
Ia tentu mengenal Ayahnya yang selalu menginginkan kesempurnaan. Begitulah Tuan Choi, membangun prinsip untuk kedua putranya yaitu dengan bebas mencintai wanita manapun, namun soal pernikahan tentu diatur oleh Tuan Choi langsung.
Tak lama Tuan Choi berdiri dari duduknya, masih dengan raut wajah yang begitu datar. "Bersenang - senanglah, nanti kau harus tau kapan saatnya pulang dan kembali duduk diposisimu." ucapnya dan segera berlalu.
Mendengar penuturan sang Ayah, Shi Woon menghela nafas kasar dan bersandar pada sofa. Sementara Nyonya Young, Ia diam - diam mengulum senyum. Kebahagiaan tentu menjadi miliknya saat melihat Shi Woon menderita.
" Dulu Ibumu bisa mendapatkan orang yang dicintainya, tapi kau tidak akan berhasil mendapatkan cintamu." gumamnya yang kemudian ikut meninggalkan ruang tengah.
...🌸🌸🌸...
Disaat Shi Woon berfikir keras akan hubungannya kedepan bersama Emily, Hong Sik justru tengah tercenung didalam kamarnya yang didesain monokrom dengan warna kesukaannya perpaduan hitam dan silver.
Ia kembali mengenang pertemuan awalnya dengan Oya, disekitaran sungai Han, tujuh tahun lalu.
Tok, tok.
" Hong Sik, Ibu masuk ya." seru Nyonya Young diluar sana setelah mengetuk pintu dua kali.
Tanpa menunggu Hong Sik menyahut, Nyonya Young segera masuk kedalam kamar ponakan sekaligus putranya itu. Dengan membawa nampan kecil berisi segelas air putih dan dua pil obat didalam wadah.
" Nak, minum obatmu dulu." ucapnya lagi dengan lembut. Sangat berbeda perlakuan dengan Shi Woon.
Flassback~Tujuh tahun lalu.
Seorang pria gagah, Ia adalah Hong Sik. Duduk tercenung dibangku dekat sungai Han. Ia merenungi kebersamaannya bersama sang Ibu saat masih hidup. Namun entah kenapa, tiba - tiba saja seorang wanita dewasa yang lewat didepannya langsung terkapar ditanah. Sontak saja Hong Sik terkejut apalagi wanita dewasa itu ternyata ditembak begitu saja, oleh orang yang tak dikenal.
Wanita dewasa itu pun mengeluarkan darah segar. Melihat darah itu, Hong Sik histeris. Jantungnya berdegup kencang, serta wajahnya pucat. Tak lama Ia berkeringat dingin, dengan dada yang terasa sesak.
Disaat orang disekelilingnya sibuk menelfon ambulance, menolong wanita dewasa itu, Hong Sik justru tengah memegangi dadanya yang terasa sesak. Kesulitan bernafas, Ia rasakan saat gangguan mentalnya muncul. Tak ada yang memperdulikan Hong Sik, semua hanya fokus pada wanita yang tertembak itu.
Disaat penglihatan Hong Sik mulai buram karena kecemasannya meningkat parah, Ia pun beranjak dari duduknya dan hengkang menjauh. Namun Ia tak sengaja menabrak seorang wanita, dan wanita itu adalah Oya.
Hong Sik ambruk ditanah dengan bulir keringat dingin membanjiri wajah tampannya, penglihatannya pun buram. Oya yang saat itu sudah menjadi perawat tentu mengetahui gejala yang dialami Hong Sik.
Berbekal ilmu yang pernah dipelajari saat kuliah serta pengalamannya yang sudah membantu beberapa pasien dengan gejala yang sama, gangguan kecemasan, Oya pun memberikan pertolongan pertama untuk Hong Sik.
Ia melepas dasi yang dipakai Hong Sik serta membuka kancing kemeja pria tampan itu. Setelahnya Ia menyuruh Hong Sik untuk menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan sembari itu Ia juga menghubungi bantuan medis.
Flassback Off.