Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 48



Berdiri kaku ditempatnya, Hong Sik mematung memandangi mobil sedan mewah berwarna hitam metalik didepannya. Dan selang beberapa detik muncul lah Nyonya Young dengan kacamata hitam yang menutupi separuh wajah cantiknya. Refleks Hong Sik memutus panggilannya dengan sang Ayah.


Sementara Nyonya Young, ia menyeringai licik dan melangkah mendekati pria muda itu.


" Kurasa kau sudah baikan sekarang." ujar Nyonya Young hendak menyentuh kerah kemeja putra tirinya. Namun Hong Sik dengan sigap menjauh satu langkah.


" Kenapa? Kau takut pada Ibumu?" Nyonya Young mendelik tajam pada Hong Sik yang memasang tampang datar dengan aura dingin.


" Kau bukan Ibuku." ucap Hong Sik dengan tegas. Sorot matanya penuh amarah, ia masih belum bisa melupakan kejadian kemarin.


" Baiklah, aku bukan Ibumu. Tapi kau tidak bisa mengubah kenyataan bahwa aku adalah Bibimu kan!" Nyonya Young menyeringai licik.


" Cih, Ibuku tidak pernah memiliki adik sejahat dirimu. Adik yang membunuh kakaknya sendiri."


Deg.


Kalimat yang baru saja dilontarkan Hong Sik seketika membungkam bibir tipis Nyonya Young yang dipoles gincu merah. Wanita cantik itu sontak terdiam, seakan baru saja ditampar oleh kata-kata pria gagah didepannya.


" Ah, berbuatlah sesukamu.. karena suatu saat aku akan memastikan bahwa kau akan mendapatkan balasan yang setimpal." tegas Hong Sik dan segera berlalu begitu saja. Meninggalkan Nyonya Young yang diam membisu ditempatnya.


...🌸🌸🌸...


The Psychological therapy, Seoul.


Seorang pria tampan, duduk bersandar pada kursi kebesarannya seraya memejamkan kedua matanya. Ia adalah Shin Ho yang sudah hampir satu jam berdiam diri ditempatnya.


Ingatannya masih pada kejadian kemarin malam, dimana Shi Woon mengetahui hal yang tak seharusnya diketahui oleh sahabatnya itu.


Tok. Tok. Tok.


Suara ketukan pintu dari luar sana, tak juga membuat Shin Ho bergeming. Ia hanya menyahut seadanya dan membiarkan orang diluar sana masuk.


" Dokter Shin, Tuan Shi Woon ingin bertemu." ujar perawat cantik itu kepada atasannya.


Mendengar nama sahabatnya, Shin Ho sontak tersadar. Bola matanya membulat sempurna, dan bersamaan itu ia beranjak dari duduknya.


" Tuan, apa saya sebaiknya menyuruhnya pergi?" tanya perawat itu yang sejujurnya merasa bingung pada reaksi sang atasan.


" Tidak." tolak Shin Ho dengan cepat. Tak lama Shi Woon muncul dibalik pintu membuat Shin Ho seketika kikuk.


" Keluarlah, aku ingin bicara dengan dia." seru Shi Woon pada perawat cantik yang masih berdiam diri ditempat yang sama. Namun tak lama ia segera bergegas pergi, hingga kini hanya ada Shi Woon dan Shin Ho.


" Yakk, kenapa kau tidak mau melihatku." tutur Shi Woon pada sahabatnya yang sejak tadi memalingkan wajah.


Hening, tak ada sahutan dari Shin Ho, membuat Shi Woon menggeleng dan segera duduk disofa.


" Kau ingin dengar atau tidak.. yang jelas aku tidak masalah jika kau menyukai Emily. Dan juga.. aku tau, sekarang kau tidak menyukai dia lagi. Jangan merasa bersalah, dan biarkan semua berjalan seperti sebelumnya." tutur Shi Woon.


Perkataan Shi Woon sukses menarik Shin Ho dari diamnya. Pria berkulit putih dengan warna rambut sugar brown itu menoleh dan menatap Shi Woon lekat-lekat.


Sedangkan Shi Woon, ia perlahan mengukir senyumnya. Diawal dirinya mengetahui bahwa Shin Ho menyukai Emily, ia memang sedikit kesal. Namun perlahan rasa tak senang itu menghilang saat menyadari bahwa sebuah perasaan cinta tak pernah salah, yang salah adalah dimana Shin Ho menempatkan rasa itu.