Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 60



" Aish, kau itu bikin malu saja." gerutu Emily memolototi Shi Woon. Ia lalu melepaskan kekasihnya saat merasa pria didepannya tak bicara lagi.


" Sudahlah. Besok kita ketemu lagi." tambah Emily sebelum berlalu kedalam rumahnya.


" Yakk.. jangan lupa cari pekerja paruh waktu!" ucap Shi Woon setengah berteriak, namun Emily hanya mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa dirinya mengiyakan.


...🌸🌸🌸...


Waktu berlalu dengan cepat, jam dinding terus berputar pada porosnya, hingga kini hari sudah pagi. Terlihat wanita dengan piyama tidurnya, masih tidur dengan nyenyak diatas ranjang. Posisi terlentang dengan kepala yang tak memakai bantalan lagi.


" Yakk, Emily bangunlah. Sarapan." suara satu oktaf terdengar dari sang kakak yang tengah berdiri diambang pintu. Ia menggeleng mendapati posisi tidur adiknya yang sangat kacau.


Hening.


Oya yang melihat Emily tak bergeming hanya menghela nafas dan segera keluar dari kamar adiknya. Tak lama setelah kepergian sang kakak, tidur nyenyak Emily seketika terusik hingga mau tak mau ia segera bangun.


Duduk mematung diatas kasur, Emily masih mengumpulkan kesadarannya. Ia menggosok sebelah matanya saat kantuk terasa menyerang kembali.


" Perasaan tadi aku mendengar suara Oya. Apa aku cuman mimpi?" gumamnya seraya menggaruk kepala, membuat rambutnya semakin acak-acakan.


Karena kedua matanya yang masih terasa berat untuk dibuka, Emily menyipitkan mata saat menoleh dan menatap jam di dinding. Seketika itu juga mata indahnya membulat sempurna saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Yang itu berarti dirinya sangat terlambat untuk menemui Shi Woon.


Tak membuang waktu lama, buru-buru wanita dengan penampilan kacau itu beranjak dari kasur dengan sebelumnya meraih handuk dibelakang pintu kamarnya.


Setibanya diluar kamar, ia mendapati sang kakak yang tengah asik menyantap sarapan pagi seorang diri. Emily membeku ditempat, melihat kakaknya pagi ini seakan kejadian semalam ingin ditanyakan.


" Kau sudah bangun." suara Emily terdengar ragu dalam berucap.


" Ah, iya." balas Emily dengan kikuk. Ia seketika melupakan tujuannya tadi yang hendak membersihkan diri didalam bathroom.


Duduk dihadapan sang kakak, pandangan Emily justru terarah pada wanita cantik didepannya yang terlihat biasa saja, membuat Emily merasa aneh.


" Semalam... kau.. " jeda Emily sejenak.


" Ah, semalam aku bermimpi." potong Oya dengan cepat. Seakan tak ingin membiarkan adiknya melanjutkan ucapan.


" Kau mimpi apa?" tanya Emily yang langsung percaya begitu saja.


" Aku bermimpi.. aku menyelesaikan studi ku, dan Ayah Ibu datang memberiku selamat. Kak Raisyah, dan Oza.. mereka juga datang. Aku sangat senang, sampai semuanya terasa sangat nyata." dusta Oya, dengan mata berkaca-kaca.


Emily yang sudah percaya kini ikut sedih. Ia sebenarnya juga merindukan kedua orang tuanya, dan saudarinya. Namun untuk pulang ke negara sendiri tidaklah mudah, terlebih lagi usaha roti dokan yang dibuatnya kini mulai berjalan lancar dan memiliki beberapa pelanggan.


" Mereka pasti akan datang." hibur Emily dengan senyum manisnya.


Oya hanya mengangguk mendengar ucapan adiknya.


" Kau ingin kemana? Kenapa pagi seperti ini kau sangat rapi?" tanya Emily yang baru menyadari tampilan kakaknya dipagi hari.


" Aku akan mengikuti kelas terakhir, sebelum hari senin masuk ujian." jawab Oya.


" Kelas terakhir dihari weekend?" Emily mengernyit, tiga lipatan dikening bermunculan. Tatapannya terarah pada sang kakak, menanti jawaban dari pertanyaannya barusan.


" Iya, aku yang memintanya agar bisa menyelesaikan studi ku dengan cepat." ucap Oya.