Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 62



" Baiklah, kalau begitu kita makan tteokbokki saja, ayo!" ajak Shi Woon mengeratkan genggaman tangannya, membawa sang kekasih mengikuti langkah kakinya menuju kedai biasa yang sangat ramai.


" Kau tau tempat ini?" Emily memberi Shi Woon tatapan penuh tanya. Keduanya masih berdiri didepan kedai, saling beradu pandang satu sama lain.


" Hum, ini adalah tempatmu selalu membeli tteokbokki kan." ujar Shi Woon dengan senyum tipisnya.


" Bagaimana kau tau?" tanya Emily menatap intens wajah tampan kekasihnya.


" Aku selalu memperhatikanmu. Saat aku senggang, aku akan keluar dari rumah sakit dan mengunjungi tempat ini. Jika aku tidak menemukanmu disini, aku akan ke myeongdong dan melihatmu didalam toko rotimu." jelas Shi Woon dengan lembut.


" Astaga.. apa itu benar." Emily terperanjak, ia tak tau jika selama ini diam-diam Shi Woon menjadi pengamat setianya.


" Iya." jawab Shi Woon, membawa Emily masuk kedalam kedai dan memesan tteokbokki dan juga soju. Mereka lalu segera memilih tempat yang kosong, duduk bersama dan kembali melanjutkan perbincangannya.


" Aku ingin tau kenapa kau nekat membeli rumah tempat tinggalku." ucap Emily dengan posisi siap mendengarkan Shi Woon.


" Karena aku harus lebih dekat denganmu agar kita bisa berpacaran." jawab Shi Woon dengan jujur.


" Aish, kau itu.." seketika Emily mengulum senyumnya. Bahagia mendengar jawaban kekasihnya.


" Kau tau tidak kedai kopi diseberang sana?" tanya Shi Woon menunjukkan arah keluar jendela kaca besar.


Emily menoleh keluar, lalu kembali menatap Shi Woon. "Ada apa?"


" Saat kau tersenyum, maka dia akan tutup. Karena senyumanmu sangat manis." seru Shi Woon dengan tatapan lembutnya.


" Aish, kau ini bicara apa." Emily tersipu malu, kedua pipinya merah merona. Shi Woon yang melihat raut wajah kekasihnya sontak merasa gemas hingga refleks mencubit kedua pipi Emily.


Keduanya lalu tertawa bersama, bergenggaman tangan dengan sangat erat.


...🌸🌸🌸...


Disatu sisi, dilain tempat, tepatnya dilapangan golf. Terlihat pria paruh baya dengan setelan olahraga berwarna silver perpaduan putih. Ia adalah Tuan Choi, yang kini tengah bersama asistennya— Pak Han.


" Bagaimana dengan Shi Woon? Apa kau memantaunya selama ini?" tanya Tuan Choi yang tengah bersiap-bersiap untuk bermain golf.


" Iya, Tuan." ucap Pak Han yang tak ingin menatap wajah majikannya.


" Kau menyembunyikan sesuatu dariku." Tuan Choi yang hanya mendengar gelombang suara asistennya, seketika mengetahui hanya dengan memakai instingnya saja.


Hening menyapa, Pak Han diam membisu. Ia seakan tak ingin mengatakan yang sebenarnya mengenai putra bungsu majikannya.


" Baiklah, aku mengerti karena bagaimana pun juga kau dan Shin Ha adalah teman. Pasti tidak baik bagimu jika membuat anak temanmu dalam bahaya." ujar Tuan Choi dengan santai, hendak berlalu meninggalkan asistennya yang diam saja.


" Tuan Shi Woon.." jeda Pak Han tampak berfikir sejenak. Sementara Tuan Choi menghentikan langkah kakinya.


" Dia berkencan dengan seorang gadis pendatang di Korea." lanjutnya.


Mendengar itu, Tuan Choi tersenyum tipis. Ekspresi wajahnya sulit ditebak, senyumannya pun seakan punya arti.


" Dari mana gadis itu berasal?" tanya Tuan Choi dengan aura dinginnya.


" Sepertinya gadis itu dari keluarga baik-baik, Tuan. Dia bersaudara dengan wanita yang didekati Tuan Hong Sik saat ini." tutur Pak Han.


" Lucu sekali." Tuan Choi tersenyum kecut.


" Kakak beradik, mencintai gadis dari keluarga yang sama." ujarnya lagi.


Pak Han yang mendengarnya hanya diam tanpa menyahut sama sekali.


" Hubungi dia dengan ponselku. Suruh datang dan bermain golf bersama Ayahnya." Tuan Choi menurunkan titah sebelum berlalu pergi karena ingin melakukan pemanasan.


Sementara Pak Han, pria paruh baya itu segera meraih ponsel majikannya diatas meja dan menyusul Tuan Choi ke tepi lapangan.


Ia juga menghubungi putra bungsu Tuan Choi, setelahnya dia mengaktifkan loadspeakers nya untuk diperdengarkan pada si empunya ponsel.