
Tiba diluar restaurant, Oya tiba-tiba berpapasan dengan Shin Ho. Seketika itu juga ia tak dapat menahan air matanya lagi hingga bulir kristal itu luruh begitu saja.
" Ada apa, kenapa kau menangis?" tanya Shin Ho hendak mendekat pada Oya. Namun buru-buru wanita cantik itu mundur selangkah dan menyeka air matanya.
Tanpa berucap sepatah kata, Oya berlalu begitu saja, membuat Shin Ho semakin kebingungan.
****
Sepanjang langkah kaki Oya, ia merenungi setiap ucapan Hong Sik beberapa saat lalu. Pandangannya kosong, ia berjalan namun pikirannya seakan tersesat entah dimana hingga tiba-tiba seseorang yang tengah melaju dengan sepeda menyerempet tubuh rampingnya.
Oya tak dapat mempertahankan keseimbangan tubuhnya, dan dia langsung terjatuh diatas tanah. Saat itu juga, luka lecet didapatkan, tak hanya itu karena hils satu senti yang dikenakannya ikut rusak.
" Aish, kenapa ini juga rusak." gerutu Oya dengan wajah masamnya. Menghela nafas kasar, mau tak mau ia menenteng hilsnya dan berjalan dengan kaki polos.
Sepanjang perjalanan, semua pasang mata menyorotnya dengan tatapan aneh. Oya tak memperdulikannya karena pikirannya masih terarah pada Hong Sik.
Lama berjalan kaki, tak terasa Oya sudah tiba dihalte bus. Tempat itu sepi, tak ada siapapun, hanya kendaraan dijalan raya yang berlalu lalang didepan halte bus. Melirik jam dipergelangan tangannya, wajah Oya terlihat sendu karena kini sudah menunjukkan waktu yang tidak akan mungkin mendapatkan bus tujuannya diwaktu dekat. Ia harus menunggu setengah hingga satu jam lagi.
Duduk tercenung dibangku halte bus, Oya kini memandangi kaki jenjangnya yang memerah serta ada sedikit lecet dipunggung kakinya. Setelahnya ia menyenderkan kepalanya, dan memejamkam mata sejenak. Namun tiba-tiba saja seseorang menghampiri, sontak Oya terjaga, ia membuka kelopak matanya dan melihat siapa orang itu.
" Shin Ho.." lirihnya melihat pria itu yang dengan telaten membersihkan kakinya dari kotoran debu.
" Yakk, kenapa kau berjalan tanpa alas kaki. Kau tau.. kakimu bisa terluka, dan rasanya pasti akan sakit."
Shin Ho mengomel seraya membersihkan kaki jenjang nan mulus Oya. Sementara Oya, ia yang tengah menyimak serentetan kata yang dilontarkan pria gagah didepannya, seketika merasa sedih.
Sesak bergemuruh dihati, dan ada air mata yang tertahan dipelupuk.
" Benar.. ternyata rasanya sakit." lirih Oya dengan mata berkaca-kaca, memandangi kakinya yang dibersihkan oleh Shin Ho.
" Aku belum menyukainya, dan baru akan belajar mencintainya.. tapi ternyata itu sangat menyakitkan. Hiks.. hiks.. hiks.. "
Tak dapat lagi membendung air matanya, Oya terisak pilu dihadapan Shin Ho sembari menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia sungguh tak menyangka bahwa malam ini dirinya akan berkabung dalam kesedihan.
Shin Ho tertegun, ia terdiam memandangi wanita cantik didepannya yang terisak pilu. Tak lama, Shin Ho bangkit dan memilih duduk disisi Oya. Ia juga menyenderkan kepala wanita itu dibahunya, membiarkan Oya menumpahkan tangis sesuka hati.
****
" Aku minta maaf.. aku seharusnya tidak seperti ini." tersadar dari tangis yang berkepanjangan, Oya buru-buru memperbaiki posisi duduknya. Pandangan tertunduk, ia tak mampu melihat Shin Ho karena merasa malu.
" Tidak apa-apa." seru Shin Ho tersenyum tipis.
" Apa kita bisa pulang?" tambahnya kemudian yang dijawab anggukan kecil oleh Oya.
Shin Ho lalu berjongkok membelakangi Oya, membuat gadis cantik itu kebingungan.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Oya dengan kening mengerut.
" Naiklah, aku akan menggendongmu sampai pulang. Lagipula hils mu rusak kan." jawab Shin Ho.
Oya tersadar, ia baru mengingat perkara hilsnya yang tidak bisa dipakai lagi hingga mau tak mau, dengan ragu ia mendekat pada Shin Ho.
...🌸🌸🌸...
Sepanjang perjalanan, wajah Oya bersemu merah. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertama dirinya bisa sangat dekat dengan pria yang disukainya.
" Yakk.. apa kau mengikutiku sejak tadi?" tanya Oya setelah terdiam lama.
" Humm." jawab Shin Ho seadanya. Sejak menggendong Oya, Shin Ho memang lebih banyak diam karena berusaha menutupi rasa gugupnya.
" Lain kali jangan menangis seperti tadi." ucap Shin Ho tiba-tiba.
" Kenapa?"
" Karena kau terlihat seperti sudah diputuskan oleh pacarmu." jawab Shin Ho dengan jujur, namun tanpa sadar semakin membuat Oya merasa malu.
" Yakk, turunkan aku. Aku akan berjalan sendiri." pinta Oya dengan nada kesal membuat Shin Ho mengulum senyumnya.
" Tetaplah seperti ini, kita akan sampai. Jika kau bergerak banyak, beratmu semakin terasa." celetuk Shin Ho yang dengan sengaja memancing kekesalan Oya.
Oya terdiam, ia bingung harus mengatakan apalagi karena sejujurnya dirinya merasa tak enak melihat Shin Ho yang sejak tadi menggendongnya.