
" Aku harus pulang." ucap Oya yang tak ingin menatap Shin Ho.
" Aku akan mengantarmu." seru Shin Ho.
" Tidak perlu." Oya menolak dengan mantap. Dan segera berlalu meninggalkan Shin Ho dengan tanya dibenak. Pria itu merasa ada yang aneh, sebab dari raut wajah yang ditampilkan Oya cukup membuatnya yakin dengan pikirannya.
" Apa terjadi sesuatu?" gumam Shin Ho yang kemudian menyusul Oya.
" Tadi kau ingin mengatakan sesuatu, kau belum mengatakannya dan sudah ingin pergi." tanya Shin Ho
" Aku akan mengatakannya dilain waktu. Terima kasih sudah meluangkan waktumu." Oya tak banyak bicara dan segera meninggalkan apartemen Shin Ho.
...🌸🌸🌸...
Hunian Myeongdong, Seoul.
Setelah melalui perjalanan setengah jam, Oya sudah tiba dirumah. Ia merasa lelah, namun bukan tubuh melainkan hatinya.
Menghempaskan diri disofa, Oya menghela nafas kasar saat kembali teringat kejadian di apartement Shin Ho. Ia merogo saku jas overcoatnya, mencari jam tangan milik sang adik.
" Ternyata aku salah.. salah menempatkan perasaanku." lirihnya menatap jam tangan putih ditangannya. Setelahnya ia meletakkan diatas meja dan bersandar disofa sembari memejamkan kedua matanya.
" Oh, bukankah itu jam tanganku." terdengar suara Emily yang baru keluar dari dalam bathroom. Ia meraih jam tangannya, memastikan bahwa ia tak salah mengenal barang sendiri.
" Apa kakak yang mengambilnya?" tanyanya kemudian.
" Tidak, itu sudah ada dimeja sejak aku datang." jawab Oya dengan posisi yang sama.
" Benarkah? Perasaan jam tanganku tertinggal dirumah Shin Ho." lirih Emily dengan suara pelannya.
...🌸🌸🌸...
Tak terasa hari kini sudah pagi, dikediaman megah Choi Sun, tampak saat ini Nyonya Young yang tengah berada didalam kamar. Ia tercenung, masih memikirkan kepingan ingatannya kemarin yang menyatu saat Shin Ho memanggilnya Ibu.
Semalaman ia tak bisa tidur, terus memikirkan hal itu yang terus berputar dibenaknya. Tentu saja ia sudah sangat ingin membicarakan hal itu dengan sang suami, namun selalu saja ditolak dengan alasan sibuk.
" Aku tidak bisa diam saja. Aku akan mencari tau sekarang." gumamnya segera keluar dari kamar. Ia berjalan gontai menuju kamar utama, dimana suaminya saat ini berada.
Ceklek.
Tanpa meminta izin pada siempunya kamar, Nyonya Young menerobos begitu saja dan masuk kedalam kamar Tuan Choi.
" Choi jelaskan padaku apa yang terjadi tiga puluh tahun lalu?" tak ingin berbasa-basi, Nyonya Young langsung masuk ke inti tujuannya. Ia menatap intens suaminya yang duduk disofa dengan santai sembari membaca majalah, tak memperdulikan Pak Han yang berdiri disisi suaminya.
" Kau sepertinya sudah melupakan batasanmu." ujar Tuan Choi tanpa menatap lawan bicaranya.
" Apa maksudmu, kau yang melupakan batasanmu. Apa kau tidak ingat, semua harta yang kau miliki saat ini berasal dari keluargaku." jelas Nyonya Young dengan kasar.
Sontak Tuan Choi menutup majalahnya, dan mengangkat pandangan. "Apa kau bilang?"
" Kenapa? Apa semua masih kurang jelas? Bukankah kau rela menikahi wanita yang tidak kau cintai untuk bisa sampai pada tujuanmu sebagai orang kaya?"
" Tutup mulutmu Young!" suara bentakan Tuan Choi menggema, memenuhi kamar mewahnya. Nyonya Young tersentak karena untuk pertama kali seseorang meninggikan suara tepat didepan wajahnya.
" Berani sekali kau meneriaki aku, Choi." perdebatan Nyonya Young dan Tuan Choi semakin memanas, kedua nya terlihat saling mengirim tatapan tajam.
" Baiklah, aku akan membuatmu menyesal atas semua yang sudah kau lakukan. Baik hari ini, ataupun tiga puluh tahun lalu." tambahnya menekankan setiap katanya. Setelahnya ia segera pergi, meninggalkan kamar suaminya.
" Sepertinya dia akan menemui Shi Woon, lakukan tugasmu sekarang!" titah Tuan Choi pada Pak Han setelah melihat istrinya menghilang dibalik pintu kamarnya.