
Didalam rumah, kini Hong Sik membaringkan Oya disofa ruang tamu. Sedangkan Emily mengambil selimut tebal dikamarnya.
Hong Sik mengamati wajah cantik natural Oya yang tak dipolesi makeup sedikitpun. Rasa khawatir terlihat jelas diwajah tampannya. Ia bimbang dan merasa bingung mengapa Oya tiba-tiba ambruk sebelum memberi jawaban.
Disaat Hong Sik tengah berfikir, berbeda dengan Oya. Wanita berambut hitam lebat itu sejujurnya sudah sadar, namun ia enggan tuk membuka kelopak matanya. Dengan mata yang masih terpejam, otaknya kini tengah bekerja keras, mengingat apa yang tadi dilihatnya sekilas saat jatuh diatas tanah.
Flassback.
Dengan bibir terkatup rapat, Oya masih belum memberi jawaban atas ajakan kencan Hong Sik yang begitu tiba-tiba. Terkesan sangat mendadak, membuat ia tentu merasa bingung harus menjawab apa. Oya tercenung, menimbang-nimbang apa yang akan ia ucapkan pada pria didepannya yang tengah menanti dengan sebuah senyuman.
" Kenapa? Apa kau tidak ingin berkencan?" tanya Hong Sik menyadarkan Oya dari lamunannya.
" Aku.. " Oya tampak berfikir sejenak.
" Aku ingin berkencan agar kau bisa mengenalku lebih dekat dan mempertimbangkan perasaanku untukmu." tutur Hong Sik sembari tersenyum lembut.
" Aku mencintaimu, dan aku tentu sudah mengatakan ini yang kedua kalinya. Aku berbohong jika mengatakan bahwa jika kau menolak aku akan baik-baik saja, tapi aku jujur.. tidak berharap perasaanku akan mendapat balasan darimu. Aku ingin mencintaimu, itu adalah keputusanku. Membalas cintaku, bukan kewajiban yang harus kau lakukan. Tapi aku akan tetap mencintaimu, walau itu hanya cinta sepihak." jelas Hong Sik panjang lebar. Tak lupa ia menampilkan senyum tipisnya agar wanita cantik didepannya tak merasa bersalah.
Sedangkan Oya, ia termangu mendengar serentetan kata yang dilontarkan Hong Sik. Rasa bersalah seketika menghantam jiwanya karena tak bisa membalas perasaan pria itu.
Sepersekian detik, pandangan Oya tiba-tiba menjadi buram. Penglihatannya samar-samar, hingga tak lama ia ambruk diatas tanah. Namun sebelum kedua matanya benar-benar terpejam, ia menangkap sosok Shin Ho yang berdiri membelakangi, hingga hanya tampak punggung kokoh itu.
Oya melihat jelas bagaimana Shin Ho membuang sebuket bunga berwarna kuning, dan lalu pergi tanpa berbalik sedikitpun. Setelahnya kedua kelopak mata Oya pun terpejam rapat.
Flassback off.
" Untuk siapa kau datang, dan untuk siapa bunga itu?"
Benak Oya mencari tahu, pikirannya terus tertuju pada Shin Ho. Entah mengapa ia merasakan ada sesuatu yang aneh.
Ceklek.
Bunyi pintu yang tiba-tiba dibuka begitu saja, sontak membuat Hong Sik yang tengah berjaga menoleh pada seorang pria yang berdiri diambang pintu.
Hong Sik terkejut, dia berdiri dari duduknya seraya menatap intens pria itu yang tak lain adalah adiknya— Shi Woon.
Shi Woon pun sama, dia tak kalah terkejut mendapati kakaknya berada didalam rumah Emily.
Disaat Shi Woon dan Hong Sik saling beradu pandang, Emily pun baru saja keluar dari dalam kamar dengan membawa badcover cream yang tebal.
" Shi Woon, apa yang kau lakukan?" tanya Emily terkejut, menatap heran pada kekasihnya yang berkunjung secara mendadak.
" Aku ingin melihatmu." jawab Shi Woon dengan pandangan mata yang terarah pada Hong Sik.
" Ah, dia teman kakakku." Emily memperkenalkan Hong Sik pada kekasihnya saat melihat pandangan intens Shi Woon yang tak lepas dari sosok pria tampan yang berdiri didekat Oya yang tengah terbaring.
" Humm.. " Shi Woon tersenyum getir, mendekat pada Emily dan juga Hong Sik yang mematung ditempat.