
Shin Ho tak menyahut dan menyodorkan secarik kertas yang berada disaku jubah putihnya.
Shi Woon meraih kertas itu dan membaca isinya, dan betapa dirinya terkejut setelah mengetahui isi dari kertas kecil itu.
" Siapa pengirimnya." tanya Shi Woon menatap lekat wajah sahabatnya.
" Entahlah. Sepertinya orang itu menyembunyikan diri dari Nyonya Young. Kita harus mencari bukti untuk mengungkap bahwa Nyonya Young adalah dalang kematian Nyonya Yoo." ucap Shin Ho.
Shi Woon terdiam, tampak berfikir sejenak.
" Nanti malam acara perjamuan itu dimulai, aku akan membuat Nyonya Young sibuk dan kau pergi ke kamarnya." seru Shi Woon kemudian.
Shin Ho menautkan kedua alisnya mendengar apa yang dikatakan Shi Woon. "Kenapa?"
" Saat kecil aku sering mengambil foto Nyonya Yoo saat dirawat dikamar, sepertinya album foto keluarga kami disimpan wanita itu." jelas Shi Woon.
Diam tak bergeming, Shin Ho memilih tak menyahut.
" Aku sedikit ragu, itu sebabnya kita harus membuktikan dulu bahwa Nyonya Young lah yang membawa bunga azalea itu kerumah." tambahnya saat tak mendapat respon dari Shin Ho.
" Humm, baiklah." balas Shin Ho kemudian.
Shi Woon pun segera berlalu, kembali kedalam rumah sakit sementara Shin Ho hanya mampu menatap dalam diam kepergian sahabatnya.
" Kau pasti menyembunyikan sesuatu." gumamnya.
...🌸🌸🌸...
Seoul National University.
Malam kembali menyapa, seperti biasa dibulan ini musim dingin masih menyelimuti Korea Selatan. Menyelesaikan kelas malamnya lebih cepat dari biasanya, Oya kini meninggalkan kampus dengan lesuh. Letih dirasakan, bagaimana tidak, kesehariannya hanya dihabiskan dengan melakukan aktivitas dan kegiatan yang sama berulang kali.
Drt, drt, drt.
Dering ponsel membuat lamunannya disepanjang jalan buyar. Oya segera menjawab panggilan itu yang ternyata dari sipenelfon asing.
" Hallo, siapa ini?" tanya Oya.
" Ini aku, Choi Hong Sik." balas pria itu diseberang ponsel.
" Dari mana kau dapat nomorku?" tanya Oya kemudian.
" Itu bukan hal yang sulit. Aku bisa menemukannya dengan mudah." jawab Hong Sik jujur.
Hening, Oya tak bicara lagi.
" Maafkan aku." ucap Hong Sik saat merasa tak ada suara.
" Kenapa kau meminta maaf." Oya tak melanjutkan langkahnya, Ia mematung ditempat, menanti apa yang akan Hong Sik ucapkan.
" Aku tidak bisa menjemputmu. Aku ada acara keluarga, jadi aku sangat sibuk." seru Hong Sik.
Oya masih berdiam diri ditempatnya, terdiam dengan bibir terkatup rapat. Ia baru menyadari bahwa malam ini memang cukup berbeda karena Hong Sik tidak menunggunya untuk pulang bersama seperti hari-hari kemarin.
" Oya, apa kau masih mendengarku?" tanya Hong Sik.
Oya tersadar dari renungannya. "Tidak apa-apa. Aku tutup dulu, ini sudah larut dan aku harus pulang."
Tut.tut.tut.
Oya langsung memutus panggilan karena tak ingin berlarut-larut dengan Hong Sik apalagi suasana hatinya kini mendadak berbeda. Ada kebimbangan yang melanda hatinya. Setelahnya Ia kembali melanjutkan langkahnya.
" Oya." suara maskulin dari seorang pria tampan, menyerukan nama wanita itu hingga membuat Oya menoleh.
" Shin Ho?" lirih Oya menatap nanar pada pria itu.
Shin Ho yang ditatap tersenyum manis, membuat jantung Oya seketika berpacu
" Apa ini, kenapa melihat dia tersenyum membuat jantungku berdetak." gumam Oya. Jantungnya semakin bertalu-talu saat Shin Ho justru menghampirinya hingga kini hanya menyisahkan jarak setengah meter.
" Sejak tadi aku menunggumu." ujar Shin Ho dengan lembut.
" Hah?" Oya kehabisan kata-kata, ditatap Shin Ho membuatnya tak bisa berkutik.
" Ayo pulang bersama, aku akan mengantarmu." tambah Shin Ho.
" Ah, baiklah. Terima kasih." balas Oya kikuk, segera mengikut dibelakang Shin Ho yang sudah berjalan lebih dulu.