
" Hum, pacarmu menunggu lama disini. Bahkan dia seperti ingin mati karena kedinginan. Kau susul dia, seperti dia belum jauh." tutur wanita itu.
Mendengar ucapan wanita paruh baya didepannya, Shi Woon pun segera berlalu pergi tanpa banyak bicara. Ia berlari dengan cepat, menjauh dari menara namsan. Menyusuri jalan trotoar, mencari Emily disepanjang pelariannya.
Langkah kaki terhenti tepat dibawah lampu merah, perempatan jalan, Shi Woon mengedarkan pandangannya, menatap sekeliling mencari Emily yang juga diyakininya belum jauh pergi.
Dengan nafas terengah-engah imbas berlari dari jarak beberapa meter, jantung Shi Woon pun berpacu cepat saat dirinya tak kunjung menemukan Emily.
Sedetik kemudian, tiba-tiba sebuah tangan melingkar dipinggangnya— seseorang yang entah siapa langsung memeluk tubuh Shi Woon dari belakang.
Shi Woon tertegun, dia mematung ditempatnya serta jantungnya kian bertalu-talu.
" Biarkan seperti ini dulu."
Deg.
Seseorang yang memeluk Shi Woon bersuara, Shi Woon yang mendengar suara familiar itu menjadi kaku seketika. Dirinya tentu mengenal pemilik suara itu yang tak asing lagi diindera pendengarannya, yaitu Emily.
" Kemarin aku belum mengetahui siapa kamu, tapi hatiku sakit ketika melihatmu bersama wanita diklinik itu. Aku memang menunggu cinta pertamaku, tapi hatiku gelisah saat tidak melihatmu." tutur Emily dengan suara pelannya.
Shi Woon tak menyahut, namun dirinya dengan senang hati mendengar penuturan wanita yang dicintainya.
" Aku sudah lama menunggu moment ini, saat dimana aku bertemu lagi denganmu. Aku menyukaimu diempat tahun lalu, dan masih menyukaimu sampai sekarang." tambahnya.
Jemarinya menyentuh wajah natural Emily. "Kau sudah mempercayaiku?" tanya yang dijawab anggukan kecil oleh Emily.
Shi Woon tersenyum, dan tanpa aba-aba segera memeluk Emily dengan erat. Malam itu pun akhirnya mereka bersama, saling membalas pelukan dibawah hujan salju yang semakin lebat.
...🌸🌸🌸...
Pulang bersama dan bergandengan tangan bersama, adalah suatu hal baru bagi Emily apalagi Shi Woon. Keduanya terus tersenyum hingga tak terasa tiba didepan rumah. Saking tak ingin berpisah, Shi Woon pun enggan melepas tangan wanitanya bahkan saat keduanya menapaki anak tangga menuju lantai dua.
Setibanya dilantai dua, Shi Woon menghela nafas. Sejujurnya Ia ingin waktu berhenti agar perpisahannya dengan Emily malam ini tak terjadi begitu cepat, tapi mau tak mau Ia harus melepas genggaman tangannya.
" Sepertinya aku harus masuk." ucap Emily dengan senyum tertahan. Sama seperti pria dihadapannya, Ia sebenarnya juga tak ingin berpisah dengan Shi Woon.
" Humm" Shi Woon mengangguk pelan.
Mendapati respon Shi Woon, Emily pun hendak berlalu masuk kedalam rumahnya namun seketika Shi Woon mencekal pergelangan tangannya. Ia menoleh, dan menatap lekat wajah tampan Shi Woon.
Sementara Shi Woon, dengan perlahan dirinya meraih pinggang ramping Emily hingga tak menyisahkan jarak. Setelahnya Ia mengecup lembut kening wanitanya dan beralih pada bibir mungil nan tipis Emily.
" Masuklah, besok kita bertemu lagi. Lagipula kita tetangga, tidak akan butuh waktu lama jika ingin bertemu." seru Shi Woon kemudian.
Emily mengangguk dan tersenyum manis. Dirinya lalu segera masuk kedalam rumah tanpa membuang waktu lama. Sedangkan Shi Woon, senyumnya terus mengembang sampai Emily menghilang dibalik pintu.