
Tiga hari sebelum pernikahan.
Waktu berlalu begitu cepat, dan tak terasa hari bahagia yang sangat dinanti oleh Oya akan segera tiba. Hari dimana dirinya akan berstatus menjadi istri dari Shin Ho.
Semua sudah diatur sedemikian rupa, Shin Ho dan Oya juga sudah melakukan fitting gaun pernikahan dan memilih gedung untuk tempat dimana pestanya akan digelar.
Namun, disatu sisi Oya merasa sedih karena orang tuanya tak dapat hadir dihari bahagia dikarenakan Ayah dan Ibunya kurang sehat untuk bepergian jauh. Tak hanya itu, Oya juga cemas pada adiknya bungsunya karena sudah hampir seminggu dirinya menunggu Emily datang tapi sampai saat ini belum ada kabar dari sang adik.
...🌸🌸🌸...
Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan.
Waktu kini sudah menunjukkan sore hari. Dan rupanya cuaca disore ini tak baik. Langit sedikit gelap, pertanda hujan sebentar lagi akan turun.
Dari kejauhan terlihat seorang wanita cantik dengan gaya rambut easy bun dan mengenakan baju atasan berwarna putih yang dipadukan dengan celana kain hitam. Style gaya outfit wanita itu sederhana namun terlihat sangat elegant. Memakai hils empat senti, dan tas jinjing yang menggantung dipundak serta menyeret satu koper berukuran sedang.
Wanita itu baru saja tiba di bandara, ia berjalan keluar dari tempat umum itu seorang diri saja. Tiba diluar sana, ia menunggu taksi yang sebelumnya sudah ia pesan melalui benda pipih yang selalu ada bersamanya. Namun, dirinya sama sekali tak melihat satu taksi pun yang terparkir diluar. Dan tak lama, hujan juga turun. Menghela nafas panjang, wajah gadis cantik itu terlihat redup.
Ia lalu merogo tas jinjingnya, mencari ponsel untuk menghubungi seseorang. Namun belum sempat mendapatkan ponselnya, tiba-tiba saja didepannya tampak seorang pria gagah yang menyodorkan payung kepadanya. Mengangkat pandangannya, ia ingin melihat pria baik itu.
" Shi Woon.." suara wanita itu seakan dicekat saat menyerukan nama pria didepannya. Ia membeku ditempatnya dengan pandangan yang sangat intens.
" Apa kabar?" tanya Shi Woon dengan wajah sendu.
Keheningan terasa menyelimuti sekeliling mereka. Keduanya saling melempar tatap dengan mata berkaca-kaca.
" Aku baik. Kabarku sangat baik." jawab wanita itu yang tak lain adalah Emily.
" Hujan sangat deras, ambillah payung ini." Shi Woon memberikan payung hitam pada gadis cantik didepannya.
Emily masih tak bergeming, pandangannya masih pada wajah tampan Shi Woon. Namun tak lama ia meraih payung itu.
" Baiklah." balas Emily kemudian. Keduanya lalu berjalan bersama dengan memegang payung masing-masing.
Tak seperti dulu lagi karena kini semua sudah berbeda sejak Emily memutuskan sepihak hubungan asmaranya. Jika dahulu mereka selalu berjalan dengan tangan yang saling tertaut, kini keduanya harus berjalan dengan sekat diantara mereka.
...🌸🌸🌸...
Wedding Day
Disebuah ballroom hotel, terlihat sudah dihiasi dengan serangkaian dekorasi pernikahan bernuansa putih cream. Bunga dipasang dimana-mana, membuat tempat itu terlihat sangat mewah.
Terlihat juga sepasang pengantin yang berdiri dipelaminan. Keduanya sudah sah menjadi sepasang suami-istri beberapa menit lalu. Dan kini tinggal menjamu para tamu.
" Oya, selamat untuk pernikahanmu yah!" celetuk Jan- Seung mendekat pada kedua pengantin itu.
" Terima kasih." dengan ramah Oya menimpali, senyumnya pun tak pernah pudar sejak tadi.
" Wah, aku iri sekali Oya. Kau selalu diam, tapi ternyata langsung menikah dengan dokter Shin." sahut Na- Heol.
" Maaf, aku tidak bermaksud merahasiakannya dari kalian." tutur Oya seadanya.
" Oh, dimana Kim- Jeon?" tanya Oya yang baru menyadari bahwa salah satu teman dekatnya tak terlihat sejak tadi.
" Dia ada jadwal operasi darurat." jawab Na- Heol.
" Oh, begitu rupanya." Oya mengangguk, dan tak lupa tersenyum.
Jan- Seung dan Na- Heol segera berlalu karena bukan hanya mereka berdua yang akan memberi ucapan selamat pada sang pengantin.
Berbeda disatu tempat, tepatnya dipintu masuk ballroom hotel. Terlihat Shi Woon dan Emily yang tak sengaja berpapasan. Ya, ini adalah kali kedua mereka bertemu, karena setelah bertemu dibandara tiga hari yang lalu, Emily terus mengurung diri didalam rumah seolah tak memberi kesempatan untuk Shi Woon menemuinya.