Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 76



Pesan hangat dari Hong Sik, membuat Oya mengulum senyumnya dipagi hari. Ia tak membalas pesan Hong Sik dan menaruh asal ponselnya diatas ranjang.


" Ada dengan dia.. masih pagi sudah bicara manis. Seperti adiknya, dia kurang kerjaan." gumam Oya dengan senyum tipisnya.


Ting.


Tak lama terdengar kembali suara notifikasi dari benda pipih itu. Oya langsung meraih ponselnya, dan memeriksa pesan yang masuk.


" Kencan kita semalam, aku harap kau bisa membuat keputusan hari ini, atau besok juga tidak apa-apa."


Seuntaian kalimat penuh harap dari Hong Sik, Oya yang membacanya seketika tercenung. Ia tak tau harus membalas dengan kalimat apa, dan menjelaskan perasaannya bagaimana. Karena tak ingin mengacaukan harinya dengan memikirkan tentang asmara, ia kembali melanjutkan kegiatannya dan segera keluar dari kamar.


Namun setibanya diluar, ia tak lagi mendapati Emily. Ruang makan sudah sepi, diatas meja hanya ada telur goreng dan juga nasi putih.


" Baik sekali dia hari ini." Oya segera duduk dikursi dan mulai menyantap sarapan sederhana kesukaannya.


Sementara disatu sisi, Emily yang baru meninggalkan rumah kini terlihat menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Ia sudah tak sabar membuka toko rotinya terlebih lagi pagi ini akan ada pekerja paruh waktunya yang akan datang. Namun saat berada didepan toko, rupanya Hae Sun sudah tiba lebih dulu.


" Selamat pagi." sapa Hae Sun seraya memasang tampang manisnya.


" Hoho.. kau hebat. Hari pertama sudah tepat waktu." Emily membalas dengan sangat ramah. Meski terlahir dari orang tua yang sama, tapi Emily dan Oya memang memiliki kepribadian yang berbeda. Ia tak seperti Oya yang tidak mudah berbaur dengan orang baru.


" Tunggu, sejak kapan kau ada disini?" tanya Emily kemudian.


" Belum lama juga." jawab Hae Sun seadanya.


" Humm, baiklah." ucap Emily dan segera membuka toko rotinya.


...🌸🌸🌸...


Rumah Sakit Universitas Choi Sun.


Setelahnya segera masuk kedalam gedung bertingkat dihadapannya. Namun langkah kaki Shi Woon terhenti saat samar-samar indera pendengarannya menangkap suara seseorang yang saling berbisik dengan menyebut nama wanitanya.


" Hei, apakah Dokter Woon benar-benar berkencan dengan gadis asing?"


" Sepertinya begitu."


" Aku melihat mereka tidak serasi."


" Benar sekali. Menurutku, Dokter Woon terlalu hebat untuk gadis biasa yang dikencani nya."


Ocehan dari orang-orang disekitar Shi Woon kini sangat mengusiknya. Ia tak mengerti apa yang saat ini dibahas oleh semua orang didalam rumah sakir, tapi entah mengapa Shi Woon memiliki feeling buruk hari ini.


Drt. Drt. Drt.


" Dokter Woon."


Dering ponsel disaku jas overcoat, diiringi panggilan dari seorang perawat senior, menyadarkan Shi Woon saat ia hendak menajamkan pendengarannya


" Ada apa?" tanya Shi Woon pada perawat didepannya.


" Dokter Jin Ah sedang mengoperasi pasien dilantai tiga, dia minta tolong agar Dokter Woon bisa menggantikannya untuk operasi pasien yang dirawat di kamar VIP." tutur perawat itu.


" Pasien dikamar VIP?" Shi Woon terkejut. Bagaimana tidak, pasien yang dimaksud oleh perawat didepannya, baru saja selesai menjalani operasi dua hari yang lalu dan kini akan kembali dioperasi lagi.


" Iya, Dokter Woon. Pasiennya mengalami komplikasi jantung, dan keluarganya menuntut. Katanya operasi yang Dokter Woon lakukan kemarin bermasalah." jelas sang perawat.


" Baiklah, siapkan ruang operasinya. Aku akan menangani keluarganya dulu sebelum operasinya dimulai." ucap Shi Woon bergegas pergi. Ia tak lagi memperdulikan ponselnya yang berdering hebat sejak tadi. Bahkan sipemanggil sudah menelfon lebih dari sekali, namun Shi Woon malah mengabaikannya.