
Ingin mengabaikan apa yang dilihatnya, namun hati Oya seolah terpanggil saat ponsel itu kembali berdering. Hingga mau tak mau dirinya segera menjawab panggilan di ponsel Emily.
" Ada apa?" tanya Oya.
" Oh, kau yang mengangkatnya." tutur Shin Ho.
" Humm. Adikku sedang di kamar mandi, jadi aku yang menjawabnya. Ada apa?" jelas Oya seadanya.
" Shi Woon.. dia mabuk. Bisakah Emily datang menjemputnya, karena Shi Woon sejak tadi menyebut nama Emily." pinta Shin Ho.
Oya menautkan kedua alisnya saat mendengar permintaan pria diseberang telfon. "Kenapa adikku harus menjemputnya, memangnya dia siapa. Ini juga sudah tengah malam."
" Oh, maaf. Aku pikir kau sudah tau kalau mereka berpacaran." ujar Shin Ho merasa tak enak.
Sedangkan Oya, wanita itu seketika terkejut.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Emily yang baru saja usai membersihkan diri.
" Kau berpacaran dengan Dokter Woon?" tanya Oya langsung menjauhkan ponsel dari telinganya.
" Astaga, aku lupa memberitahu kakak." Emily menepuk keningnya, dan tersenyum kikuk.
" Oh, darimana kakak tau." tanya Emily kemudian saat menyadari sesuatu.
" Ini, Shin Ho menelfon. Dia menyuruhmu menjemput Dokter Woon yang katanya mabuk." terang Oya, memberikan ponsel adiknya.
Panggilan telfon itu masih terhubung, membuat Shin Ho diseberang sana mendengarkan percakapan kakak beradik itu. Diam-diam Shin Ho mengulum senyum, merasa lucu pada sikap Oya.
****
Menenteng jaket cokelat itu ditangannya, Emily buru-buru keluar kamar dan segera menuju pintu utama.
" Ya, Kakak mau kemana?" tanya Emily saat mendapati kakaknya didepan pintu yang juga hendak keluar.
" Aku ingin membuang sampah." jawab Oya.
" Emily, kau yakin sudah menyisir rambutmu?" tanya Oya yang menyadari tampilan adiknya.
" Aku tidak menyisirnya. Tidak sempat, lagipula ini sudah malam, pasti tidak kentara." cerocos Emily sembari memakai sepatunya.
Setelah itu dia langsung menggeser tubuh kakaknya yang tengah berdiri didepan pintu.
" Hei, jangan pulang tengah malam." teriak Oya melihat adiknya yang menuruni tangga dengan cepat.
" Eh, inikan sudah tengah malam." ralatnya menyadari ucapan sendiri. Ia pun hanya menggeleng dan segera menyusul, hendak membuang sampah.
****
Disaat Emily sudah menjauh dari rumah, selang beberapa detik sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat didepan hunian bertingkat itu. Tak lama beberapa pria berbadan kekar mengeluarkan seorang lelaki gagah yang tak lain adalah Hong Sik. Mereka langsung membuang Hong Sik begitu saja, seakan menyingkirkan sebuah sampah dari dalam mobil
Perlakuan mereka tentu tak sengaja didapati oleh Oya yang baru saja menjejaki kaki ditanah.
Oya terbelalak, dirinya tercengang saat menajamkan penglihatannya karena yang ditangkap matanya adalah sosok Hong Sik yang terluka disekujur tubuh. Dirinya yang belum sempat membuang sampah langsung berlari dan menghampiri Hong Sik yang terkapar ditanah. Sementara para penjahat tadi sudah berlalu mengendarai mobil dengan kecepatan diatas rata-rata.
" Hong Sik, kau tidak apa-apa." panik Oya menanyai pria tampan itu yang terluka disekujur tubuh, namun anehnya wajah Hong Sik tak memar sama sekali.
Hong Sik yang setengah sadar tak menjawab hingga membuat Oya semakin panik.
" Bangunlah, kita tidak boleh disini. Nanti mereka kembali." Oya mengerahkan seluruh tenaganya, membantu Hong Sik untuk bangun.