
Rumah Sakit Universitas Choi Sun.
Saat ini terlihat Shi Woon yang tengah berada diruangannya. Ia sedang menunggu Shin Ho karena pagi ini dirinya berencana pergi kesuatu tempat.
Sembari menunggu, ia juga memeriksa berkas-berkas pasiennya. Namun fokusnya buyar saat tiba-tiba seseorang menerobos masuk kedalam ruangannya, dan dia adalah Nyonya Young
" Kau.. apa kau tidak bisa mengetik dulu." ujar Shi Woon dengan ketus.
" Aku akan memberitahumu sesuatu." ucap Nyonya Young mengabaikan tatapan tajam putra tirinya. Kali ini tak bisa menahan diri lagi, merasa sangat geram mengingat perbuatan Tuan Choi.
Hening, Shi Woon tak menyahut dan tidak menatap pada wanita dewasa itu. Ia justru tetap menyibukkan diri pada kegiatannya, dan menganggap Nyonya Young seolah tak ada.
" Apa yang kau lakukan disini?"
Tak lama terdengar suara Shin Ho diambang pintu. Pria gagah itu menatap intens pada Nyonya Young.
" Ah, kebetulan kau ada disini. Kau harus mendengar apa yang aku katakan." Nyonya Young tersenyum penuh arti pada kedua pria muda itu.
" Bukankah kalian ingin tau penyebab kematian istri pertama Ayah kalian?" tambahnya dengan santai.
Shi Woon dan Shin Ho terdiam dengan kening mengerut.
" Kakakku itu... dia meninggal bukan karena diracuni seperti yang kalian pikir. Tapi dia meninggal karena memang sudah waktunya." terang Nyonya Young membuat kedua putra tirinya terkejut dan juga bingung.
" Apa maksudmu?" Shin Ho menatap nanar pada wanita didepannya.
" Kalian pasti terkejutkan. Aku bisa mengerti, karena selama ini Ayah kalian bersikap seolah-olah istri pertamanya dibunuh. Ah, kalian tidak tau saja kalau Kakakku meninggal karena penyakit jantung."
" Oh, dan Shin Ho.. sepertinya kau belum tau kalau Ayahmu sudah meninggal sejak kau kecil." tambah Nyonya Young semakin membuat kedua putra tirinya syok hingga tak dapat berbicara walau hanya sepatah kata.
" Omong kosong apa kau bicarakan." bentak Shi Woon dengan kasar setelah menarik diri dari keterkejutannya. Ia menyela saat menyadari perubahan Shin Ho karena Shi Woon tak ingin bila sahabatnya itu termakan ucapan Nyonya Young.
" Aku tidak bicara omong kosong. Kalau kalian tidak percaya.. coba saja cek makamnya disamping makam ibu Hong Sik." balas Nyonya Young dengan santai.
Sedangkan Shin Ho ia sontak melemah. Dadanya terasa sesak, nafasnya pun semakin berat. Seakan kedua kakinya tak mampu menopang tubuhnya untuk tetap berdiri. Kenangan bersama sang Ayah pun seketika terlintas dibenak hingga tak terasa air matanya mengalir dikedua pipi.
" Bohong.. itu semua bohong." lirihnya yang masih tak percaya pada ucapan Nyonya Young.
" Anak muda.. lihatlah aku, maka kau akan percaya pada ucapanku." Nyonya Young menghampiri Shin Ho yang terlihat terpuruk.
" Apa kau tidak sadar.. kenapa kau bisa mendapatkan segalanya dari Tuan Choi. Pendidikan diluar negeri, apartemen mewah, dan kebutuhanmu selalu terpenuhi dengan baik sejak kau kecil sampai dewasa seperti sekarang.. apa kau pikir itu semua gratis? Apa kau sungguh berfikir Tuan Choi mu itu bermurah hati? Tidak nak, dia hanya berusaha membalas kebaikan Ayahmu yang dengan sukarela mendonorkan jantungnya untuk Kakakku."
Deg.
Pernyataan Nyonya Young semakin membuat Shin Ho tak bisa menahan diri hingga ia terduduk tak berdaya diatas lantai marmer. Sementara Shi Woon, ia tak tau harus mengatakan apa karena sejujurnya dirinya juga sangat terkejut saat ini.
" Ah, bisa dikatakan bahwa Tuan Choi itu membeli nyawa seseorang untuk kesembuhan istri pertamanya." tambah Nyonya Young menyeringai licik.
" Kumohon, hentikan. Aku tidak ingin mendengarnya." pinta Shin Ho dengan suara melemah. Nyonya Young tersenyum puas, dan segera menjauh dari Shin Ho.
Tanpa disadari ketiganya, diam-diam diluar ruangan tampak Hong Sik yang tengah mencuri dengar sejak tadi pembicaraan mereka. Sama seperti kedua adiknya, Hong Sik juga kini sangat terkejut.
Sejujurnya, Hong Sik memang sudah mengikuti Nyonya Young dari rumah. Saat dirumah tadi, ia tak sengaja mendengar perdebatan sang Ayah dengan ibu tirinya. Hingga membuat Hong Sik penasaran, dan mengikuti Nyonya Young diam-diam.