Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 79



Kediaman Choi.


BRAK!


Suara pintu utama yang dibuka dengan sangat kasar, membuat si empunya rumah sontak terkejut. Tuan Choi yang tengah bersantai disofa empuknya sembari membaca majalah, menoleh pada si pembuat onar.


Waktu santainya terganggu, Tuan Choi mengirim tatapan tajam pada putranya yang berdiri diambang pintu.


" Apa kau tidak punya sopan santun? Seharusnya kau memberi salam pada orang tua jika mendatangi rumahnya." bentak Tuan Choi dengan kasar.


" Cih, kurasa kau belum tau arti dari sebuah rumah." sinis Shi Woon berjalan mendekat pada Ayahnya.


" Rumah bukan hanya tempat kita tinggal, tapi tempat dimana kita harus merasa nyaman. Tapi.. apakah Kakakku bahagia tinggal dirumah ini?" tambahnya mendelik tajam pada Tuan Choi.


" Shi Woon!." bentak Tuan Choi saat mendengar ucapan putranya yang sudah sangat kelewatan.


Shi Woon mengabaikan Ayahnya, ia berlalu meninggalkan pria paruh baya itu tanpa sepatah kata lagi. Karena memang tujuannya pulang bukan untuk berdebat dengan sang Ayah, namun menemui untuk menyelesai urusan dengan Ibu tirinya yang diyakini penyebab kekacauan saat ini.


Ceklek.


Tanpa mengetuk pintu, Shi Woon menerobos masuk kedalam kamar Nyonya Young. Wajahnya kini memerah, menahan amarah yang sejak tadi menggumpal.


" Kenapa kau melakukannya." suara berat Shi Woon terdengar begitu dingin. Sorot matanya sangat tajam pada Nyonya Young.


Nyonya Young yang hendak menyeruput teh hangat seketika terhenti saat Shi Woon tiba-tiba muncul dihadapannya.


" Memangnya aku melakukan apa?" tanya Nyonya Young berpura-pura tak tau pada apa yang terjadi saat ini.


Nyonya Young melirik sekilas sebelum ia menyeringai licik. "Bukankah berita itu sedang viral." ucapnya menaruh cangkir tehnya diatas meja.


" Lihatlah, bukan aku saja yang tidak suka dengan hubunganmu. Dan bukan Ayahmu saja yang tidak suka dengan wanita itu, tapi seluruh penduduk seoul juga tidak menyukai hubunganmu. Jadi berhentilah, dan selesaikan hubunganmu dengan dia sebelum semuanya semakin kacau." tutur Nyonya Young tersenyum tipis.


" Ah, jadi kau ingin bermain licik rupanya." Shi Woon menghela nafas kasar, ia kini sungguh merasa kesal namun berusaha untuk mengontrol amarahnya.


Hening menyergap, Nyonya Young tak menyahut dan dengan santai meraih salah satu buku novel kesukaannya yang tersusun rapi diatas meja kayu. Shi Woon yang melihat itu benar-benar semakin dibuat kesal.


" Yakk.. aku berbicara bukan sebagai keluargamu lagi." jeda Shi Woon, sementara Nyonya Young sontak mengangkat pandangannya saat mendengar nada bicara pria muda didepannya yang tampak berbeda.


" Aku.. aku akan membongkar kebusukanmu.. rahasiamu dibalik kematian Ibu Yoo." tambah Shi Woon menekankan setiap katanya.


" Aish, aku tidak berniat membuatmu takut, Ibu." Shi Woon tersenyum penuh arti, namun Nyonya Young justru terlihat takut, tidak senang meski Shi Woon memanggilnya Ibu sebab setiap nada bicara putra tirinya terdengar sangat menakutkan.


" Dengarkan aku, jangan terlalu rapi dalam mengatur kebohongan karena sebaik apapun caramu berbohong, pada akhirnya tetap akan menghancurkanmu. Karena kau sudah menggangguku, jadi tunggulah sampai aku kembali dan menunjukkan pada semua orang bagaimana buruknya istri ketiga Tuan Choi Sun." tambah Shi Woon dengan sorot mata tajam.


Nyonya Young tersentak, ia seketika tak dapat bersuara. Seolah lehernya dicekat hingga hanya mampu diam membisu seraya melihat Shi Woon berlalu begitu saja.


" Apa yang akan dia lakukan." lirihnya merasa panik.


Sepersekian detik kemudian, buru-buru ia meraih ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya.


" Dengarkan aku, singkirkan semua berkas digudang rumah sakit Choi Sun. Jangan biarkan selembar kertas pun tertinggal!"


Nyonya Young memberi titah pada bawahannya saat ponselnya sudah terhubung dengan seseorang diseberang sana.