
Ceklek.
" Aku pulang." ucap Oya setengah berteriak seraya masuk kedalam rumah. Ia mengedarkan pandangannya saat tiba diruang tamu yang tampak sepi.
" Kakak sudah pulang." tak lama terdengar suara Emily menyahut, dan baru saja keluar dari dalam bathroom dengan setelan piaya berwarna grey dan handuk yang menggantung dipundak.
" Humm.." balas Oya seadanya dan segera berlalu ke kamarnya.
" Kakak dari mana?"
Oya seketika mematung ditempat saat mendengar pertanyaan adiknya. Ia sejujurnya malu jika mengatakan baru saja pulang berkencan dengan Hong Sik sebab selama ini yang diketahui adiknya adalah ia tak memiliki seseorang yang istimewa.
" Aku.. " Oya berfikir sejenak.
" Apa jangan-jangan Kakak..." Emily mendahului Oya, membuat Kakaknya sontak salah tingkah.
" Jadi benar? Apa itu benar, Kak?" Emily kembali bersuara. Ia tampak antusias menghampiri sang kakak.
" Tidak, aku bisa jelaskan, Emily. Jangan salah paham."
Pikiran Oya kalang kabut, ia berusaha menyusun kalimat untuk dijelaskan pada Emily.
" Aish, Kakak ini... aku seperti orang lain saja sampai tidak diberi tau soal ujian besok." cerocos Emily lagi.
" Hah?" Oya menautkan kedua alisnya seraya menatap bingung pada sang adik. " Maksudmu?"
" Apa maksud Kakak? Bukankah Kakak pulang larut malam karena mempelajari soal penting yang akan masuk diujian besok?" tutur Emily.
Mendengar ucapan Emily, Oya langsung bernafas lega dan menampilkan senyum terbaiknya.
" Iya, kau benar.. aku lambat pulang karena belajar diperpustakaan." seru Oya bersikap santai.
" Baiklah, aku istirahat dulu." tambahnya segera berlalu.
" Tunggu."
" Ada apa?" Oya menoleh pada adiknya.
" Aku kehabisan pembalut, apa aku bisa pinjam punya Kakak?" ucap Emily.
" Ishh, tidak biasanya dia seperti itu." celetuk Emily dan juga masuk kedalam kamarnya karena ingin bersiap-siap ke mini market.
...🌸🌸🌸...
Kediaman Choi.
Hunian megah Choi Sun, malam ini kedatangan seseorang yang tak lain adalah putra bungsu Tuan Choi— Choi Shi Woon.
Pria muda berkulit putih dengan tinggi badan yang ideal, melangkah masuk kedalam rumah dan langsung disambut oleh pelayan.
Satu pelayan wanita yang sudah berdiri disisinya, dengan cekatan mengambil jaket overcoat si Tuan muda.
" Dimana Ayahku?" tanyanya kepada wanita dewasa yang melayaninya, membantunya melepas sepatu dan menggantinya dengan sendal rumahan.
" Tuan besar ada diruang baca. Sudah sejak tadi menunggu, Tuan muda." jawab pelayan itu dengan menundukkan kepala.
" Baiklah, terima kasih." ujar Shi Woon dan segera menemui Ayahnya.
****
Tok. Tok. Tok.
" Masuk! "
Shi Woon segera masuk kedalam ruang privat Ayahnya saat mendengar siempunya ruangan mempersilahkan.
" Ada apa, kenapa Ayah memanggilku?" Shi Woon yang tak ingin berbasa-basi segera menyambar serentetan kata pada Ayahnya. Ia bahkan belum duduk, dan masih berdiri sembari menatap Ayahnya dengan sangat datar.
Hening menyapa, Tuan Choi yang tengah duduk dikursi kebesarannya tak menyahut sama sekali, dan justru terlihat asik membersihkan piala penghargaannya sebagai pengusaha tersukses.
Melihat itu, Shi Woon pun dibuat kesal. Helaan nafas kasar terdengar jelas dari pria gagah itu yang kini berkacak pinggang.
" Sepertinya Ayah sibuk, lalu kenapa memanggilku kemari." ucapnya dengan malas.
" Kau sangat lambat datang." suara berat Tuan Choi terdengar begitu dingin. Ia meletakkan piala penghargaannya diatas meja dan menatap nanar pada putra tampannya.