
Rumah Sakit University Choi Sun.
Diruang pimpinan, ruangan Shi Woon, saat ini terlihat pria gagah itu yang tengah memeriksa riwayat medis Emily. Hasil diagnosis pun sangat baik, membuat kekhawatiran Shi Woon menghilang.
Ia lalu beranjak dari duduknya, hendak meninggalkan ruangan. Namun saat membuka pintu, bersamaan itu rupanya ada Nyonya Young yang berdiri didepan pintu.
" Apa yang kau lakukan disini." tanya Shi Woon.
" Aku hanya ingin datang saja." jawab Nyonya Young, dan menerobos masuk kedalam ruangan putra bungsunya.
" Yakkk, aku akan pergi." ucap Shi Woon setengah berteriak.
" Aku juga akan pergi.. ke Paris." balas Nyonya Young, memilih duduk dikursi sofa. Sedangkan Shi Woon, ia masih berdiam diri ditempatnya.
" Kenapa?" Shi Woon mengajukan tanya, ia merasa ada yang aneh dari Ibu tirinya.
" Aku akan bercerai dari Ayahmu. Kau tidak akan punya Ibu buruk lagi sepertiku karena setelah ini aku akan pergi ke Paris." tutur Nyonya Young.
Shi Woon tertegun mendengar penuturan Nyonya Young. "Oh, baiklah. Hati-hati dijalan." ucapnya kemudian.
" Tentang Ayahmu.." seru Nyonya Young membuat Shi Woon mengangkat pandangan dan menatapnya intens.
" Kau ingin mendengarkan aku atau tidak... tapi percayalah, hanya aku yang mengenal baik Ayahmu. Jika kau tidak ingin kehilangan seseorang yang kau cintai.. maka bijaklah mengambil keputusan, keputusan yang lebih baik membuatmu kecewa daripada harus menyakiti orang yang kau sayangi. Kau tau betulkan bahwa Ayahmu tidak menyukai pacarmu itu." jelas Nyonya Young, mengingatkan putra tirinya bagaimana tempramen sosok Tuan Choi.
Shi Woon hanya diam menyimak, tak tau harus mengatakan apa karena setiap kalimat yang meluncur dari bibir tipis Nyonya Young memang ada benarnya.
Merasa diabaikan, Nyonya Young pun akhirnya beranjak dari duduknya. Ia hendak berlalu, namun entah mengapa kembali menoleh dan menatap Shi Woon.
" Jangan keras kepala.. kau harus mendengarkan yang lebih tua darimu." tambahnya dan segera pergi.
...🌸🌸🌸...
Hari-hari berlalu, dan tak terasa sudah seminggu terlewati. Emily yang tadi dirawat dirumah sakit, kini sudah kembali pulang kerumah. Meski begitu, ia belum membuka toko rotinya karena Oya dan Shi Woon melarangnya. Hingga kini wanita berambut hitam itu hanya dirumah saja beristirahat.
Berbeda dengan Oya, dia seperti biasa selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ujian kedokteran pun sudah dilaluinya, ia kini hanya tinggal menunggu pengumuman saja. Disamping itu, ia juga menyempatkan diri untuk menghubungi Hong Sik seperti yang sudah dikatakannya minggu lalu.
Seperti dimalam ini, dirinya dan Emily memiliki janji untuk pergi bersama disuatu tempat.
Ceklek.
Pintu rumah Emily terbuka, dan tak lama muncul siempunya rumah dari balik pintu dengan setelan dress berwarna maron selutut, serta tak lupa jas overcoatnya.
" Wah, hari ini pacarku cantik sekali." puji Shi Woon saat melihat tampilan Emily dimalam ini yang terkesan berbeda.
Emily mengulum senyum, dan segera menggandeng lengan Shi Woon. Keduanya lalu segera menuruni anak tangga bersama sembari bergenggaman tangan.
" Hari ini kita akan kemana?" tanya Shi Woon disela-sela langkahnya.
" Ketempat yang pernah kita datangi." jawab Emily sembari tersenyum.
Shi Woon menghentikan langkahnya, dia mengernyit memikirkan sesuatu.
" Apa kita akan ke sungai cheonggyecheon?" tanya Shi Woon menatap kekasihnya.
" Humm.. cepatlah." jawab Emily dan berjalan lebih dulu.
****
Disatu sisi, ada Oya yang baru saja pulang bekerja. Ia kini sedang berada dihalte bus, menunggu bus tujuannya tiba. Namun sebelum itu, tiba-tiba saja sebuah mobil sport hitam metalik berhenti didepannnya.
Oya mengernyit, namun tak lama siempunya mobil keluar dan rupanya orang itu adalah Hong Sik.
" Apa yang kau lakukan disini?" tanya Oya.
" Aku hanya ingin menjemputmu." jawab Hong Sik seraya tersenyum tipis.
" Ah, aku ingin meminta waktumu untuk makan malam bersama." tambahnya.
Oya termangu, ia belum memberi jawaban. Namun sedetik kemudian, ia mengangguk dan tersenyum lembut.