
Pemakaman Seoul, Korea Selatan.
Waktu berlalu cepat, dan hari-hari yang dilalui Shin Ho juga tak banyak yang berubah. Ia masih meratapi semua kenyataan yang ada, bahkan untuk berkunjung ditempat pemakaman sang Ayah, ia butuh waktu beberapa hari.
Namun sebelum mengunjungi Ayahnya, sosok Hong Sik lebih dulu datang dengan membawa buket bunga mini.
Dengan setelan kemeja putih yang dipadukan jas hitam, Hong Sik berjalan melewati beberapa pemakaman untuk sampai ditempat tujuannya.
Sebuah pemakaman sederhana yang terletak tepat disamping mending Ibu kandungnya, tiba-tiba air mata Hong Sik luruh. Pria tampan itu tak kuasa menahan tangis saat berdiri ditengah-tengah makan sang ibu kandung dan ayah kandung Shin Ho.
" Hai, apa kabar Ibu." sapa Hong Sik dengan wajah sendu. Setelahnya ia beralih pada makam ayah Shin Ho.
" Bisakah aku memanggilmu Ayah? Kupikir... aku dan Shin Ho pernah menjadi saudara jadi mungkin aku bisa memanggilmu sebagai Ayahku." jeda Hong Sik, meletakkan buket bunga didepan makam Ayah Hyun Joon.
" Maafkan aku.. aku selama ini tidak memperlakukan Shin Ho dengan baik. Kau tau.. aku iri pada putramu. Dia memiliki Ayah yang baik sepertimu.. Ayah yang berkorban nyama agar putranya mendapat kehidupan yang lebih baik. Aku tau ini mungkin sudah terlambat, tapi terima kasih. Aku terlambat menyadarinya, tapi karena dirimu... saat itu aku masih bisa punya waktu bermain dengan Ibuku." tuturnya dengan tulus.
" Hong Sik?"
Suara berat seorang pria yang tiba-tiba menyerukan nama Hong Sik, sontak membuat pria tampan itu menolah pada sumber suara. Seketika itu juga Hong Sik terkejut saat ternyata dibelakangnya tampak Shin Ho yang menatap nanar padanya.
" Apa kau sudah tau semuanya?" tanya Shin Ho dengan tegas.
Hong Sik tak memberi jawaban, dia bungkam dengan bibir terkatup rapat, dan memalingkan wajahnya saat tatapan Shin Ho tak kunjung lepas darinya.
" Tidak." jeda Hong Sik menelan salivanya. Ia berfikir sejenak, mencari alasan yang tepat untuk diucapkan.
" Aku baru mengetahuinya dari Shi Woon kemarin." lanjutnya yang kemudian menatap jam mewah dipergelangan tangannya. "Kurasa aku harus pergi, aku punya banyak urusan dikantor." tambahnya hendak berlalu, namun tiba-tiba saja Shin Ho menahannya agar tak berlalu.
" Aku ingin meminta sesuatu!" ujar Shin Ho dengan tatapan lurus kedepan.
Hong Sik terdiam, menanti apa yang akan Shin Ho katakan.
" Kau taukan.. sebuah nyawa itu tidak ada harganya. Tapi karena Ayahmu sudah terlanjur membeli nyawa Ayahku.. kupikir apa yang kudapatkan selama ini belum cukup sebagai bayarannya." tutur Shin Ho dengan wajah datarnya.
Hong Sik masih diam, ia sejujurnya belum mengerti arti pembicaraan mantan adik angkatnya.
" Lalu?" tanya Hong Sik setelah terdiam beberapa saat.
" Aku ingin kau yang membayarnya diakhir, dengan cinta dan kebahagiaan." terang Shin Ho membuat Hong Sik termangu.
" Apa maksudmu?" Hong Sik mulai emosi, ia menghempas kasar tangan Shin Ho yang sejak tadi menahannya.
" Oya.. aku ingin kau melepaskan Oya untukku. Karena dia adalah cinta dan kebahagiaanmu setelah Ibumu, dan aku juga bahagia saat bersama Oya.. jadi berikan dia padaku."
Deg.
Degup jantung Hong Sik seketika berpacu mendengar permintaan Shin Ho yang begitu mendadak. Ia sungguh terkejut karena tidak pernah menyangka bahwa sosok Shin Ho akan meminta sebab mantan adik angkatnya itu tak pernah meminta dan hanya selalu menerima pemberian dari keluarga Choi.
" Kau gila?" Hong Sik mendelik tajam pada Shin Ho.
" Humm, aku gila." jawab Shin Ho menolah dan menatap intens manik mata pria dewasa didepannya.
" Selama ini aku merasa sudah terlalu banyak menggunakan uang keluargamu.. dari sekolah, membeli apartemen, membeli mobil mewah, dan mendirikan klinik besar seorang diri. Jadi sekarang aku ingin meminta hal yang berbeda.. untuk terakhir kalinya." jelas Shin Ho dengan santai.
" Walaupun kau memiliki Oya.. Ayahmu tidak akan pernah mengizinkanmu dengan dia. Aku memberitaumu.. agar tidak menyesal dengan pilihanmu." ucap Shin Ho mengingatkan hingga membuat langkah kaki Hong Sik terhenti.
Sepersekian detik kemudian, Hong Sik kembali melangkah, berjalan gontai dan segera meninggalkan pemakaman.
Sementara Shin Ho, pria itu menghela nafas kasar karena merasa gagal membujuk Hong Sik. Ia lalu beralih pada makam sang Ayah, menatap dengan tatapan sendu.
" Ayah bohong padaku." ucapnya tersenyum getir.
" Ayah bilang akan baik-baik saja, dan aku tidak perlu khawatir. Ternyata Ayah pergi tanpa kembali lagi." Shin Ho meneteskan air matanya, kesedihan kembali menyeruak dihatinya.
" Apa Ayah sangat menyayangiku?"
" Iya, aku tau Ayah menyayangiku.. itu sebabnya Ayah rela melakukan semua ini agar cita-citaku terwujud. Tapi Ayah tidak tau.. alasan aku ingin menjadi dokter itu karena aku ingin Ayah menjadi pasien pertamaku."
Sesak terasa sangat begitu bergejolak didada, Shin Ho terus menitikkan air matanya. Semangat hidupnya benar-benar hilang hingga untuk mengukir senyum didepan makam sang Ayah pun tak sanggup.
...🌸🌸🌸...
Kediaman Choi.
Tengah hari dikediaman Choi, tampak siempunya rumah saat ini tengah bersantai. Tak ada hal lain yang dilakukannya karena semasa muda sudah sangat sibuk berjuang.
Kini Tuan Choi berada diruang baca, ia sangat fokus pada buku yang dipegangnya. Namun seketika terganggu saat tiba-tiba seseorang dari luar ruangan menerobos masuk kedalam ruang pribadinya.
Mengangkat pandangan dan menatap nanar pada orang itu, Tuan Choi kembali melanjutkan bacaannya pada buku didepannya saat sudah melihat siapa sosok yang begitu lancang masuk kedalam ruangannya.
" Ayah.. kenapa kau melakukan semua ini tanpa memberitahu kami?" nada bicara Shi Woon datar, ia menatap intens pada pria paruh baya yang tengah duduk dengan tenang. Ia mengabaikan asisten Ayahnya yang selalu setia menemani.
Beberapa hari menahan diri dirumah myeongdong, Shi Woon akhirnya datang dihari ini untuk meminta penjelasan atas apa yang disampaikan Nyonya Young dirumah sakitnya.
Hening menyapa, Tuan Choi enggan tuk menjelaskan. Ia tetap saja fokus pada satu titik tanpa memperdulikan putra bungsunya.
" Ayah.." kembali Shi Woon bersuara, ia masih dengan sabar menanti pria paruh baya itu untuk berbicara.
" Ayah sudah mengatur pertunanganmu dengan Lii Kyung. Sebaiknya persiapkan dirimu."
Lama menyibukkan diri pada bacaannya, Tuan Choi akhirnya bersuara tanpa menatap lawan bicaranya.
" Apa?" Shi Woon mulai terlihat kesal terlebih lagi saat mendengar ucapan Ayahnya.
" Apa Ayah gila? Ayah.. sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikahi Lii Kyung." ucap Shi Woon dengan tegas.
" Terserah padamu.. tapi Ayah tetap akan melakukan apa yang menurut Ayah baik." balas Tuan Choi dengan enteng.
Mendengar itu, Shi Woon semakin dibuat kesal hingga mau tak mau hendak meninggalkan ruangan Ayahnya.
" Kau akan menyesal jika tidak mendengarkan Ayah."
Langkah kaki Shi Woon tertahan, ia terdiam ditempat dengan kening mengernyit.
" Ayah jangan melakukan hal gila. Jangan pernah menyentuh Emily." sergah Shi Woon dengan serius. Namun lagi-lagi Ayahnya tak mereposnnya, dan tetap sibuk pada kegiatan sendiri.