Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 07



" Kak, siapa itu?"


Terdengar suara Emily menyahut dan tak lama menampakkan diri dibelakang Oya.


" Wah, kau lagi. Kenapa pagi - pagi kau sudah bertamu." suara Emily meninggi saat melihat Shi Woon didepan pintu.


" Emily, kau ini kenapa. Dia memberikan kita kue beras sebagai perayaannya pindah kesini." Oya menengahi dan segera mengambil sepiring kue ditangan Shi Woon.


" Baiklah tetangga, terima kasih. Kami akan menikmati kue nya." celetuk Oya tersenyum manis dan segera menutup pintu.


Shi Woon yang baru tersadar setelah terdiam beberapa saat, tak mampu berucap lagi saat pintu didepannya sudah tertutup rapat.


...🌸🌸🌸...


The psychological therapy, Seoul


Dipagi hari, diwaktu orang lain sibuk bekerja, kini justru terlihat Shi Woon yang dengan santai duduk didalam ruangan sahabatnya.


" Malam ini aku berencana mengajaknya makan malam, kau mau bergabung?"


Shin Ho bersuara setelah lama terdiam mengamati sahabatnya yang sejak datang berkunjung tiga puluh menit lalu, terus saja diam dengan raut wajah yang sulit ditebak.


" Aku tidak berniat bertemu wanita lain selain dengan wanitaku." sahut Shi Woon ketus karena memang dirinya tak tertarik bertemu wanita yang dicintai sahabatnya karena menurutnya pribadi, Ia harus menjaga diri dan menjaga jarak dari wanita selain Emily.


" Terserah dirimu kalau begitu."


Shin Ho berbicara seolah tak bertenaga lagi, karena memang dirinya sudah mengajak Shi Woon untuk bertemu Emily sebanyak 1.460 kali sejak tiga tahun belakangan— namun jawaban sahabatnya itu tetap saja sama.


" Kau masih akan duduk disini atau pergi kerumah sakit? Banyak pasien yang menunggumu." Shin Ho mengusir secara halus sahabatnya karena sejujurnya Ia sudah bosan melihat Shi Woon duduk mematung diruangannya.


" Memangnya hanya aku dokter disana. Ini rumah sakit terbesar. Dokternya ada.. ada berapa ya, empat atau lima puluh?" Shi Woon tampak berfikir.


Shin Ho menyunggingkan senyumnya, ingin tergelak mendengar ucapan Shi Woon.


" Cih, calon pewaris lupa jumlah dokter dirumah sakitnya sendiri." seloroh Shin Ho yang tak bisa menahan tawanya lagi.


Hahahaha.


" Dokter di Rumah Sakit Universitas Sun Choi itu ada 57 orang dan perawatnya ada 107 orang. Tapi karena satu perawat melanjutkan studi kedokteran, maka sekitar lima bulan kedepan jumlah merawat akan menjadi 106 orang karena perawat yang tadi kusebutkan akan diangkat jadi dokter setelah studi nya selesai."


Shin Ho memaparkan secara detail apa yang diketahuinya. Shi Woon yang mendengarkan kini terdiam melongo.


" Wah, berhati - hatilah malam ini." Shi Woon beranjak dari duduknya dan menepuk pelan bahu sahabatnya.


" Kenapa?" Shin Ho kebingungan.


" Mungkin aku akan menculikmu dan membawamu keruang operasi. Aku akan menukar otakmu dan otakku." jawab Shi Woon setengah bercanda.


Shin Ho menggeleng mendapati kekonyolan Shi Woon.


" Setelah Ibumu, gantian Ayahmu yang menelfon. Katanya kemarin kau keluar dari rumah dan pindah ketempat yang baru." ucap Shin Ho kemudian.


" Humm, aku sekarang menjadi tetangganya." ujar Shi Woon dengan santai.


Ceklek.


Tak lama pintu ruangan Shin Ho dibuka seseorang. Muncul wanita cantik dibalik pintu kaca berkayu jati dengan cat putih. Bibir wanita itu tampak pucat, dengan rambut pirang caramel di blow sepinggang. Meski wajahnya pucat, namun hal itu tak mengurangi kecantikan yang dimiliki olehnya— Park Lii Kyung.


" Shin Ho, obati aku." ujarnya dengan wajah lesu menghampiri kedua pria gagah itu.


" Wah, Lii Kyung, kenapa wajahmu pucat begitu?" Shi Woon spontan mengajukan tanya pada wanita cantik yang langsung duduk disisinya.


" Entahlah, aku selalu memikirkan Hong Sik."


Jawaban Lii Kyung terdengar begitu dramatis diindra pendengaran Shi Woon dan Shin Ho.


" Ck, ck, ck. Anak ini bisa mati jika dibiarkan terus." sahut Shi Woon dengan enteng.


Bukk.


Tanpa aba - aba Lii Kyung langsung meraih buku setebal tiga senti diatas meja Shin Ho dan melayangkannya diatas kepala Shi Woon dengan keras. Sontak saja Shi Woon merintih kesakitan, memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.