Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 63



Sementara dilain tempat, Shi Woon yang tengah dihubungi oleh Pak Han, hanya melirik sekilas pada ponselnya yang bergetar diatas meja. Emily tak melihat hal itu sebab kini sangat asik menikmati tteokbokki hangat didepannya.


Drt. Drt. Drt.


Benda pipih berbentuk persegi panjang itu dengan logo khas ponsel Korea, tampak berdering kembali tiga kali. Namun Shi Woon masih enggan tuk menjawabnya, dan tetap memilih tuk mengabaikan.


" Yakk, ada yang menelfonmu. Angkatlah!" Emily yang baru tersadar segera bersuara, mengingatkan kekasihnya.


" Ah, tidak perlu. Ini hanya dari Shin Ho." dusta Shi Woon karena tak ingin jika wanitanya merasa risih saat mengetahui bahwa si pemanggil ternyata dari orang Ayahnya.


" Eish, kau itu." seloroh Emily yang memilih diam dan kembali menikmati makanannya.


Drt. Drt. Drt.


Kembali ponsel Shi Woon berdering, namun kali ini bukannya menjawab, Shi Woon justru dengan sigap menonaktifkan ponselnya, membuat sipenelfon diseberang sana menjadi khawatir.


" Tuan Choi.. Tuan Shi Woon tidak menjawabnya." lapor Pak Han pada majikannya yang tengah bermain golf.


" Telfon lagi sampai dia angkat." titah Tuan Choi yang tak ingin menerima alasan apapun.


" Tapi sepertinya Tuan Shi Woon mematikan ponselnya." jelas Pak Han.


" Apa?" Tuan Choi mendadak berhenti dari permainannya. Sorot matanya kini sangat tajam pada Pak Han, membuat hati asistennya ketar-ketir.


" Kirim pengawal untuk mencari anak itu, dan suruh mereka menyampaikan pesanku pada anak itu kalau Ayahnya ingin bermain golf." perintah Tuan Choi dengan begitu dingin.


" Baik, Tuan." seru Pak Han segera berlalu.


Setelah berlalunya Pak Han, tak lama Hong Sik datang dengan setelan berbeda dari Ayahnya. Sontak membuat dirinya mendapatkan tatapan tajam dari sang Ayah.


" Kenapa kau memakai pakaian seperti itu? Ayah memintamu bermain golf, bukan untuk bersantai" ucap Tuan Choi menahan kekesalan dihati. Sudah cukup masalah dari putra bungsunya, kini putra sulungnya ikut bertingkah.



" Ada apa? Apa yang salah dengan tampilanku?" Hong Sik seakan merasa tak bersalah, tampak santai meski tau bahwa Ayahnya sangat kesal.


Mendengar penuturan santai putranya, Tuan Choi pun menghela nafas kasar. Ia lalu memilih mengabaikan Hong Sik dan melanjutkan permainan golf nya.


...🌸🌸🌸...


Hari berlalu, dan kini waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Masih bersama dengan orang yang disayanginya, setelah makan tteokbokki, Shi Woon dan Emily melanjutkan kencan diberbagai tempat. Mereka bahkan mendatangi wahana bermain, serta tempat menyenangkan lainnya.


Kini kedua pasangan itu tengah berjalan kaki menyusuri trotoar sembari menikmati es krim yang dibelinya dikedai pinggiran jalan.


" Apa kau suka rasa strawbery nya?" tanya Shi Woon yang sejak tadi menggenggam tangan Emily.


" Aku ingin mencobanya." ucap Shi Woon yang memang rasa es krimnya tak seperti Emily. Shi Woon menyukai rasa vanilla, itu sebabnya ia memilih rasa kesukaannya sendiri.


" Cobalah." Emily menghentikan langkahnya, menyodorkan es krim miliknya. Namun entah mengapa, tiba-tiba saja Shi Woon mengecup bibirnya tanpa permisi. Sontak ia terkejut dengan mata yang membulat.


" Humm, rasanya benar-benar manis." seloroh Shi Woon yang merasa senang karena bisa menjahili kekasihnya.


" Yakk, kau itu. Ini tempat umum." gerutu Emily dengan kesal.


" Kenapa memangnya? Bukankah aku hanya mencium pacarku." jawab Shi Woon dengan santai.


Mendengar ucapan Shi Woon, Emily menghela nafas dan segera berjalan lebih dulu.


" Emily, tunggu aku." Shi Woon mengejar kekasihnya, berusaha meraih tangan wanitanya untuk mensejajarkan langkah kakinya.


" Kau marah?" tanya Shi Woon yang kini berjalan beriringan disamping Emily.


" Entahlah." jawab Emily singkat. Ia tak memperdulikan Shi Woon dan dengan cepat menghabiskan es krimnya, begitu juga dengan Shi Woon karena dirinya harus membujuk kekasihnya.


" Ayolah, aku janji tidak akan mengulanginya." bujuk Shi Woon, meraih tangan Emily hingga pandangan mereka bertemu.


" Baiklah." ucap Emily kemudian setelah berfikir sesaat, namun ia memalingkan wajahnya tak ingin menatap wajah Shi Woon yang terlihat memelas.


" Terima kasih, Sayang."


Ucapan Shi Woon sukses menarik perhatian Emily. Wanita itu sontak menoleh karena untuk pertama kali ia mendengar pria tampan didepannya berbicara dengan sangat mesra.


" Apa aku bisa memelukmu?" tanya Shi Woon kemudian saat melihat Emily diam saja.


" Tidak boleh, ini tempat umum." Emily menolak dengan cepat.


" Baiklah, aku akan memeluk bayanganmu saja." seru Shi Woon tersenyum manis.


" Lihatlah, walau kita tidak berpelukan, tapi bayangan kita menyatu." ujarnya memperlihatkan bayangannya dibawah sana.


Emily tersenyum lebar. Ia merasa bahwa saat ini tengah bersama Shi Woon yang berbeda. Shi Woon yang menurutnya lebih hangat dari biasanya.


" Aku berharap bayangan kita selalu bersama." lirih Emily.


" Tentu saja, untuk itu kita harus selalu bersama juga." Shi Woon menimpali dengan cepat.


Emily tak menanggapi dan hanya memperlihatkan raut wajah bahagianya.


" Ayo, kita jalan lagi." ucap Shi Woon meraih tangan kekasihnya.