
Seketika Oya merasa hangat saat tiba-tiba Hong Sik memakaikannya jaket yang lebih tebal.
" Aku tidak apa-apa. Kenapa memberiku jaketmu?" Oya merasa tak enak melihat Hong Sik yang hanya memakai kemeja saja.
" Pakailah. Kau lebih membutuhkannya." tutur Hong Sik dengan lembut.
" Terima kasih." ucap Oya kemudian.
" Kenapa kau sangat baik padaku? Apakah hanya karena kau menyukaiku, atau memang kau adalah orang baik?" tanya Oya, sesekali melihat pada Hong Sik.
" Entahlah. Aku tidak tau aku orang baik atau bukan. Tapi saat bersamamu, aku selalu ingin melindungimu, dan bertanggung jawab sampai akhir." jawab Hong Sik yang seolah ragu pada ucapannya sendiri.
" Benarkah?" Oya menghentikan langkahnya, menatap nanar pada Hong Sik.
" Humm." Hong Sik mengangguk kecil dan memperlihatkan senyum tipisnya.
" Apakah kau bisa bertanggung jawab pada perasaanku juga?"
" Aku tidak mengerti maksudmu?" Hong Sik bingung harus memberi jawaban apa mengenai kalimat yang baru didengarnya.
" Tidak. Lupakanlah." Oya memalingkan wajahnya saat merasa ada yang aneh dengan hatinya. Entah mengapa, namun baru saja ia teringat pada sosok Shin Ho yang dulu memeluknya dengan tiba-tiba.
" Ayo, pulang." ajak Oya segera berjalan meninggalkan Hong Sik.
...🌸🌸🌸...
Myeongdong, Seoul.
Malam semakin larut, dan cuaca diluar ruangan pun semakin dingin. Emily dan Shi Woon kini sudah tiba di myeongdong setelah puas menjelajahi berbagai tempat.
" Emily.. aku harus menemui seseorang, jadi istirahatlah duluan." ujar Shi Woon.
" Baiklah. Cepatlah pulang, besok kau juga bekerja kan." Emily tersenyum manis pada kekasihnya.
" Humm." balas Shi Woon dengan anggukan kepala.
Emily pun hendak berlalu, meninggalkan Shi Woon seorang diri. Namun tiba-tiba saja pria muda itu meraih tangannya hingga membuatnya berada dalam pelukan hangat Shi Woon.
" Aku sangat merindukanmu." bisik Shi Woon mengeratkan pelukannya.
Disaat keduanya saling berpelukan dengan penuh kasih, ternyata sosok tak asing yang sejak tadi mengamati dari jauh justru terlihat bingung. Ia adalah Shin Ho yang menjadi penonton keromantisan mereka.
Ya, Shin Ho datang ke myeongdong karena ingin menemui sahabatnya— Shi Woon untuk membahas sesuatu yang penting. Namun saat tiba didepan gedung bertingkat itu, ia justru disuguhi pemandangan hangat.
Meski begitu Shin Ho tak merasa sakit melihat keduanya berpelukan, ia justru heran mengapa merasa baik-baik saja saat ini, sangat berbeda saat melihat Oya bersama Hong Sik tempo hari.
Aneh.
Sesuatu terasa begitu mencolok. Shin Ho mencari sesuatu yang tak dirasakannya seperti beberapa tahun lalu. Rasa sakit yang dulu selalu tercipta kala Emily bercerita tentang pria lain, kini menghilang begitu saja.
Memeriksa detak jantungnya, Shin Ho termangu saat degup jantungnya normal dan hatinya terasa baik-baik saja.
" Apa aku sungguh menyukainya?" ucapnya dengan tangan yang masih berada didada.
Sepersekian detik kemudian, tiba-tiba saja seseorang meraih tangan Shin Ho, membuat tubuhnya berbalik pada orang itu.
" Kau akan sakit hati jika melihat mereka." tutur orang itu yang tak lain adalah Oya.
Oya yang baru saja pulang berkencan, mendapati Shin Ho. Ia melihat pria tampan itu dari kejauhan, dan mengamati saat Shin Ho menyentuh dada. Oya beranggapan bahwa mungkin pria didepannya itu tengah sakit hati melihat kebersamaan Emily dan Shi Woon.
" Kenapa kau disini?" tanya Shin Ho dengan gugup. Jantungnya bertalu-talu saat dekat dengan Oya, terlebih lagi jarak mereka yang saat ini sangat dekat membuat jantungnya tak aman.
" Aku baru saja pulang... " Oya seketika terdiam, tak melanjutkan perkataannya. Tak mungkin mengatakan bahwa ia baru saja selesai berkencan dengan Hong Sik.
" Kenapa?" Shin Ho menyadarkan Oya yang tampak tercenung tiba-tiba.
" Bukan apa-apa. Pulanglah, cuaca sangat dingin." ucap Oya setelah menarik diri dari diamnya. Ia menoleh, dan melihat Emily juga Shi Woon yang sudah tak ada. Oya pun hendak berlalu, namun tangannya tiba-tiba dicekal oleh Shin Ho.
" Bisakah aku memastikan sesuatu?" ucap Shin Ho dengan ragu.
Oya mengernyit, tidak mengerti maksud pria gagah disampingnya. Sedangkan Shin Ho, ia perlahan mendekatkan diri seolah ingin memberikan ciuman.
Tapi pergerakannya terhenti saat degup jantungnya semakin tak terkontrol. Ia pun sadar bahwa saat ini memang dirinya sudah jatuh hati pada si cantik Oya.
" Maafkan aku. Aku akan pergi, selamat malam." ujarnya kemudian, membuat Oya keherangan.
" Ada apa dengan dia?" gumam Oya.