
Waktu berlalu, dan tak terasa kini hari sudah malam. Tampak Oya yang saat ini baru saja menyelesaikan jam kerjanya. Ia kemudian beralih kekamar rawat sang adik, menjaga Emily yang tengah beristirahat setelah diperiksa oleh Shi Woon sendiri.
Menghempaskan tubuh lelahnya disofa, Oya lalu memejamkan kedua matanya. Sejujurnya ia ingin pulang, membersihkan diri lalu beristirahat, namun tak mungkin dirinya meninggalkan Emily seorang diri. Menitipkan pada Shi Woon, ia tentu merasa tak enak karena pria tampan itu sudah meluangkan banyak waktu untuk Emily hari ini.
Drt.Drt.Drt.
Dering ponsel didalam saku sweater Oya, seketika mengusik waktu istirahatnya. Ia segera meraih ponselnya didalam saku dan menjawab panggilan itu.
" Humm, hallo?" ucapnya dengan mata yang masih terpejam.
" Apakah hari ini kita jadi bertemu?" suara familiar diseberang telfon, sontak membuat kelopak mata Oya terbuka. Wanita cantik itu langsung memperbaiki posisi duduknya, siap memberi penjelasan.
" Oh, Hong Sik.. begini, sepertinya malam ini aku tidak bisa menemuimu. Adikku sedang sakit, jadi aku harus menjaganya. Setelah dia baik-baik saja, aku akan mengabarimu lagi." jelas Oya yang merasa tak enak.
" Humm.. baiklah. Aku akan menunggu kabar darimu." seru Hong Sik seadanya dan segera memutus sepihak panggilan itu. Oya pun kembali merebahkan tubuhnya disofa dan memejamkan kedua matanya.
...🌸🌸🌸...
Kediaman Choi.
Diruang makan yang bergaya eropa modern, tampak Tuan Choi dan Nyonya Young yang saat ini tengah menikmati berbagai sajian untuk sarapan mereka berdua. Tak ada suara dari keduanya, hanya dentuman sendok dan garpu yang mengiringi kegiatan sarapan keduanya. Sedangkan Hong Sik, pria muda itu sejak semalam tak kembali kerumah dan memilih tidur di apartemen sendiri.
Tuan Choi yang memang setiap hari lebih banyak diam, pria paruh baya itu seperti biasa. Namun tidak dengan Nyonya Young, karena kali ini wanita matang itu tampak sangat berbeda.
" Aku sudah mengingat semuanya. Semua yang terjadi tiga puluh tahun lalu."
Lama larut dalam pikirannya sendiri, Nyonya Young akhirnya bersuara juga. Tampang wajahnya datar, tak ada ekspresi yang terlukis diwajah cantiknya yang masih tampak muda.
" Kita sedang makan, jangan bicarakan masa lalu." Tuan Choi berbicara dengan aura dinginnya.
" Tidak.." balas Nyonya Young tersenyum getir.
" Bukankah sangat aneh jika aku tetap bersikap dan terlihat baik-baik saja setelah mengingat semua yang kau lakukan dimasa lalu." tambahnya beralih menatap nanar suaminya.
" Aku ingin kita sampai disini. Mari bercerai." ucap Nyonya Young dengan tiba-tiba.
Mendengar permintaan sang istri yang begitu tiba-tiba, Tuan Choi masih berusaha terlihat santai. Ia tak menunjukkan reaksi keterkejutannya sama sekali.
" Baiklah." jawab Tuan Choi menyanggupi permintaan sang istri dengan sangat enteng.
Mendengar jawaban yang begitu santai dari sang suami, Nyonya Young seketika tersenyum kecut. Ia sejujurnya sudah memprediksi bahwa mungkin jawaban suaminya akan seperti itu, namun entah mengapa itu membuat hatinya bergolak tak karuan.
" Sejak dulu kau selalu menggampangkan semua hal." ucap Nyonya Young kemudian.
Tuan Choi yang hanya diam menyimak, tak bersuara dan kembali dengan tenang menikmati sarapan paginya.
" Kau membuat keluargaku hancur, dan kau juga menghancurkan hidupku sampai aku kehilangan bayiku." tutur Nyonya Young, menerawang masa kelamnya dahulu.
Brakk.
Seketika Tuan Choi menggebrak meja makan dengan sangat kasar, membuat Nyonya Young terkejut.
" Jangan menyebut bayi haram itu." bentak Tuan Choi.
" Kenapa kau mengatakan seperti itu pada bayi yang bahkan belum lahir kedunia ini? Ah, bukankah itu sebabnya kau berani melakukan kejahatan itu?" Nyonya Young tak mau kalah, ia membidik Tuan Choi dengan tatapan tajamnya.
" Kau memang laki-laki yang sangat berani, dan sangat hebat untuk perempuan sepertiku. Bahkan untuk menyakiti wanita hamil kau juga sangat berani. Untuk itu aku akan menyelesaikan hubungan kita.. kau bisa melakukan semua sesukamu. Aku juga akan hidup sesukaku." tutur Nyonya Young dan setelahnya segera beranjak dari duduknya tanpa menyelesaikan sarapan paginya.
Sesak terasa bergemuruh dihati bila mengingat masa lalunya yang suram. Rasa itu juga semakin bergejolak saat melihat Tuan Choi, pria yang sudah menghancurkan impiannya dahulu.
Namun hanya berjarak semeter dari meja makan, Nyonya Young kembali menoleh pada Tuan Choi.
" Aku sudah mengingat semuanya, jadi kau tidak perlu menutupinya lagi dariku." ucapnya dan segera berlalu dengan langkah gontainya.