
" Kenapa Dokter Woon disini?" tanya Oya.
" Hum.. aku lupa mengenalkan diri." Shi Woon mengulurkan tangan.
" Aku adalah pemilik baru gedung ini. Aku akan tinggal disebelahmu, jadi kita tetangga." lanjutnya.
Oya terlihat ragu, namun perlahan dirinya menerima uluran tangan Shi Woon.
" Santai saja, dirumah sakit mungkin kau adalah bawahan. Tapi disini, kita adalah tetangga. Tetangga harus saling membantukan." seloroh Shi Woon dengan ramah saat melihat Oya yang canggung.
Oya hanya tersenyum.
" Baiklah, aku akan masuk dulu. Selamat malam." pamit Oya dengan sopan.
Shi Woon hanya membalas dengan anggukan pelan sembari tersenyum.
Didalam rumah, Oya langsung melepas sepatunya dan memakai sendal rumah. Ia lalu mencari keberadaan adiknya yang ternyata ada dikamar.
" Emily, wah.. Dokter Woon pindah kesebelah." pekik Oya.
Emily yang tengah mengerjakan sesuatu dilayar laptop tak bereaksi apapun. Ia hanya melirik sekilas pada kakaknya dan mengangguk kecil.
" Sepertinya dugaanku benar, dia menyukaimu." lanjut Oya yang masih berdiri diambang pintu.
Emily sontak terbelalak dan menoleh pada kakaknya.
" Aish, mana mungkin. Dia itu hanya kurang kerjaan." Emily menyangkal karena memang dirinya tidak mempercayai apa yang barusan sang kakak ucapkan.
" Kurang kerjaan bagaimana, sudah jelas - jelas dia menyukaimu. Buktinya.. kalau dipikir lagi, dia itu bisa memesan roti enak dan super mahal ditoko - toko besar, tapi kenapa dia memilih membeli ditempatmu. Dan lagi, dia menyuruhmu untuk mengantarnya. Oh iya, satu lagi.. ini bukan yang pertama kalinya tapi sudah lebih dari satu kali dia memesan roti Dokan." jelas Oya panjang lebar.
Raut wajah Emily refleks berubah, seakan dirinya memang menolak kenyataan yang dikatakan kakaknya.
Tak lama Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri sang kakak.
" Baiklah, kalau begitu silahkan keluar kakakku yang cantik dan manis." ujarnya mendorong pelan tubuh Oya agar lekas keluar dari kamarnya. Setelahnya Ia menutup rapat pintu kamar.
" Emily tunggu, Emily.. aku belum selesai bicara." gerutu Oya menggedor pintu.
" Ayah dan Ibu menelfonku, mereka menyuruhmu pulang bulan depan. Dia merindukanmu." lanjutnya setengah berteriak.
...🌸🌸🌸...
Keesokan harinya, dipagi hari yang cerah pukul enam pagi tampak Oya yang sudah siap dengan setelan kerjanya kini tengah berada dimeja makan bersama sang adik.
" Kak, apakah kau berniat untuk menetap disini?" tanya Emily tiba - tiba.
Oya seketika menghentikan kegiatan menyantap rotinya.
" Entahlah. Sekarang aku melanjutkan study kedokteran, jika menyelesaikan itu aku akan menjadi dokter tetap disini." tutur Oya.
" Aku akan kembali ke Indonesia bulan depan." ucap Emily lagi.
Oya mengernyit.
" Kenapa? Bukankah disini cukup strategis untuk merintis usahamu?" Oya menatap intens wajah adiknya.
" Aku mungkin tidak cocok disini, lebih baik aku kembali. Ayah dan Ibu juga menungguku." terang Emily.
Ting.. Ting..
Perbincangan kakak - beradik itu terjeda saat bunyi bel berbunyi. Oya segera berdiri dari duduknya dan berjalan cepat membuka pintu.
" Good morning tetangga." seloroh Shi Woon dengan semringah.
Oya seketika terkejut apalagi saat Shi Woon menyodorkan kue beras tepat didepan wajahnya.
" Ini masih pagi Dokter Woon." ucap Oya.
" Eits, panggil saja aku Shi Woon. Kita kan tetangga." Shi Woon mengingatkan wanita dewasa dihadapannya.
" Oh, baiklah." balas Oya hendak mengambil sepiring kue beras yang disodorkan Shi Woon untuknya.
Namun mendadak Shi Woon menarik ulur. "Dimana adikmu?" tanyanya.
" Dia ada didalam."