
" Bukankah dia wanita yang bersama Dokter Woon seharian?"
" Iya, sepertinya itu dia."
" Wah, apakah dia benar-benar berkencan dengan Dokter Woon?"
" Cih, dia pasti hanya mengincar keluarga konglomerat seperti keluarga Choi untuk menumpang tenar karena dia kan hanya pendatang di Korea."
" Benarkah? Apa dia dari luar negeri?"
" Lihat saja wajahnya, sangat biasa. Dia tidak akan cocok bersanding dengan Dokter Woon."
Berbagai caci-makian dan cibiran kembali menyambut Emily yang melangkah masuk kedalam rumah sakit ternama Choi Sun.
Wanita dengan setelan modis itu seketika merasa canggung saat semua pasang mata hanya melihatnya saja. Apalagi banyak suara yang begitu merendahkannya saat ini, sungguh membuat semangatnya down.
Jika tadi didalam bus ia mampu mengontrol diri, kini seakan tak sanggup lagi. Ia benar-benar membutuhkan Shi Woon, menumpahkan tangisnya dalam pelukan pria itu.
" S A Y A N G!"
Suara yang begitu familiar, terdengar sangat maskulin, membuat Emily dan semua para perawat dan pasien yang tadi menggunjing sontak berbalik ke arah sumber suara.
Mereka semua tersentak saat melihat siapa pemilik suara itu yang tak lain adalah Shi Woon, pria yang sejak pagi tadi menjadi pembahasan diseluruh rumah sakit, dan bahkan seluruh seoul.
" Wah, mereka benar-benar berkencan."
" Apa aku tidak salah dengar, Dokter Woon memanggilnya dengan sangat romantis."
" Walau mereka berkencan, aku tidak menyukai wanita itu. Dia sangat murahan dengan mendekati Dokter Woon."
" Iya, dia juga tidak serasi."
Cibiran dari para perawat-perawat semakin panas. Namun Shi Woon tetap tak memperdulikannya meski sejujurnya ia sudah mendengarnya sejak tiba dirumah sakit pagi tadi.
Ya, Shi Woon baru mengetahui rumor kencannya beberapa saat lalu. Dimana dirinya baru saja kembali dari ruang operasi. Shin Ho— sahabatnya, pria itulah yang memberitahunya melalui panggilan telfon.
****
" Apa kau sudah lama datang?" tanya Shi Woon yang kini berdiri dihadapan kekasihnya. Ia langsung meraih paper bag itu dan membuka isinya.
" Humm, ini sangat harum." tambahnya dengan binar bahagia. Shi Woon terlihat santai, ia bersikap seolah-olah tak terjadi apapun disekitarnya padahal semua pasang mata terus memandang padanya dan juga sang kekasih.
" Aku harus pergi. Nikmatilah rotimu."
Setelah terdiam cukup lama, Emily akhirnya bersuara. Tatapannya kosong, kedua matanya tampak berkaca-kaca. Saat ini ia tentu tak baik-baik saja, pikirannya kacau terlebih lagi kedatangannya disambut dengan berbagai sinisan dari orang yang tidak dikenalnya.
" Tetaplah disini."
Deg.
Disaat Emily hendak hengkang, tiba-tiba saja Shi Woon dengan begitu santainya langsung meraih tangannya hingga membuatnya berada dalam pelukan pria tampan itu.
" Aku tau kau tidak baik-baik saja.. untuk itu jangan pergi. Mereka tidak boleh melihatmu menangis."
Shi Woon sangat mengerti apa yang saat ini dirasakan kekasihnya. Dan ia tau cara terbaik agar wanita yang dicintainya tak menanggung malu dihadapan banyak orang.
" Mereka tidak menyukaiku." gelombang suara Emily tampak bergetar, berusaha menahan tangisnya.
" Tidak apa-apa, yang terpenting aku menyukaimu." hibur Shi Woon mengelus lembut rambut hitam kekasihnya.
" Cih, mereka sangat berlebihan."
" Wanita itu terlihat sangat menggoda Dokter Woon."
Masih terdengar sepintas cibiran dari beberapa orang sebelum semuanya kembali beraktivitas seperti biasa.
Sementara Shi Woon, ia segera mengurai pelukannya saat merasa situasi sudah mulai membaik.
" Pulanglah, aku akan menemui saat aku selesai disini." ujar Shi Woon memperlihatkan senyuman manisnya.
" Baiklah." Emily memaksakan senyumnya agar prianya tidak merasa khawatir lagi. Setelah itu ia pun segera berlalu sebelum mendengar cerita orang-orang yang sangat tidak menyukainya.