
" Aaakkhhh."
Emily berteriak histeris dan menarik tangannya. Ia lalu segera berlari keluar dari kamar Shi Woon, hendak meninggalkan rumah pria yang sudah membuat jantungnya berpacu dengan cepat.
Tak lupa Ia mengambil sepatunya dan langsung membuka pintu. Namun setibanya diluar, dirinya kembali dibuat terkejut saat mendapati Oya— sang kakak yang sudah rapi dengan setelan kerja.
" Emily, apa yang kau.."
" Ah, begini Kak. Tetangga kita itu baru saja memanggilku kerumahnya. Katanya.. dia ingin dibantu memasang tabung gas." jelas Emily sedikit kikuk.
" Tapi rambutmu.."
Oya keherangan, terlebih lagi melihat sang adik yang hanya menenteng sepatu dan juga jaket.
" Oh, astaga. Ini sudah jam delapan Kak. Pergilah sebelum terlambat."
Lagi - lagi Emily menyela setiap ucapan sang Kakak. Oya mau tak mau segera berlalu karena memang Ia hampir terlambat.
Sementara disatu sisi, ada Shi Woon yang terus tergelak didalam kamarnya. Ia terus membayangkan sikap konyol Emily yang begitu menggemaskan baginya.
" Wah, dia itu tidak pernah pacaran ya. Sudah dua kali dia berteriak. Kalau didepan umum, mereka pasti berfikir aku mesum."
Shi Woon bermonolog pada dirinya sendiri. Ia lalu kembali tertawa seorang diri seraya berbaring diatas ranjang.
•
•
Rumah Sakit Universitas Choi Sun, Seoul.
Setelah mengemudi setengah jam lebih, Oya kini sudah tiba dirumah sakit— tempat dimana Ia akan beraktivitas dan menghabiskan setengah hari waktunya. Memastikan sekali lagi agar tak ada yang tertinggal, Ia pun segera keluar dari mobil dan berjalan menuju lift.
Tiba didepan lift, Ia segera masuk dan menekan tombol yang akan mengantarnya kelantai tujuan. Namun sebelum pintu lift tertutup, seseorang dari luar sana menahannya.
" Oh, Ah Shin Ho."
Oya tampak ragu menyebut nama lelaki itu, karena Ia sendiri takut bila dirinya salah menyebutkan nama.
" Kau ingin ke lantai berapa?" tanya Shin Ho datar.
" Dua."
Oya tak banyak bicara dan kemudian memilih memainkan ponselnya.
" Sepertinya kita sering bertemu." ucap Shin Ho tiba - tiba.
" Wajar saja, lagipula rumah sakit ini tempat umum." balas Oya dengan simpel sembari pandangan masih fokus pada layar ponsel.
Mendengar jawaban Oya— Shin Ho menyunggingkan senyumnya.
" Akhirnya aku menemukan wanita yang sembilan puluh sembilan persen mirip dengan kepribadian Emily." gumamnya dalam hati.
Ting.
Tiba dilantai tujuan, Oya mendahului Shin Ho keluar dari lift. Sementara Shin Ho hanya berjalan dibelakang Oya seakan mengikuti langkah kaki wanita dewasa itu.
" Wah, itu dokter Shin Ho."
" Ah, tampan sekali."
" Dia sempurna sekali untuk jadi manusia."
Sepanjang langkah kaki Shin Ho, semua perawat wanita terus saja berkoar - koar memujinya. Namun Oya justru dengan santai terus berjalan tanpa memperdulikan pria dibelakangnya.
" Tuan Shin, mari saya antar keruangan Dokter Woon."
Disaat Shin Ho ramai diperbincangkan, dipuja - puji oleh perawat wanita— Oya justru dengan santainya meminta Shin Ho untuk mengikutinya— seakan Oya merasa tidak suka bila Shin Ho diributkan oleh banyak wanita.
Shin Ho termangu, namun setelahnya Ia tersenyum tipis. Ia selangkah lebih cepat untuk mensejajarkan langkahnya dengan Oya.
" Perasaan aku tidak mengatakan ingin bertemu dengan Dokter Woon. Lagipula darimana kau tau aku kenal Dokter Woon?" seru Shin Ho dengan senyum tertahan.
" Ah, maaf Tuan Shin. Pagi ini saya ada jadwal operasi dengan dokter, jadi saya pamit dulu. Kalau mau keruangan Dokter Woon, bisa naik di lantai sembilan."