Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 87



Keluar dari ruangan Shi Woon, wajah Nyonya Young saat ini tampak berseri-seri. Ia merasa puas karena sudah membuat perhitungan pada suaminya dengan membongkar rahasia dimasa lalu.


Sementara Hong Sik, pria itu sudah pergi sejak tadi, meninggalkan rumah sakit sebelum Nyonya Young menyadari kehadirannya.


Berjalan disepanjang koridor rumah sakit, semua pasang mata kini menyoroti Nyonya Young. Tentu saja, karena statusnya dimata publik bukanlah orang biasa. Semula menjadi putri bungsu orang kaya, kini berganti menjadi istri dari Choi Sun


" Hei, bukankah itu istri Tuan Choi?" pekik Na-Heol saat melihat Nyonya Young berlalu dihadapannya.


" Iya, itu dia. Wah, aslinya jauh lebih cantik." celetuk Jan- Seung tanpa melepas tatapannya dari setiap langkah kaki Nyonya Young.


" Untuk apa cantik jika suaminya tidak pernah melihatnya." sahut Kim- Jeon yang baru saja selesai memeriksa pasien bersama Oya.


" Yakk.. kau sepertinya tau semua hal tentang keluarga Choi. Bahkan perasaan Tuan Choi pun kau juga tau." ujar Na- Heol dengan asal tanpa menatap lawan bicaranya.


" Terserah kalian saja ingin percaya atau tidak. Tapi dari sini kita bisa belajar, bahwa mencintai seseorang yang kita tau bahwa sampai kapanpun tidak akan bisa dimiliki, itu sama saja berlatih menjadi orang bodoh." tutur Kim- Jeon.


" Kenapa begitu?" tanya Jan- Seung.


" Karena kau sudah tau bahwa tidak mungkin bisa memilikinya, tapi tetap saja mencintainya itu adalah hal yang dilakukan oleh orang bodoh saja karena selain membuang banyak waktu, kau juga mengabaikan dirimu yang harus sudah bahagia tapi karena cintamu menahannya hingga kau menderita sendiri." tutur Kim- Jeon panjang lebar. Raut wajahnya murung, setiap kalimat yang meluncur dari bibir tipisnya terdengar sangat lemah.


" Wah, aku yakin kau baru saja diputuskan pacarmu." celetuk Jan- Seung setengah bercanda.


" Yakk, Kim- Jeon tidak punya pacar. Dan dia bukan putus dari pacarnya, hanya saja laki-laki yang disukainya lebih memilih wanita lain." jelas Na- Heol.


" Benarkah? Itu berarti kau ada difase jatuh cinta sendiri." seloroh Jan- Seung dengan gelak tawa kecilnya.


Sementara Oya, ia tercenung setelah mendengarkan ucapan temannya. Ia tak bisa berbohong bahwa perbincangan temannya terasa menyindir dirinya sendiri. Kini pikirannya tiba-tiba terarah pada Shin Ho, pria yang sudah mengoyak-ngoyak relung hatinya, membuatnya bimbang disatu waktu.


...🌸🌸🌸...


Hari kini sudah malam, tak terasa sudah tiba waktu para pekerja untuk pulang. Perawat-perawat rumah sakit Choi Sun yang bertugas dipagi hari, kini bersiap-bersiap untuk pulang. Tampak Oya salah satunya.


Diperjalanan Oya terus memikirkan perkataan Kim- Jeon yang terus saja mengusiknya. Bimbang melandanya saat ini, entah harus melanjutkan hubungan dengan Hong Sik atau tidak karena sejujurnya ia tak memiliki perasaan apapun pada pria gagah itu.


Sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga tak terasa Oya sudah tiba ditempat tujuan. Ia segera keluar dari bus dengan wajah murungnya. Menyeret langkah kakinya yang lamban, ia merasa tak semangat hari ini. Sesekali disetiap langkahnya, terdengar helaan nafas berat.


Hingga tiba didepan rumah, langkah kaki Oya terhenti saat mendapati Shin Ho yang tengah berdiri kaku memandangi bangunan didepan sana.


" Hei, Shin Ho." panggil Oya membuat Shin Ho sontak menoleh.


Melihat raut wajah Shin Ho, Oya langsung terkejut. Wajah memerah, lapisan bening mengkristal dikedua mata Shin Ho. Ada sesuatu yang menahannya untuk tak bersuara, namun sebulir air mata yang lolos cukup menjelaskan apa yang terjadi.


Oya pun segera menghampiri Shin Ho, merasa khawatir melihat pria tampan itu.


" Yakk, kenapa kau menangis? Ada apa, apa terjadi sesuatu?" Oya terlihat khawatir, sesaat ia merasa bingung mengapa Shin Ho tiba-tiba meneteskan air mata tanpa adanya suara.


" Aku baru tau.. kalau aku sudah kehilangan semuanya."


Tangis Shin Ho pecah setelah menyelesaikan ucapannya, untuk pertama kali ia menitikkan air mata didepan seseorang. Wajahnya berlinang air mata, dadanya pun terasa sangat sesak. Oya yang menyaksikan keterpurukan pria muda didepannya, tanpa sadar segera menenangkan dengan sebuah pelukan.




Hiks.. hiks...


Tangis Shin Ho semakin dalam, dan terdengar sangat pilu. Oya yang merasakannya semakin mengeratkan pelukannya. Ia tak tega melihat pria yang disukainya menangis.


Disaat Shin Ho larut dalam kesedihannya, sementara Oya sibuk menenangkan, keduanya pun tak menyadari akan kehadiran sosok lain diantara mereka. Dia adalah Hong Sik, yang memandang keduanya dengan tatapan sendu.


Hong Sik memang sengaja datang ke myeongdong karena ia ingin bertemu dengan Oya untuk menyampaikan sesuatu, namun saat dirinya keluar dari mobil, dari kejauhan ia melihat Oya dan Shin Ho hingga mau tak mau kembali masuk kedalam mobilnya dan segera pergi.