
Selang beberapa menit, kini langkah kaki Emily terhenti saat ia merasa sudah tiba dirumahnya. Mendongak menatap bangunan dua tingkat didepannya, ia tercenung kala mengingat bahwa bangunan didepannya adalah milik sang kekasih sementara dirinya hanya menumpang saja.
" Jika kita putus, apa kau masih membiarkan aku tinggal dirumahmu ini?" ucapnya seorang diri.
" Humm.. tentu saja."
Deg.
Suara berat yang begitu familir, membuat Emily seketika menoleh. "Shi Woon." bibir tipis dengan gincu berwarna nude itu bergerak pelan, menyerukan nama pria yang tadi bersuara tanpa permisi.
" Maafkan aku.. aku salah karena tidak mengatakan semuanya dari awal. Tapi percayalah, aku tidak ada niat untuk meninggalkanmu, apapun yang terjadi. Kau hanya cukup melihatku saja, mencintaiku saja, dan tersenyum padaku saja. Serta selalu tinggal disisiku, maka semua akan baik-baik saja. Aku hanya mengharapkan itu darimu." jelas Shi Woon dengan lembut. Ia menyentuh kedua bahu Emily, membuat wanitanya itu beradu pandang dengannya.
" Apa kau mengerti?" tanyanya dengan kedua tangan yang perlahan menyentuh kulit pipi Emily yang terasa sangat halus.
Emily yang ditanya kini mengangguk, dan rasa bimbang dihatinya pun lenyap seketika saat mendengar kalimat yang diucapkan Shi Woo.
Lama keduanya beradu pandang, Shi Woon dengan perlahan mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak satu senti dari wajah sang kekasih. Tanpa aba-aba, ia lalu mengecup bibir tipis menggoda itu. Sebuah kecupan dalam waktu yang lama.
" Sudahlah, ayo masuk." ucap Shi Woon kemudian, mengurai jarak dari kekasihnya. Emily pun mengangguk, keduanya lalu segera masuk kedalam rumah.
" Ah, bukankah besok hari weekend?" tanya Emily disela-sela langkahnya menaiki anak tangga.
" Iya, ada apa?"
" Bagaimana jika kita pergi besok. Berkencan!" seru Emily.
Keduanya kini sudah tiba dilantai dua, Emily menanti jawaban, sedangkan Shi Woon masih tampak berfikir.
" Jangan keluar sebelum aku menjemputmu, oke." tambahnya, menangkup wajah cantik wanitanya yang dengan cepat dijawab anggukan kepala disertai senyuman khas sosok Emily.
" Yakk.. jangan tersenyum lebar, atau aku akan memakanmu." goda Shi Woon, menarik hidung kekasihnya.
Sebelum berpisah, Shi Woon memeluk Emily dulu. Ia merasa sangat gemas, dan seakan tak ingin jika kekasihnya itu menghilang didepan matanya.
" Besok, mulailah cari pekerja paruh waktu. Kau butuh dibantu agar saat aku selesai bekerja kita bisa menghabiskan waktu bersama." tutur Shi Woon yang masih mendekap erat Emily.
" Haruskah aku mencari pekerja paruh waktu?" tanya Emily dengan mata terpejam, menikmati aroma khas tubuh Shi Woon.
" Tentu saja. Selama kita berpacaran, kita belum menghabiskan waktu bersama." cerocos Shi Woon, mengurai pelukannya untuk melihat wajah kekasihnya.
" Apa kita berpacaran?" tanya Emily yang seakan memancing kekesalan Shi Woon.
" Apa maksudmu, apa kau tidak menganggap bahwa kita berpacaran? Apa semua yang kulakukan bersamamu selama ini bukan karena kita pacaran?" Shi Woon sungguh terlihat kesal membuat Emily mengulum senyumnya.
" Yakk.. memangnya apa yang sudah kita lakukan? Hah?" goda Emily lagi.
" Wah, gadis ini." Shi Woon berdecak, berkacak pinggang seraya menghela nafas kasar.
" Aku sudah menciummu, bahkan memelukmu. Tidur saja denganmu yang belum kulakukan." suara Shi Woon meninggi, membuat Emily seketika terbelalak. Meski tidak ada yang mendengar percakapan mereka, namun Emily tetap merasa malu sendiri.
" Apa.. apa lagi yang belum kulakukan denganmu. Kita bahkan sudah.. mptt..mptt.." belum menyelesaikan ucapannya, buru-buru Emily membekap mulutnya hingga tak dapat berucap lagi.