
Setelah bersusah payah memapah Hong Sik menaiki tangga dan masuk kedalam rumah, kini Oya tengah memberikan pertolongan pertama pada pria dewasa itu. Karena pekerjaannya yang selalu mengutamakan keselamatan pasien, Oya dengan ketidakraguan langsung melepas jas dan kemeja Hong Sik hingga kini menampilkan dada bidang polos pria itu.
" Apa yang kau lakukan." lirih Hong Sik setengah sadar.
" Diamlah. Aku mengobati lukamu dulu." seru Oya.
" Kau melepas pakaianku." ucapnya lagi dengan suara yang sangat lemah.
" Apa kau punya masalah? Apa kau meminjam uang dari mereka sampai mereka memukuli tubuhmu seperti ini. Mereka pengecut sekali." alih-alih menanggapi ucapan Hong Sik, Oya justru mengomel dengan mata berkaca-kaca serta perasaan yang berkecamuk.
Hong Sik yang mendengarkan refleks membuka kelopak matanya dan menatap pada Oya yang dengan telaten mengobati luka ditubuhnya.
" Apa kau menangis." tanya Hong Sik.
Oya tak menyahut dan hanya sibuk melakukan kegiatannya sekarang.
...🌸🌸🌸...
Ditengah kererepotan Oya dalam mengurus Hong Sik, berbeda juga dengan adiknya, Emily saat ini sudah tiba dikedai tempat dimana Shi Woon dan Shin Ho berada.
Jika rambut Emily masih basah saat meninggalkan rumah, kini tidak lagi karena setelah berlarian menuju tempat tujuan, rambut hitam lebatnya itupun kering dengan sendirinya.
*****
" Shi Woon, astaga kau semabuk ini?" celetuk Emily melihat kondisi kekasihnya.
" Oh, Sayangku. Humm, kenapa kau disini." Shi Woon meracau dengan setengah kesadarannya.
" Aku sudah memberikan dia obat pengar, mungkin mabuknya akan hilang cepat." sahut Shin Ho yang sejak tadi hanya mengamati sepasang kekasih itu.
" Hei, Shin Ho." Shi Woon menyerukan nama sahabatnya dengan wajah memerah.
" Hei, Shi Woon. Ayo kita pulang."
Buru-buru Emily membantu kekasihnya berdiri agar kedua pria tampan itu tak larut dalam perbincangan.
Shin Ho masih bungkam, dan hanya mampu melihat sepasang kekasih itu berlalu.
...🌸🌸🌸...
Pulang dengan berjalan kaki, rasa mabuk Shi Woon kini mulai hilang. Cuaca dingin dimalam hari membuat kesadarannya cepat pulih. Ia dan Emily saat ini tengah menyusuri jalan trotoar. Salju turun, mengiringi langkah kaki keduanya yang saling bergenggaman tangan dengan erat.
" Kenapa kau mengajakku berjalan disini?" tanya Shi Woon menoleh dan menatap intens kekasihnya.
" Kenapa, apa yang salah dengan jalan ini." Emily balik bertanya hingga membuat langkah Shi Woon berhenti.
" Apa kau tau.. tentang Deoksugung Stonewall Walkway?" tanya Shi Woon memandangi wajah Emily.
" Tentu.. katanya tembok cantik ini tidak bisa dilalui oleh sepasang kekasih karena mereka pasti akan putus." jawab Emily seadanya.
" Kalau begitu, ayo kita putar balik." Shi Woon hendak hengkang, namun tersadar saat Emily justru enggan mengikutinya dan memilih berdiam diri.
" Ada apa?" tanyanya membalas tatapan wanitanya yang seakan menyiratkan sesuatu.
" Apa kau percaya mitos itu?" Emily menatap lekat wajah tampan pria didepannya.
" Tentu saja.. karena memang pernah terjadi." jawab Shi Woon.
Mendengar jawaban prianya, Emily dibuat tersenyum sendiri. Dia lalu mendekat dan membingkai wajah Shi Woon dengan kedua tangan mungilnya.
" Kau tidak boleh beranggapan seperti itu karena kita tidak tau apa alasan sebenarnya mereka berpisah. Bisa saja karena komitmennya yang tidak kuat atau mereka memang tidak memiliki kecocokan. Diluar sana banyak orang yang berpisah bukan hanya karena melewati jalan ini, tapi karena beberapa alasan pribadi." jelas Emily menatap lekat wajah Shi Woon.