
Deg.
Oya dan Shin Ho sontak terkejut. Wanita dengan sweater hijau botol itu tampak tertegun ditempat, sementara Shin Ho, ia memeriksa detak jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang dan terasa perih seketika. Seolah hatinya tercubit, membuat Shin Ho kebingungan.
Jika melihatnya bersama orang lain, maka hatimu pasti akan sakit. Kau akan merasa kehilangan sesuatu, dan tidak akan kau tau apa itu. Periksa jantungmu, apakah terasa sakit jika dia bersama orang lain atau tidak.
Perkataan Kakek Kwon beberapa saat lalu, kembali terngiang jelas dibenak Shin Ho. Pria gagah itu membeku ditempat dengan bibir terkatup rapat. Sakit ia rasakan.
" Ternyata sakit, benar-benar sakit." lirihnya, memalingkan wajah karena tak ingin melihat Oya dan Hong Sik lebih lama.
Semua yang Shin Ho lihat malam ini seakan membuat kepercayaan dirinya menghilang. Ia tak mengerti, mengapa selalu jatuh hati pada wanita yang disukai pria yang sudah dianggapnya sebagai saudara.
Tak jauh dari itu, ternyata ada Emily yang mengamati ketiganya dari dalam toko. Karena jendela kaca yang begitu besar, dan hampir tak tersisa tembok, Emily dengan leluasa dapat melihat apa yang terjadi diluar sana.
" Ada apa dengan mereka? Apa mereka terlibat cinta segitiga? Wah.. kakakku diam sebagai perawat, sekali bergerak langsung mendapat dua laki-laki gagah." seloroh Emily, bermonolog pada dirinya sendiri.
" Hum.. Tunggu dulu." Emily berbicara seorang diri, ia menghentikan kegiatan membuat kuenya dan tampak berfikir sejenak.
" Itu berarti Shin Ho benar tidak menyukaiku lagi?" tanya pada diri sendiri. Sedetik kemudian, senyum mengembang diwajah cantiknya. Dua bulatan terlihat jelas dipipi saat senyuman itu semakin melebar.
" Syukurlah." tambahnya merasa bahagia sendiri.
Drt.. drt.. drt..
" Humm, ada apa?" tanya Emily dengan pandangan masih terarah pada Oya diluar sana.
" Aku hanya ingin mendengar suaramu saja." jawab Shi Woon diseberang telfon.
" Oh, lalu kenapa kau belum pulang. Pulang saja, lagipula aku juga ingin melihatmu." balas Emily dengan menahan malu, sebab untuk pertama kali ia berlaku sangat hangat pada seorang pria.
" Yakk.. jangan menggodaku. Aku bisa lompat dari sini, dan langsung ada didepanmu."
Shi Woon yang saat ini masih dirumah sakit, menyengir sendiri. Mengulum senyum karena ucapan sang kekasih.
" Aihh.. aku tidak bohong. Hanya saja... " jeda Emily membuat Shi Woon mengernyit.
" Yakk.. ada apa dengan dia. Oya pingsan!"
Pekikan panik Emily yang begitu tiba-tiba terdengar jelas. Shi Woon sontak terkejut, dan tak lama panggilan itu pun terputus begitu saja.
Emily melepas celemeknya dengan tergesa-gesa dan segera berlari keluar dari tokonya. Ia menghampiri Oya yang sudah terbaring diatas tanah dengan kedua mata yang terpejam.
" Yeah, apa yang kau lihat. Bantu aku membawa kakakku kedalam rumah." teriak Emily pada Hong Sik. Ia sudah tak sadar hingga tak bisa mengontrol dirinya. Untuk pertama kali setelah dua tahun yang lalu Oya pingsan, tentu saja membuat Emily tak bisa berfikir jernih lagi.
Hong Sik yang mendengar suara meninggi dari wanita cantik didepannya, dengan cekatan membantu Oya. Ia menggendong tubuh lemah itu dan membawanya kedalam rumah. Sementara Emily, ia buru-buru mendahului langkah kaki Hong Sik.