Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 15



Oya mengalihkan arah pembicaraan dan segera berlalu. Melihat tingkah Oya, Shin Ho diam - diam mengulum senyum. Ia pun segera masuk kedalam lift karena memang tujuannya datang adalah untuk bertemu dengan Shi Woon.


Sementara disatu sisi, Oya kini menghambur masuk kedalam pintu tangga darurat. Ditempat itu tak ada siapapun, hingga dirinya dengan begitu bebas menghela nafas— melepas segala perasaan kacau balaunya.


" Aku sungguh tidak menyangka pada diriku sendiri, bagaimana bisa aku bertindak seperti itu." gerutunya memegangi dadanya dengan nafas yang naik turun— tak beraturan.


Setelah menenangkan dirinya didalam sana, Oya segera keluar. Namun Ia kembali dibuat terkejut saat teman seprofesinya berlarian begitu riang— seolah akan menjumpai bintang papan atas.


" Wah, Hong Sik datang."


" Benarkah? ku pikir dia masih diluar negeri."


" Akhirnya aku bisa melihat aslinya."


" Katanya dia sangat tampan."


Kalimat demi kalimat— terdengar samar ditelinga Oya. Ia hanya mengernyit, merasa bingung. Penasaran? Inilah yang menjadikan Oya sebagai wanita berkelas, karena selama dirinya tinggal di Korea, belum pernah Ia merasa penasaran akan sosok seseorang. Ia hanya akan merasa penasaran pada pelajaran saja, lebih dari itu dirinya tidak pernah peduli.


" Perawat Oya, kenapa kau masih berdiri disini. Ayo, kita harus berkumpul." tiba - tiba perawat lain datang dan menarik tangan Oya.


Oya tak banyak bicara dan hanya mengikut saja.


" Kau harus rapi." ucap perawat itu lagi.


" Aku sudah rapi." jawab Oya santai.


***


Hanya dua menit, semua perawat dan dokter kini sudah berada di lobby, menunggu Hong Sik datang. Selang beberapa detik, tiga mobil mewah datang dan langsung menghentikan mobil tepat didepan pintu masuk.


Tak lama tampak pria yang ditunggu sejak tadi, keluar dari mobil dengan setelan jas yang sangat rapi. Hong Sok— pria gagah itu berjalan masuk kedalam rumah sakit dan langsung disambut oleh perawat dan dokter.


" Kami menghargai kunjungan anda, Tuan Hong Sik." sambut kepala rumah sakit yang tak lain adalah Shi Woon.


Raut wajah Hong Sik sangat datar, dan auranya begitu dingin. Ia hanya melirik sekilas pada Shi Woon dan kembali mengedarkan pandangannya, menatap para dokter dan perawat.


Menautkan kedua alisnya, Hong Sik tampak tengah berfikir.


" Dia fammiliar sekali. Aku pernah melihatnya." gumamnya.


Tak lama memandang, Shi Woon yang selaku kepala rumah sakit segera menuntun Hong Sik keruangannya. Sesaat setelahnya semua pun kembali melanjutkan kegiatan masing - masing.


" Aish, dia benar - benar tampan."


" Tampan seperti Dokter Woon."


" Tentu saja, mereka kan saudara."


Kembali para perawat bergosip, saling sahut - menyahut.


" Perawat Oya." panggil salah satu perawat senior.


Oya menoleh pada sumber suara. Ia tersenyum saat melihat seniornya datang menghampiri.


" Oh, Perawat Kim. Ada apa?" seru Oya masih dengan senyumnya.


" Lima bulan lagi studimu selesaikan? Kau harus menunjukkan berkasmu pada Dokter Woon." ucap perawat Kim seraya berjalan beriringan bersama Oya.


" Iya." balas Oya tersenyum.


" Setelah kau jadi Dokter, itu berarti kau akan menetap di Korea?" tanya perawat Kim.


" Hum, aku akan menetap disini mungkin. Adikku juga sudah menjalankan toko rotinya." tutur Oya.


" Syukurlah. Semoga kau segera bertemu jodohmu." seloroh perawat Kim.


Oya hanya tersenyum mendengar ucapan seniornya. Mereka lalu berpisah arah, melanjutkan pekerjaan masing - masing.