
Disatu sisi, ada Emily yang kini sedang berada di sebuah mini market, tengah berbelanja sekaligus untuk kebutuhannya dan sang Kakak.
Merasa semua yang dibutuhkan sudah berada dalam keranjang, Emily pun segera menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Sembari menunggu barang belanjaannya di periksa, ia mengedarkan pandangan, memastikan sekali lagi bahwa tak ada yang terlupakan untuk dibeli.
" Nona, kami punya produk yang promo di hari weekend. Beli satu gratis satu. Anda bisa membaginya dengan pacar atau teman." ujar kasir wanita itu dengan ramah, menunjukkan sebuah minuman dingin dengan varian rasa vanilla dan cokelat.
" Ah, tidak perlu. Terima kasih." balas Emily dengan senyum manisnya.
" Kenapa tidak mau, nak? Minumannya promo, sayang kalau dilewatkan." sahut seorang wanita paruh baya yang tengah mengantri dibelakang Emily.
Emily menoleh, dan hanya tersenyum tanpa berkata.
" Apa kau tidak punya pacar atau kau memang tidak tau apa-apa tentang pacarmu?" tanya wanita paruh baya itu.
" Bukan seperti itu.. " Emily menjeda ucapannya, ia hendak menjelaskan namun merasa tak enak saat melihat dibelakang masih banyak yang mengantri.
Mengabaikan pertanyaan wanita itu, Emily pun segera menyodorkan kartunya pada kasir untuk menyelesaikan pembayaran. Setelah itu ia langsung bergegas pergi dengan tak lupa tersenyum pada wanita paruh baya dibelakangnya tadi.
****
Meninggalkan mini market dengan menenteng dua kantong belanjaan, Emily kini dalam perjalanan pulang kerumah. Ia berjalan kaki disepanjang trotoar, seperti biasa melewati beberapa kedai dan toko untuk tiba dirumah.
Sepanjang langkahnya, ia seketika teringat Shi Woon saat tak sengaja melewati sebuah kedai kecil yang menjual tteokbokki pedas.
Namun langkah kaki Emily tiba-tiba terhenti saat tak jauh dari pandangannya ia melihat sosok tak asing.
" Shi Woon." bibir mungil Emily bergerak pelan, menyerukan nama pria yang sangat dikenalnya.
" Lii Kyung, dengarkan aku.. kau salah paham. Tolong biarkan aku menjelaskan semuanya."
Terdengar suara Shi Woon yang begitu gigih membujuk Lii Kyung yang sejak tadi menghindar.
" Shi Woon, tolong beri aku waktu untuk sendiri." balas Lii Kyung yang sejak tadi menahan tangisnya.
Shi Woon yang melihat wajah sahabatnya memerah seolah ingin menangis, segera memeluk wanita didepannya. Ia merasa sangat bersalah karena mengucapkan kata yang sangat menyakitkan. Karena hanya fokus pada Lii Kyung, ia pun tak menyadari sekelilingnya, dimana ada sosok Emily yang mengamati.
Semua itu tentu diamati intens oleh Emily. Dan entah mengapa kedua mata indah Emily seketika memanas, ada bulir air mata yang tertahan dipelupuk matanya.
" Iya.. aku tidak tau apapun tentang pacarku." lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Tak ingin berlama-lama melihat kekasihnya dengan wanita lain, Emily hengkang namun tanpa sadar ia menabrak seseorang hingga membuat belanjaannya jatuh diatas tanah.
" Maafkan, aku.. aku sungguh tidak sengaja." suara berat seorang pria, terdengar sangat maskulin. Melontarkan kata maaf seraya membantu Emily membereskan belanjaan yang berserakan.
" Tidak, aku yang minta maaf." gelombang suara Emily bergetar, ia juga tanpa sadar meneteskan air matanya didepan pria asing itu.
" Kau menangis, ada apa? Apa aku menyakitimu?" pria tampan itu mengamati wajah cantik Emily.
" Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." buru-buru Emily menyeka air matanya, lalu bangkit dan hendak berlalu, tapi pria gagah itu menahannya.
" Biarkan aku mengantarmu. Tidak baik berjalan sendiri dijam seperti ini." ucap pria itu dan mengambil alih belanjaan Emily.
Karena pikiran Emily yang masih kalut, ia pun tak menolak dan hanya mengikut disamping pria asing itu.