam-diam dirinya mengulum senyum saat melihat sikap Oya. "Dari mana kau mendapat ide kencan kita, makan ramyeon ditempat ini."
" Aku hanya berfikir kalau sebuah kencan tidak harus dilakukan di tempat mewah atau semacamnya." jawab Oya.
Keduanya lalu kembali makan ramyeon lagi sembari menikmati suasana disungai Han yang lumayan ramai.
Namun tak jauh dari mereka, tampak sepasang kekasih yang terlihat tengah merayakan anniversari dengan sangat romantis, seketika senyum Shin Ho pun terukir.
" Mereka romantis sekali." puji Shin Ho yang tak melepaskan pandangannya dari sepasang kekasih itu.
" Cih, menurutku biasa saja." sahut Oya dengan santai dan kembali menikmati ramyeon miliknya.
" Itu karena mungkin kau belum merasakan punya pacar." seru Shin Ho beralih dan menatap Oya dengan tatapan dalamnya.
" Kau sendiri, kau juga belum punya pacar." celetuk Oya memukul mental Shin Ho.
" Kau benar. Dari dulu aku memikirkan, bagaimana jika aku punya pacar nanti. Haruskah aku juga merayakan hari valentine dengannya, dan merayakan ulang tahun bersamanya." Shin Ho larut dalam pikirannya, sesaat kemudian tiba-tiba tersenyum tipis.
" Kenapa kau mengatakan itu, apa kau tidak pernah merayakan ulang tahun?" tanya Oya.
" Humm.. aku tidak pernah melakukan hal seperti itu karena menurutku itu hanya membuang waktu saja."
Pernyataan Shin Ho sontak membuat Oya tertegun. Wanita cantik itu menghentikan kegiatannya, dan tercenung sesaat.