Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 44



" Benarkah? Dimana tokonya?" Hong Sik melontarkan tanya, seraya mengambil roti lagi yang tersisa satu dipiring.


" Dibawah, kau akan melihatnya jika keluar."


" Benarkah?" Hong Sik memastikan karena ia memang belum melihat toko roti adik Oya.


Oya hanya hanya mengangguk dan untuk pertama kali ia menampilkan senyumnya pada pria gagah didepannya.


" Ah, lebih baik kau hubungi Shi Woon dan minta izin untuk hari."


Mendengar perkataan Hong Sik, Oya dibuat bingung. Wanita berambut hitam sebahu itu, tampak terdiam sesaat sebelum meraih ponselnya diatas nakas.


" Cih, ternyata pertemanan kalian cukup dekat sampai menyebut namanya saja seperti sudah sangat biasa." celetuk Oya seraya berselancar pada layar ponselnya.


" Ah, tidak. Kami tidak berteman. Shi Woon adalah adikku, kami bersaudara."


" Apa?"


Bola mata Oya seketika membulat sempurna. Ia terbelalak mendengarkan ucapan Hong Sik. Saat beberapa hari lalu melihat pria itu dirumah sakit dan berada diruangan Shi Woon, ia berfikir bahwa Hong Sik dan Shi Woon hanyalah teman, tapi ternyata keduanya bersaudara.


" Kenapa? Kau tidak percaya?" Hong Sik menatap intens wajah cantik Oya. Dan wanita itupun hanya mengangguk tanpa bersuara.


" Kami saudara.. tapi hubungan kami tidak terjalin dengan baik. Kau pasti heran karena wajah kami sedikit berbeda.. itu karena Ibu kami memang berbeda." jelas Hong Sik.


Mendengar penuturan pria dewasa didepannya, Oya hanya mengangguk tanpa berucap sepatah kata. Dia juga bingung harus mengatakan apa, karena memang sejauh ini dirinya tak pernah ikut campur dalam kehidupan seseorang.


" Inilah yang kusukai darimu. Perhatianmu membuat aku kagum, pedulimu seperti tanda bahwa kau mencintaiku, cuek mu seperti tanda kasih sayang yg tak terucap dan kasih sayang itu kau jadikan sebagai perlakuan baik untukku , seperti menjagaku, tapi tak ingin menyentuh hatiku."


Deg.


Serentetan kata dilontarkan Hong Sik. Oya tertegun, terlebih lagi tatapan Hong Sik seakan menusuk relung hatinya. Saat pertama kali Hong Sik mengatakan mencintainya, jantungnya masih terasa aman saja, namun kali ini sangat berbeda. Seakan detakan jantungnya semakin berpacu kuat.


Tercenung dengan bibir terkatup rapat, wanita cantik berkulit putih itu tak mampu berkata. Bahkan untuk mengurai kalimat sederhana pun tak juga bisa. Seakan lidahnya terasa kelu.


" Maafkan aku.. mungkin Tuhan tak pernah salah mempertemukan seseorang dengan seorang yang lain ,, hanya saja sebagian manusia yang salah menanggapi nya. Seperti saat ini.. kau memperlakukan aku dengan sangat baik. Kupikir kau mencintai aku, ataupun menaruh rasa sedikit.. tapi ternyata kau hanya merawatku sebagai pasien saja."


Kembali Hong Sik berkata. Namun Oya sama sekali belum juga bersuara. Bibir mungil nan tipisnya masih terkunci rapat.


" Oya.. " panggil Hong Sik menyadarkan wanita dewasa didepannya yang hanya diam sejak tadi.


" Yakk, kau itu seperti penyair saja. Jika kau ingin membaca puisi, sebaiknya diatas panggung. Kenapa didepanku."


Oya mengomel setelah menarik diri dari keterdiamannya. Dia salah tingkah, namun sebisa mungkin bersikap santai.


" Istirahat saja. Aku akan mengerjakan tugas kuliahku diluar." ucapnya dan segera beranjak sebab tinggal lebih lama, semakin membuat jantung Oya berdetak tak karuan.


Oya berlalu begitu saja, mau tak mau Hong Sik pun sendiri lagi didalam kamar.