
Disatu sisi, ada Shin Ho dan Shi Woon yang tengah berada diruang keluarga. Keduanya kini sudah merangkai sebuah rencana. Semua sudah disusun sedemikian rupa agar Nyonya Young menjadi lengah malam ini.
" Masuk kekamarnya sekarang, aku akan bicara dengan wanita itu." ujar Shi Woon menepuk pelan bahu sahabatnya.
" Shi Woon... " Shin Ho terlihat ragu untuk berbicara.
" Ada apa?" tanya Shi Woon menatap lekat wajah sahabatnya.
" Aku pikir tidak mudah untuk masuk kekamar Nyonya Young." ucap Shin Ho.
" Tapi kau harus melakukannya, agar kita bisa dapat bukti kuat kalau dialah yang membunuh Nyonya Yoo." jelas Shi Woon.
" Pastikan juga.. apakah bunga beracun azalea itu masih ada dikamarnya atau tidak." tambah Shi Woon.
Shin Ho berfikir sejenak, tapi kemudian mengangguk pelan dan segera berlalu, siap melakukan sesuai apa yang sudah diaturnya bersama Shi Woon tadi. Tanpa disadari keduanya, Hong Sik rupanya sudah mendengar apa yang sejak tadi dibicarakan oleh Shi Woon dan Shin Ho.
Bukan kesengajaan, namun sebuah kebetulan mengantar Hong Sik pada kenyataan yang ada. Dirinya yang tadi hendak berbicara pada adiknya, mencari Shi Woon ke kamar namun ternyata Hong Sik justru mendapati sesuatu yang tak seharusnya dia dengar.
Berdiri dibalik pilar besar, Hong Sik merenungi setiap apa yang tadi didengarnya. Ingin tak percaya, namun entah mengapa hatinya sangat terusik.
Sepersekian detik kemudian, Hong Sik melihat Shin Ho yang hendak menuju kamar Nyonya Young.
" Shin Ho." panggilnya membuat langkah Shin Ho terhenti.
" Ayahku.. dia ingin bicara padamu soal Ayahmu." dusta Hong Sik.
" Ayahku? Benarkah?" tanya Shin Ho sedikit bingung, sedangkan Hong Sik cepat menjawab dengan anggukan kepala.
Dengan hati yang sedikit ragu, Shin Ho pun segera berlalu.
Setelah melihat Shin Ho yang sudah jauh melangkah, Hong Sik segera masuk kedalam kamar Nyonya Young. Jantungnya saat ini terasa sesak, entah mengapa namun memang setiap kali menyangkut soal Ibu kandungnya, dirinya pasti akan kembali dirundung rasa sakit dihati.
Sedikit keraguan terbersit dihati, Hong Sik mengedarkan pandangannya didalam kamar luas Nyonya Young. Pandangannya seketika berhenti tepat pada sebuah lemari mini yang terbuat dari kuningan. Hanya lemari itu yang terlihat sangat mewah didalam kamar Nyonya Young, sehingga menarik perhatian Hong Sik.
Segera mendekat pada lemari itu, Hong Sik langsung membukanya. Aneh, perasaan itu dirasakan Hong Sik saat dengan mudahnya Ia membuka lemari penuh rahasia itu.
Deg.
Hong Sik mematung, tubuhnya bergetar saat mendapati isi lemari mini itu ada sebuah vas bunga azalea. Dan yang lebih membuat Hong Sik tercengang adalah sebuah album foto disamping vas itu. Ia pun segera meraih album itu dan membukanya dengan tangan yang bergetar.
Namun rupanya, album itu hanya menampilkan semua gambar bunga azalea.
" Kau sudah menemukannya?"
Suara datar Nyonya Young yang begitu tiba-tiba, sontak membuat Hong Sik terkesiap. Pria gagah itu langsung menjatuhkan album foto dilantai dan menoleh pada sumber suara.
" Kau sudah... kau sudah membunuh Ibuku?" suara maskulin Hong Sik bergetar. Tampak sekali bahwa dirinya sangat syok apalagi saat Nyonya Young justru membalas dengan seringai licik.
" Jung."
Alih-alih menjawab putra tirinya, Nyonya Young justru memanggil nama asisten setianya yang sejak tadi berdiri diluar kamar dengan beberapa pengawal.