
Apartemen Lingham Recidence.
Disebuah unit tepatnya dilantai sembilan, adalah hunian tempat Shin Ho tinggal saat ini. Pria tampan itu sudah tinggal diapartemen mewah itu selama beberapa tahun belakangan. Ia tinggal seorang diri, dan tak memiliki pelayan karena dirinya memang tidak menyukai bila ada orang lain didalam apartemennya.
Bahkan Shi Woon pun jarang berkunjung ketempatnya karena jika sahabatnya datang, maka ia akan segera mengusirnya. Itulah mengapa dia lebih menyukai bila Shi Woon mengajaknya bertemu di klinik saja.
Namun kali ini berbeda, karena malam ini ia tak sendiri sebab ada sosok lain didalam apartemennya. Seseorang yang dulu disukainya hingga mau tak mau harus membuka pintu dan membiarkan wanita cantik itu bertamu.
" Apa kau masih memikirkan berita itu?" tanya Shin Ho yang saat ini tengah duduk berdua bersama Emily diruang tamu. Dua gelas teh hangat menemani keduanya malam ini.
" Iya.." jawab Emily seadanya. Ia tak banyak bicara sejak berkunjung ke apartemen sahabatnya. Tapi anehnya, ia tak ingin sendiri malam ini, dan membutuhkan seseorang disampingnya.
" Kau masih belum mengatakan tujuanmu kemari." ucap Shin Ho lagi.
" Aku juga tidak tau. Tapi saat tau kau tidak menyukaiku lagi.. aku lebih berani bicara banyak hal denganmu." jelas Emily, beralih menatap Shin Ho, setelahnya ia kembali menyeruput teh hangatnya.
" Kalau tau seperti itu.. aku akan berhenti menyukaimu sejak dulu." balas Shin Ho dengan senyum tipisnya.
" Ah, bisakah aku menggunakan toiletmu?" tanya Emily kemudian.
" Tentu, pergilah." jawab Shin Ho.
Emily meletakkan cangkirnya diatas meja, dan segera berlalu. Selang beberapa saat, ia sudah datang, dan kembali duduk disamping Shin Ho.
" Sepertinya aku harus pulang, ini sudah sangat malam." ujar Emily setelah menyeruput habis tehnya.
" Oh, baiklah." ucap Shin Ho.
Emily beranjak, begitu juga dengan Shin Ho karena ia ingin mengantar sahabatnya.
****
Didepan lift, Shin Ho masih menemani Emily. Tadinya ia berniat mengantar wanita itu pulang, namun malah ditolak. Hingga mau tak mau hanya mengantar sahabatnya sampai didepan lift saja.
" Hati-hati dijalan, dan kabari aku jika sudah sampai." ujar Shin Ho.
" Humm." Emily mengangguk kecil dan segera masuk kedalam lift. Sedangkan Shin Ho, ia juga segera berlalu, hendak kembali ke unitnya.
Namun ia terkejut saat tak sengaja berpapasan dengan seorang wanita yang sangat familiar.
" Oya?" lirihnya menatap intens gadis itu. "Apa yang kau lakukan disini?"
" Aku... aku mengantar temanku. Dia habis minum, dan sangat mabuk jadi aku mengantarnya." jelas Oya dengan jujur.
" Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?" tanya Oya kemudian.
" Oh, aku tinggal disini." jawab Shin Ho seadanya.
" Ah, kalau begitu aku pergi dulu." Shin Ho bingung harus berbicara apa lagi, dan memilih segera berlalu.
" Tunggu." cegah Oya membuat langkah kaki Shin Ho tertahan.
" Ada apa?"
" Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Oya setelah berfikir sejenak.
" Tentu.. didalam rumahku saja." jawab Shin Ho, berjalan lebih.
****
Didalam apartemen Shin Ho, Oya merasa canggung. Ia sejujurnya merutuki kebodohannya didalam hati, karena terlalu penasaran akan cerita Kim- Jeon beberapa saat lalu, ia dengan tak sadar meminta waktu Shin Ho untuk berbicara meski sebenarnya merasa ragu apakah dirinya bisa bertanya atau tidak.
"Minumlah.. ini baik untuk kesehatan. Apalagi sekarang musim dingin, ini bisa menjaga daya tahan tubuhmu." tutur Shin Hoo menaruh segelas teh hangat diatas meja. Tak lupa dirinya menampilkan senyum tipis.
Sementara Oya, ia merasa sedikit canggung. Tentu saja, karena kini dirinya berada didalam satu atap bersama seorang pria. Lebih tepatnya didalam apartemen Shin Hoo.
" Apa kalian melakukan party?" tanya Shin Hoo setelah terdiam beberapa saat.
" Humm.. tidak juga. Saat pulang sore tadi, Kim- Jeon mengajakku minum. Aku tidak enak menolaknya, jadi aku bergabung dengannya dan yang lain juga. Ah, dia kebetulan tinggal diapartemen ini juga, aku tidak tau kalau kalian satu apartemen." jawab Oya yang masih merasa canggung.
" Minumlah lagi tehnya." ucap Shin Ho merasa bingung harus mengatakan apa hingga ia hanya mempersilahkan Oya dengan senyum lembutnya.
" Ah, terima kasih." balas Oya kembali meraih segelas teh hangat itu dan menyeruputnya.
" Kau tidak minum teh hangat?" tanya Oya yang menyadari hanya ada satu gelas teh diatas meja.
" Aku baru saja minum dengan.." ucapan Shin Ho menggantung saat ia tersadar bahwa tak mungkin mengatakan Emily baru saja berkunjung.
" Dengan?" Oya menautkan kedua alisnya.
" Aku harus bilang apa? Jika kukatakan Emily datang, dia pasti salah paham." gumam Shin Ho dalam hati.
" Dengan cemilan. Aku minum teh dengan cemilan." Shin Ho berbicara cepat, menutupi rasa gugupnya.
" Humm.." Oya mengangguk dan tersenyum.
" Oh, apa yang tadi ingin kau bicarakan?" tanya Shin Ho.
" Itu.. aku.." Oya tampak bingung harus memulai dari mana.
" Dimana toiletmu? bisakah aku ke toilet dulu." tambahnya kemudian saat merasa belum siap tuk bertanya.
" Toiletnya didalam, dari sini kau lurus saja." jelas Shin Ho. Oya mengangguk dan segera berlalu dengan cepat.
Tiba didalam toilet, ia menyalakan kran wastafel, mencuci wajahnya agar merasa lebih baik. Setelahnya, ia mengangkat pandangan dan menatap pantulan dirinya didalam cermin wastafel
"Aku bodoh sekali.. kenapa aku harus peduli dengan kisah hidupnya." gumam Oya tercenung sejenak. Ia lalu hendak pergi, namun sesuatu menghentikan langkah kakinya. Sebuah jam tangan yang sangat familiar, terletak didekat wastafel. Oya meraih benda itu, memastikan bahwa ia tak salah mengenali jam tangan itu.
" Benar, ini milik Emily." lirihnya dengan wajah sendu.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pintu dari luar sana, menyadarkan Oya yang tercenung dengan mata berkaca-kaca. Ia pun segera memasukkan jam tangan itu kedalam saku jas overcoatnya dan membuka pintu.
" Ada apa?" Oya berusaha terlihat baik-baik saja dihadapan Shin Ho.
" Seseorang menelfonmu." tutur Shin Ho memberikan ponsel pada siempunya.
Oya meraih benda pipih itu, dan melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Rupanya Hong Sik yang menghubungi, namun entah mengapa itu semakin membuat hatinya sakit.
" Kau tidak mengangkatnya?" tanya Shin Ho saat melihat Oya diam saja.
Oya mengabaikan Shin Ho, dan segera menjawab panggilan dari Hong Sik
" Ada apa Hong Sik?" tanya Oya saat panggilan sudah tersambung.
" Tidak.. aku hanya ingin mendengar suaramu." jawab Hong Sik diseberang telfon.
Shin Ho yang merasa diabaikan hendak berlalu, namun seketika mematung saat mendengar suara Oya.
" Mari bertemu besok."
" Kenapa tiba-tiba?" Hong Sik diseberang sana mengernyit bingung.
" Aku hanya ingin memberimu jawaban atas kencan kita kemarin." Oya menaikkan satu oktaf suaranya, dengan maksud agar Shin Ho mendengarnya.
" Baiklah, aku akan mengabarimu lagi nanti." tambah Oya yang lalu memutus panggilannya begitu saja.