
" Aku rasa.. aku mengenal dia sebelumnya. Aku ingin bicara berdua dengannya dirumahku." tambah Shi Woon tersenyum pada Emily.
" Yeah, baiklah. Silahkan." Emily yang tak tahu menahu hanya bisa tersenyum kikuk saat merasa suasana sangat menegangkan.
" Ah, aku tidak tau siapa namamu, jadi kurasa kita perlu berkenalan.. dirumahku saja." tutur Shi Woon pada Hong Sik.
" Baiklah.. aku menunggumu diluar." seru Hong Sik dan segera keluar.
" Ada apa? Apa kalian..."
" Kau tau kan bahwa Shin Ho menyukaimu?"
Deg.
Ucapan Emily menggantung, semula menunjukkan ekspresi wajah bingung, kini berganti terkejut. Ia tertegun, membeku ditempat saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Shi Woon.
Berbeda dengan Oya yang sejak tadi hanya menjadi pendengar dibalik posisi tidurnya dengan kedua mata yang terpejam. Ingin rasanya ia bangun dan menanyakan dengan jelas apa yang baru didengarnya.
" Kenapa.. kenapa kau bertanya seperti itu?" Emily menatap intens wajah kekasihnya, ia merasa heran karena pria didepannya tiba-tiba mengajukan tanya seperti itu.
" Kau tau Shin Ho menyukaimu?" kembali Shi Woon bertanya tanpa menjawab pertanyaan Emily sebelumnya.
" Humm.. " Emily menjeda, memalingkan wajah karena tak ingin bersitatap dengan Shi Woon.
" Aku sudah tau. Aku sudah lama mengetahuinya." tutur Emily membuat Shi Woon seketika bungkam.
" Ternyata.. kau datang untuk adikku. Kenapa tidak kau biarkan aku jatuh cinta padamu dulu sebelum mengetahui kenyataan ini. Jika aku jatuh sebelum mengetahuinya.. setidaknya setelah aku tau, aku tidak akan merasa sesakit ini karena mengingat kenangan saat mencintaimu mungkin sangat indah, dan mampu mengurangi rasa sakitnya."
Oya bergumam didalam hatinya hingga tanpa sadar air matanya menetes membuat Emily terkejut. Namun gadis itu dengan sigap menyeka air mata sang kakak sebelum Shi Woon melihatnya.
" Aku akan pergi. Jaga saja kakakmu.. dan mulai besok sebaiknya kau cari pekerja paruh waktu untuk menemanimu." ujar Shi Woon sebelum berlalu keluar.
...🌸🌸🌸...
Disebuah ruang tamu bergaya klasik modern. Dengan perpaduan warna cat silver dan hitam, membuat ruangan itu terlihat lebih elegant dan memiliki kesan tersendiri.
Tampak kini Shi Woon dan Hong Sik yang duduk disofa dan saling berhadapan dengan meja kaca yang menjadi penghalang mereka.
" Apa dia wanita yang kau sukai?" tanya Hong Sik, bersandar pada sofa seraya melipat tangan didepan dada.
" Apa yang kau lakukan disini?" Shi Woon mengalihkan pembicaraan, dan justru balik bertanya. Pandangannya intens, menatap pada kakaknya yang terlihat berbeda. Biasanya sang kakak sangat dingin padanya dan selalu memperlihatkan raut wajah datar, namun kali ini berbeda karena Hong Sik terlihat biasa saja. Seolah tembok yang dahulu menjadi penghalang kedekatan mereka menghilang begitu saja.
Tak memberi jawaban pada adiknya, Hong Sik memilih berdiri dari duduknya dan mengedarkan pandangannya, melihat-lihat isi rumah Shi Woon yang terlihat begitu rapi meski tak ada wanita yang tinggal dengan adiknya.
" Aku menyukai kakak pacarmu." tutur Hong Sik sembari melangkah mendekat pada sebuah lukisan bunga dengan bingkai besar.
" Bukankah ini bunga yang sering Ibu pajang dikamarnya?" tanya Hong Sik memandangi lukisan bunga itu.