
" Aku sangat suka. Terima kasih, Shi Woon. Kau benar-benar membuatku bahagia." ucap Emily dengan tatapan lembutnya.
Shi Woon hanya tersenyum, tak menanggapi dengan kata. Namun sepersekian detik kemudian, ia mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat kening Emily.
" Terima kasih juga karena memilihku untuk menjadi pacarmu." ucapnya dengan tulus.
Keduanya pun tersenyum bersama, dan kembali menikmati suasana menenangkan di sungai cheonggyecheon.
" Andai bisa aku ingin selalu seperti ini. Selalu bersamamu kemanapun itu, dan kita bisa ketempat ini lagi, lalu memandang air jernih disungai ini." seru Emily dengan binar bahagia diwajah cantiknya.
Hening, Shi Woon tersenyum tipis mendengar penuturan kekasihnya.
" Kalau begitu.. menikahlah denganku."
Deg.
Sebuah pengakuan tak terduga dilontarkan Shi Woon begitu saja. Sontak membuat Emily termangu, mendengar sebuah permintaan sederhana yang terkesan begitu mendadak.
" Kau mengejutkanku. Kenapa begitu tiba - tiba." seru Emily sedikit kikuk. Ia kini kembali mengamati semua pengunjung.
" Tidak.. aku hanya memberi jalan pintas agar kita terus bersama." ujar Shi Woon menjeda ucapannya.
" Menikahlah denganku." tambahnya memperjelas niatnya yang sangat tulus.
Perkataan Shi Woon sukses membungkam bibir tipis Emily. Pikiran wanita cantik itu membeku, hingga tak dapat berkata-kata.
" Kita akan hidup bersama, dan selamanya. Kita saling mencintai, dan itu berarti pernikahan kita akan berjalan dengan sangat baik. Aku akan menyayangimu, dan hanya akan melihatmu saja. Kita akan susah bersama, dan aku akan selalu disampingmu. Jika kau memiliki masalah, dan menangis, maka kau bisa meminjam bahuku sesukamu." jeda Shi Woon, tersenyum lembut pada kekasihnya.
" Ah.. Jika kita menikah nanti, lahirkanlah dua anak. Satu anak laki-laki yang mirip denganku, dan satu anak perempuan yang mirip denganmu. Lalu keduanya akan tumbuh bersama, saling menyayangi. Kita akan bersama layaknya keluarga harmonis." lanjut Shi Woon, mengamati wajah wanitanya dari sisi samping.
Mendengar ucapan Shi Woon yang lembut, Emily dibuat tersenyum. Merasa geli pada apa yang baru didengarnya, sebab selama ini dirinya bahkan belum berfikir sejauh yang Shi Woon utarakan malam ini.
Seketika Shi Woon terdiam. Raut wajahnya pun berubah— tak sebahagia sebelumnya.
" Emily." panggilnya dengan suara yang pelan. Ia meraih tangan mungil kekasihnya dan menggenggamnya begitu erat.
" Ada apa?" Emily tersenyum, menanti apa yang akan dikatakan Shi Woon.
" Jika seandainya aku bukan yang terbaik untukmu dan kau pun bukan yang terbaik untukku, maka.. apakah kau akan tetap memilih tinggal disisiku?" Shi Woon menatap lekat manik mata Emily.
Emily menurunkan pandangannya, Ia terdiam beberapa detik.
" Kau bukan terbaik.. dan aku juga bukan yang terbaik.. " jeda Emily tampak berfikir sejenak.
" Maka kita harusnya tetap bersama agar kata bukan itu menghilang. Aku akan tetap disisimu.. sampai nanti kau pikun atau bahkan sulit mengenali aku lagi." tutur Emily seraya tersenyum.
Shi Woon turut membalas senyuman yang diberikan kekasihnya. Ia lalu semakin mengeratkan genggaman tangannya.
" Ah, satu lagi.." jeda Emily yang masih menatap Shi Woon.
" Kau tau aku paling membenci warna mocha. Tapi aku akan mewarnai rambutku dengan itu jika kita memang tidak dibiarkan takdir untuk bersama." tambahnya.
Shi Woon mengulum senyumnya dan sepersekian detik Ia langsung memeluk Emily dengan penuh kasih sayang.
" Itu tidak akan terjadi, kita akan selalu bersama. Jika bukan dimusim ini, masih ada musim selanjutnya. Jika tidak dimusim selanjutnya, ada kehidupan selanjutnya. Aku pandai dalam menunggu, itu sebabnya aku akan terus menunggu sampai kita dipertemukan kembali. Saat kita sudah dipertemukan, maka aku akan memegang tanganmu dengan erat sampai tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi. Meski itu takdir ataupun dunia ini." terang Shi Woon yang masih memeluk Emily.
Emily tersenyum manis dalam dekapan Shi Woon. Ia kini sungguh bahagia menjalani hubungan dengan pria tampan yang begitu hangat dan lembut seperti Shi Woon.
Mengurai pelukannya, Emily menatap lekat manik mata Shi Woon. Perlahan tangannya menyentuh wajah tampan pria itu dan tersenyum. "Jika terjadi sesuatu.. tolong biarkan aku tetap mencintaimu sesukaku."
Deg.