
" Kenapa.. kenapa kau selalu membahas mitos tidak masuk akal itu. Lalu bagaimana dengan orang diluar sana? Mereka yang berpisah dengan pasangannya sebelum saling memberi hadiah sepatu, apakah mitos hadiah sepatu masih bisa dibenarkan?" gelombang suara Emily bergetar, merasa kecewa pada Shi Woon yang seolah tak menghargai usahanya.
Karena tak ingin hilang kendali disaat emosi, Emily pun hendak berlalu pergi. Namun seketika kedua tangan Shi Woon melingkar dipinggang rampingnya. Pria tampan itu memeluknya dari belakang dengan sangat erat hingga mau tak mau dirinya membeku ditempat.
" Maafkan aku." ucap Shi Woon dengan suara beratnya.
" Aku salah, aku minta maaf." tambahnya.
Emily diam saja, dia tak menyahut dan hanya tercenung seraya merasakan nafas hangat Shi Woon yang menerpa sisi wajahnya.
Shi Woon mengeratkan dekapannya, merasa bersalah pada wanitanya.
" Kau tau.. dulu saat aku kecil, pengasuhku membelikan aku pulpen berwarna. Tintanya berwarna biru, hijau, dan merah. Tapi aku sangat menyukai warna merah, jadi aku selalu menggunakan pulpen itu untuk menulis nama Ibu sambungku. Kakakku.. dia selalu mengatakan itu tidak baik, tapi aku tidak mendengarnya sampai suatu hari Ibu kami meninggal."
Menyelesaikan cerita singkatnya, air mata Shi Woon pun ikut menetes saat teringat kenangan menyedihkan itu, dimana dirinya harus kehilangan Ibu sambung yang notabene adalah Ibu kandung Hong Sik.
" Sejak saat itu, aku tidak ingin mengabaikan mitos yang aku tau. Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi.. untuk kedua kalinya." lanjut Shi Woon.
Emily yang mendengar ucapan kekasihnya seketika merasa sedih. Ia segera melepas belitan tangan Shi Woon dan berbalik menatap prianya.
" Kenapa kau menangis, kau sangat cengeng." Emily berusaha menghibur sembari menyeka air mata kekasihnya.
" Benarkah. Aku memang cengeng." Shi Woon tersenyum mendengar ucapan Emily. Buru-buru ia menyeka air matanya hingga tak tersisa.
" Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat. Ayo!." seru Shi Woon kemudian. Tak lupa ia berjalan lebih dulu dengan menggenggam tangan Emily.
" Kita akan kemana?" tanya Emily disela-sela langkahnya.
" Ini waktu yang baik, ayo cepatlah." serunya mengajak sang kekasih berlari kecil.
...🌸🌸🌸...
Sungai Cheonggyecheon, SeoulÂ
Setelah menempuh perjalanan dua puluh lima menit, kini Shi Woon sudah tiba ditempat tujuan— sungai cheonggyecheon yang berada di kota seoul.
Waktu yang sudah menunjukkan pukul enam sore, membuat tempat itu semakin ramai oleh pengunjung. Shi Woon memang sudah memprediksikan waktu yang tepat untuk mengunjungi sungai cheonggyecheon, yaitu diwaktu petang karena selain tempat itu dipenuhi oleh pengunjung, lampu hias disungai itu juga menyala sehingga menciptakan suasana yang begitu indah.
Mengedarkan pandangannya, Shi Woon berusaha mencari tempat terbaik untuk duduk bersama kekasihnya sembari mengobrol banyak hal. Sedangkan Emily, ia menatap kagum pada tempat yang memang baru di kunjunginya. Matanya berbinar-binar, sungguh bahagianya tak dapat diukur saat ini.
" Kita duduk disana." ucap Shi Woon menunjuk pinggiran kolam. Ia membawa Emily, lalu duduk bersama di pinggir sungai.
" Wah, tempat ini sangat indah." kagum Emily yang sejak tadi melihat semua sisi sungai cheonggyecheon .
" Yakk, aku membawa kesini bukan untuk melihat tempat ini saja." gerutu Shi Woon merasa cemburu.
Perkataan Shi Woon sukses membuat Emily tertawa lepas. "kau itu seperti anak remaja saja."
" Kau suka tempat ini?" tanya Shi Woon kemudian, yang dijawab anggukan cepat oleh Emily.