
Tak terasa kini keduanya sudah tiba dihunian myeongdong. Namun Shin Ho justru tak menurunkan Oya dan hendak melangkah menapaki anak tangga.
" Yakk, kau mau apa? Turunkan saja aku disini." celetuk Oya yang terlihat panik.
Mendengar suara Oya yang terasa memekak ditelinga, Shin Ho sontak tersadar dan segera menurunkan Oya.
" Maafkan aku.. aku hanya ingin memastikan kau sampai dirumah tanpa merasakan sakit dikakimu." Shin Ho tersenyum kikuk, tiba-tiba ia merasa canggung didekat Oya.
" Baiklah, tidak perlu minta maaf. Oh terima kasih sudah mengantarku." ucap Oya tanpa menatap lawan bicaranya.
" Aku naik dulu." tambahnya hendak berlalu.
" Oya.."
Panggilan lembut Shin Ho membuat Oya terdiam ditempatnya semula. Ia menoleh, memandangi pria gagah itu.
" Ada apa, kau ingin mengatakan sesuatu?" tanyanya yang melihat Shin Ho tak kunjung berbicara.
" Aku menyukaimu."
Deg.
Seketika Oya membeku ditempat saat Shin Ho tiba-tiba menyatakan perasaan.
" Aku menyukaimu, Oya." kembali Shin Ho mengulangi kalimat yang sama untuk memperjelas tujuannya membuat Oya tinggal lebih lama disisinya. Sedangkan Oya, ia tak mampu berucap setelah mendengar pengakuan pria didepannya. Pikiran membeku dan jantung pun kian bertalu-talu.
" Kau tau.. aku pernah menyukai seseorang. Dia cinta pertamaku, tapi aku tidak pernah mengatakan menyukainya meski kami biasa menghabiskan waktu bersama. Dari sana aku belajar, mungkin keterlambatanku mengatakan kalimat itu sehingga aku kehilangan dia. Itu sebabnya ku katakan aku menyukaimu walau kau tidak menyukaiku dan mungkin menyukai orang lain." jelas Shin Ho.
Serentetan kata itu terasa pilu didengar. Seketika mata Oya berkaca-kaca, tak tau harus mengatakan apa.
" Siapa dia.. siapa wanita yang menjadi cinta pertamamu" Oya melempar tanya hingga sukses membungkam Shin Ho. Wajahnya datar, mengamati rupa pria gagah itu.
Hening menyapa, keduanya terdiam dan saling menatap satu sama lain.
" Dia hanya wanita dari masa lalu yang sudah kulupakan." jelas Shin Ho dengan jujur, tanpa ada keraguan disetiap nada bicaranya.
" Tidak.. aku mengatakannya bukan karena ingin jawaban. Aku hanya mengatakannya untuk diriku, agar tidak menyesal lagi." Shin Ho menampilkan senyum terbaiknya.
" Ah.. meski begitu aku tetap menanti jawaban dari wanita yang mungkin akan menjadi masa depanku." tambahnya.
Oya tertegun, ia tak tau harus bagaimana lagi membalas penuturan Shin Ho yang seakan tulus untuknya.
Sesaat setelahnya, Oya melarikan diri begitu saja tanpa memberi kejelasan pada Shin Ho, membuat pria tampan itu diam kebingungan.
" Apa dia baru saja menolakku?" gumamnya memandangi Oya yang menaiki anak tangga.
****
Disatu sisi, kini Oya sudah berada didalam rumah. Wanita cantik berambut sebahu itu menghambur pada sofa, tengkurap sembari memegangi dadanya, memeriksa detak jantungnya yang berpacu cepat.
" Dia bilang menyukaiku?" masih tak percaya pada apa yang diucapkan Shin Ho, Oya bermonolog pada dirinya sendiri.
" Mungkin pendengaranku bermasalah?" tambahnya berucap seorang diri.
" Benar, aku memang lupa membersihkan telingaku. Setiap hari aku membersihkannya, tapi dua hari ini memang tidak. Sepertinya masalah sebenarnya ada ditelingaku. Aku harus memastikannya." ucapnya lagi dan segera berlalu menuju kamar sang adik.
Ceklek.
" Emily.. "
Membuka pintu kamar adiknya, dan menyerukan nama siempunya kamar, Oya seketika terdiam saat sudah berdiri diambang pintu.
" Emily, apa yang kau lakukan?" Oya mengamati sang adik yang tengah mengemas pakaian kedalam koper.
" Aku akan pulang dulu. Aku merindukan Ayah dan Ibu." jawab Emily dengan senyum tertahan.
" Yakk, kenapa tiba-tiba? Apa terjadi sesuatu? Apa kau dan Shi Woon.. " Oya tak melanjutkan ucapannya saat melihat raut wajah sang adik yang terlihat sendu.
" Cerita padaku.. ada masalah apa?" Oya menelisik dalam wajah Emily.
" Tidak ada masalah apapun kak. Aku hanya istirahat dari hubunganku." jawab Emily menampilkan senyum terbaiknya.