Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 29



" Aku akan menyerah, rasanya aku tidak mungkin menemukan dia lagi." lirih Emily dengan suara yang amat kecil.


Ditengah keputusasaannya, Emily tiba - tiba teringat pada pernyataan Shi Woon yang beberapa saat lalu mengaku sebagai cinta pertamanya.


" Tidak mungkin dia.. kalau memang dia berarti dunia ini sangat sempit." lirihnya lagi.


Sepersekian detik kemudian, Emily menggeleng tak terima saat menyadari bahwa dirinya telah memikirkan Shi Woon. Ia lalu segera kembali melanjutkan pekerjaannya karena tak ingin berperang dengan pikirannya sendiri hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.


Jika biasa Emily menutup toko dijam tujuh, kini Ia justru masih berdiam diri didalam tokonya. Ia enggan menutup toko rotinya dan malah memilih duduk santai disalah satu kursi pengunjung. Ia kembali merenung, hatinya bergolak. Emily bingung, apakah Ia harus menemui Shi Woon atau tidak.


Satu menit hingga lima menit, Ia masih ditempat yang sama dengan berbagai pikiran dibenaknya hingga tak menyadari seseorang yang masuk kedalam toko.


" Emily." panggil orang itu yang rupanya adalah Shin Ho.


Emily tersadar dan sontak menoleh pada sumber suara.


" Kenapa kau disini?" tanya Emily memperbaiki posisi duduknya.


" Aku menelfonmu sejak tadi, tapi nomormu tidak aktif." jawab Shin Ho yang langsung duduk didepan Emily.


" Oh, ponselku memang mati." jelas Emily seadanya.


" Kenapa kau belum tutup? Ini sudah lewat dari satu jam." ucap Shin Ho melirik sekilas pada jam tangan rolex miliknya.


" Tidak ada alasan." balas Emily


" Kenapa kau kemari?" tambahnya menatap nanar pada Shin Ho.


" Aku hanya.. aku ingin mengatakan bahwa aku sudah menemukan laki - laki itu." Shin Ho sedikit ragu dalam berkata.


" Cinta pertamamu.. aku sudah menemukannya." seru Shin Ho setelah terdiam sesaat.


" Benarkah, dimana dia?" tanya Emily dengan tak sabaran, raut wajahnya langsung bahagia.


Shin Ho kembali terdiam, sementara Emily tengah menanti ucapan pria didepannya.


" Dia.. dia tetanggamu."


Deg.


Sontak Emily terkesiap mendengar pernyataan Shin Ho. Ia sungguh tak menyangka bahwa ucapan Shi Woon tempo hari memang benar adanya. Seketika Emily terdiam dengan bibir terkatup rapat, Ia bingung harus berkata apa dan bereaksi seperti apa.


Sepersekian detik kemudian, Ia menoleh keluar jendela kaca dan melihat hujan salju yang lebat. Dirinya segera beranjak dan meraih jaket overcoatnya yang tergantung disamping meja kasir.


" Aku harus pergi, titip tokoku." pinta Emily dan segera berlalu tanpa memberi kesempatan pada Shin Ho untuk berbicara.


Shin Ho membeku ditempat yang sama, memandang Emily yang perlahan menjauh dari toko.


...🌸🌸🌸...


Menit ke menit, detik ke detik, salju semakin lebat. Disaat orang lain memilih berdiam diri dalam rumah, Emily justru tengah berlari menuju menara namsan. Ia tak lagi memperdulikan orang - orang yang dilewatinya, memandang keherangan.


" Apakah ini nyata? Aku sangat menantikan hari ini." gumam Emily yang terus berlari.


Sementara disatu sisi, ada Shi Woon yang tengah menunggu di menara namsan. Ia sudah berulang kali menghangatkan telapak tangannya dengan nafasnya. Suhu udara kini mencapai 18 derajat celcius, dimana cuaca benar-benar dingin. Namun meski begitu Ia tetap menunggu Emily.


Selang beberapa menit, Emily tak kunjung muncul dan justru pengunjung dimenara namsan yang satu persatu meninggalkan tempat indah itu yang kini dituruni oleh salju. Tak lama beberapa pria berjas hitam muncul dihadapan Shi Woon.