Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 43



" Masuklah, aku juga akan masuk." seru Emily, mengurai pelukan lebih dulu. Ia melambai layaknya akan berpisah jauh, dan segera masuk kedalam rumah. Hal yang sama dilakukan juga oleh Shi Woon.


****


Didalam rumah, senyum Emily tak pernah pudar. Wajah Shi Woon yang terus terbayang dibenaknya semakin membuat senyumnya merekah. Sembari melepas sepatunya dan memakai sendal rumah, ia terus bersenandung. Seakan kebahagiaannya tak bisa diukur lagi.


" Aku pulang, Kak." seru Emily melangkah masuk. Tapi sesampainya didalam, ia terkejut saat mendapati sang kakak bersama dengan pria asing.


" Siapa dia.." tanya Emily yang tak memutus pandangannya dari pria yang tengah terbaring lemah disofa.


" Dia temanku. Kau tidak perlu peduli.. dia tidak akan mengganggumu dan tidak akan lama disini. Sampai lukanya sembuh, dia akan pergi." Oya menjelaskan agar adiknya tak salah paham.


" Ah.. begitu. Baiklah, aku kekamar dulu." pamit Emily yang tak ingin berlarut-larut dalam perbincangan yang sudah jelas.


Melihat adiknya sudah masuk kedalam kamar, Oya kembali menoleh pada Hong Sik yang masih setengah sadar. "Hei, bangunlah. Pindah kedalam kamar, kau tidak boleh tidur disini. Adikku nanti akan merasa tidak nyaman." ucap Oya dan membantu Hong Sik untuk bangun.


...🌸🌸🌸...


Waktu berlalu, dan kini pagi sudah tiba. Melakukan aktivitas seperti biasa, dimana Emily segera membuka toko rotinya, sementara Oya kini bersiap-siap untuk ke rumah sakit.


Namun sebelum pergi, Oya memastikan kondisi Hong Sik yang sejak semalaman tertidur.


" Hong Sik, bangunlah." Oya mengguncang pelan baju pria tampan itu, dan tak lama Hong Sik bangun.


" Minumlah, ini bisa cepat membantu kau pulih." ucap Oya.


" Apa ini?" Hong Sik terlihat ragu karena bagaimanapun juga ia tidak pernah sembarang mengonsumsi minuman ataupun makanan.


" Ini minuman herbal, aku sendiri yang meraciknya. Minumlah cepat, aku harus pergi bekerja. Kau istirahat saja, karena hari ini aku akan sangat sibuk. Setelah dari rumah sakit aku akan langsung ke kampus." tutur Oya tanpa jeda.


" Tinggallah, temani aku." pinta Hong Sik menatap intens pada wanita berambut hitam didepannya.


" Cih, kau itu arogant sekali."


Bukannya tak enak hati, Hong Sik justru tersenyum tipis mendengar perkataan Oya yang menurutnya terlalu berlebihan.


Oya tak menanggapi, dan segera berlalu.


" Sebenarnya aku takut. Takut jika mereka menemukan aku dan melakukan sesuatu lagi."


Langkah kaki Oya terhenti, dia mematung didepan pintu. Ucapan Hong Sik membuatnya tak bisa berbicara walau hanya sepatah kata, sedangkan Hong Sik kini hanya mampu menatap punggung wanita kesayangannya yang enggan tuk berbalik.


" Istirahatlah." Oya bersuara dan segera berlalu dengan tak lupa menutup pintu. Mau bagaimana lagi, Hong Sik hanya bisa pasrah ditinggal seorang diri.


Ceklek.


Dua detik kemudian, pintu kamar terbuka lagi dan menampilkan Oya yang membawa cemilan dengan beralaskan nampan putih.


" Kupikir kau sudah pergi." Hong Sik mengamati wanita disisinya yang tengah menaruh nampan diatas nakas.


" Aku akan menemanimu, tapi makanlah ini. Sejak semalam kau tidak makan apapun." Oya menyodorkan roti Dokan buatan adiknya.


" Terima kasih." ucap Hong Sik meraih roti itu dan segera memakannya. Ia merasa senang karena bisa menghabiskan waktu seharian bersama wanita yang sejak lama dikaguminya.


" Wah, ini enak sekali. Teksturnya lembut, apa kau membuatnya?" Hong Sik memberikan penilaian pada gigitan pertama roti itu. Tanpa menunggu jawaban Oya, ia kembali melahapnya hingga habis tak tersisa.


Melihat itu Oya pun tersenyum. "Itu buatan adikku. Aku membeli ditokonya pagi tadi. Itu untuk sarapanku dirumah sakit, tapi kau lebih membutuhkannya." balas Oya


" Benarkah? Dimana tokonya?" Hong Sik melontarkan tanya, seraya mengambil roti lagi yang tersisa satu dipiring.


" Dibawah, kau akan melihatnya jika keluar."