
" Maafkan aku.. aku baru mengatakannya padamu. Sebenarnya.. kupikir selama ini kau sudah tau karena Oya juga bekerja ditempatku, jadi kupikir dia sudah memberitahumu." tutur Shi Woon.
" Yeah.. jangan pernah harap Oya akan menyampaikan sesuatu. Dia sangat introvert, dan bahkan dia tidak tau bahwa kau kepala rumah sakit sekaligus pemiliknya." terang Emily.
Raut wajahnya berubah, tak seperti sebelumnya. Niatnya yang tadi hanya ingin mencari hiburan karena merasa bosan dirumah, justru mendapat masalah baru dengan berpacaran bersama anak konglomerat.
Bukan ia tak bahagia, namun Emily sangat tidak ingin jika menjalin hubungan dengan orang kaya sebab dirinya yang hanya orang biasa pasti akan berakhir buruk dimata keluarga Shi Woon.
" Maafkan aku.. kupikir kau tidak akan menyukaiku jika tau yang sebenarnya." jeda Shi Woon terdiam sesaat.
" Dengarkan aku.. jangan berubah meski mengetahui statusku." Shi Woon meyakinkan Emily, namun wanitanya itu tak bersuara sama sekali.
Melihat kekasihnya bungkam seketika, Shi Woon semakin dibuat merasa tak enak hati. Namun untuk menetralkan suasana, ia berinisiatif untuk membuang soju digelas Emily. Tapi wanitanya itu buru-buru menjauhkan gelasnya dan menatap dirinya dengan tatapan sulit diartikan.
" Biarkan aku mengganti gelasmu." tawar Shi Woon tersenyum lembut.
" Tidak perlu." Emily yang masih syok langsung menjawab dengan cepat, dan entah mengapa ia kembali meminum soju yang tadi dimuntahkannya, dan tak menyisahkan sedikitpun.
Shi Woon melongo mendapati sikap Emily yang menurutnya langsung berubah. "Bukankah.. tadi soju itu tidak layak minum lagi?" ucapnya yang tak melepaskan pandangan dari Emily.
" Kalau begitu makanlah ini." Shi Woon lalu menawarkan daging miliknya, tapi Emily lagi-lagi menolak dengan memakan semua dagingnya hanya dengan satu kali gerakan. Sontak Shi Woon terperanjak. Ia merasa ada yang aneh dari kekasihnya. Apakah karena mengetahui identitas Shi Woon? Entahlah, karena Shi Woon sendiri tidak mengerti.
" Pelan-pelan saja. Jika kau masih ingin tambah, ambil saja bulgogi milikku." ucap Shi Woon yang dengan cepat ditolak oleh Emily dengan gelengan kepala.
Tak lama setelah Emily menghabiskan bulgogi dan iga panggang miliknya, ia pun meneguk habis soju didepannya.
" Apakah karena itu kau berubah?" pandangan Shi Woon sangat intens pada kekasihnya.
" Bukan begitu, tapi tidak pantas jika kau melayani aku. Aku hanya orang biasa, dan aku juga.. " terdiam sejenak, Emily tampak berfikir, menimbang-nimbang apa yang akan dia ucapkan.
" Aku juga cuman pendatang di Korea, bagaimana jika aku sewaktu-waktu kembali ke negaraku." lanjutnya dengan terbata-bata.
Mendengar itu, Shi Woon justru tersenyum tipis. "Sebelum itu terjadi, maka aku akan menikahimu." ucapnya dengan santai.
Hening, tak ada kata yang keluar dari bibir Emily.
Hikk.
Cegukan terdengar dari Emily setelah terdiam cukup lama. Belum selesai keterkejutannya pada fakta yang baru diketahui, kini kekasihnya itu justru menyatakan pernikahan.
Buru-buru Emily memalingkan wajah, tak ingin bersitatap dengan pria tampan itu yang terus menatapnya. Meneguk habis soju yang tersisa, Emily lalu segera beranjak dan keluar dari kedai tanpa sepatah kata pun.
Shi Woon keherangan, segera menyusul kekasihnya dengan sebelumnya membayar pesanan mereka dikasir.
****
Diperjalanan Emily terbayang ucapan Shi Woon. Berjalan kaki sembari menunduk, wajah wanita cantik itu terlihat sangat redup.
Sementara Shi Woon, pria itu hanya mengikut dibelakang kekasihnya. Tak ingin berjalan beriringan, sebab masih merasa tak enak karena selama ini sudah menutupi hal besar dari Emily.