Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 16



Disatu sisi ada Hong Sik yang tengah berada didalam ruangan Shi Woon, kepala rumah sakit Choi Sun.


" Berikan aku laporan bulanan rumah sakit." pinta Hong Sik dengan begitu dingin.


Shi Woon yang dimintai tak bergeming, Ia hanya fokus pada kegiatannya sendiri, melakukan permainan memanah diruangannya. Begitulah Shi Woon, jika merasa bosan serta pikirannya kacau maka dirinya akan menghabiskan sebagian waktu dengan melakukan aktivitas memanah.


" Ambil saja dimeja. Lagipula kau bukan orang lain." ujar Shi Woon setelah satu anak panahnya berhasil mengenai sasaran titik.


" Aku kemari bukan untuk melihatmu bermain seperti itu. Cepat berikan padaku." Hong Sik mengulang permintaannya.


Shi Woon yang mendengar ucapan sang kakak seketika menghentikan kegiatannya.


" Aku tidak menyuruhmu melihatku." balas Shi Woon dengan ketus. Ia pun segera mengambil berkas diatas mejanya dan memberikan pada Hong Sik karena sejujurnya, Ia merasa risih bila dekat dengan kakaknya kurang dari lima menit saja.


" Ah, aku sudah lama ingin mengatakan ini." jeda Shi Woon dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana.


" Aku bukan penyebab Ibumu meninggal. Dia sudah sekarat hari itu, dan kebetulan aku masuk kekamarnya." lanjut Shi Woon menatap sengit pada Hong Sik.


Helaan nafas kasar terdengar jelas, Hong Sik membalas kembali tatapan dingin adiknya.


"  Tapi bisa jadi kau yang melakukannya. Saat itu kau masih sangat kecil, tidak mungkin kau punya ingatan yang jernih seperti air." bantah Hong Sik.


Kedua pria dewasa itu saling bertatap dengan wajah datar nan aura dingin.


" Tok, tok, tok."


Seketika dua pria itu menoleh pada pintu saat terdengar suara ketukan dari luar sana. Shi Woon menyahut, meminta orang diluar sana untuk masuk keruangannya.


" Dokter Woon, saya membawa laporan pengajuan." tutur orang itu yang tak lain adalah Oya.


Sesaat Hong Sik termangu, saat melihat jelas wanita yang sempat dilihatnya di lobby. Keningnya mengerut, kembali mengingat, sementara Oya, wanita itu hanya terdiam saat melihat Hong Sik.


" Iya, Dokter Woon." balas Oya dengan senyum tertahan, menaruh berkas diatas meja Shi Woon.


Setelahnya Ia membungkuk memberi salam lalu segera pergi dari ruangan atasannya. Namun langkahnya terhenti saat tiba - tiba Shin Ho dari luar sana membuka pintu dan langsung masuk.


Pandangan Oya dan Shin Ho pun bertemu, keduanya saling melempar tatap. Tak lama Oya segera berlalu tanpa menyapa.




Hari kini sudah berlalu, dan malam kembali menyapa. Pukul sembilan malam, Oya baru pulang. Ia kini berjalan kaki hingga tak lama dirinya tiba dirumah. Namun sesampainya, Ia mendapati sang adik yang duduk termenung ditangga.


" Apa yang kau lakukan disini." tanyanya pada sang adik.


" Aku menunggunya." jawab Emily seadanya.


Oya terdiam, dan tak lama ikut bergabung. Ia duduk disamping adiknya.


" Menurutmu, bagaimana jika waktu kembali mempertemukanmu dengan dia yang dahulu tidak sengaja kau jumpai." tanya Oya dengan raut wajah yang lesu.


" Entahlah. Tapi menurutku, rasanya ada perasaan yang sulit diungkapkan." jawab Emily.


" Kenapa? Kakak bertemu dengan dia yang berasal dari masalalu?" tambahnya menoleh, menatap Oya yang tengah tercenung.


" Humm. Aku bertemu dengan pria yang pertama kali kurawat saat menjadi perawat." tutur Oya setelah berfikir sejenak.


" Kakak mencintainya?" tanya Emily lagi.


Oya terdiam. Satu menit hingga tiga menit, Ia tak kunjung menjawab dan memilih beranjak.