
" Ayo masuk, disini terlalu dingin."
Alih - alih menjawab pertanyaan sang adik, Oya justru segera berlalu menapaki anak tangga. Emily tak bergeming, Ia masih ditempat yang sama dengan posisi yang masih sama. Selang beberapa saat, Ia juga beranjak saat merasa hawa dingin mulai menembus kulit tubuhnya.
" Emily."
Terdengar suara berat dari seorang pria, langkah kaki Emily pun tertahan dipijakan yang sama. Ia menoleh pada sumber suara, dan seketika mematung saat mendapati siapa orang itu.
" Kenapa? Apa yang ingin kau katakan?" tanyanya pada pria itu yang ternyata adalah Shi Woon.
" Aku ingin mengembalikan ini." tutur Shi Woon memberikan plester luka pada Emily.
Emily menerimanya dan hendak berlalu. Namun tangannya tiba - tiba dicekal oleh Shi Woon.
" Apa kau sangat mencintai pria itu?" tanya Shi Woon menatap intens wajah cantik Emily.
" Kenapa.. kenapa kau ingin tau?" nada suara Emily begitu ketus dan tak ingin menatap wajah tampan Shi Woon.
" Aku hanya ingin mengatakan.." jeda Shi Woon tanpa melepas tangan Emily.
" Aku adalah pria itu." lanjutnya dengan santai.
Emily terkesiap mendengar penuturan Shi Woon. Saking terkejutnya, Ia kini menatap nanar pada pria gagah itu yang terlihat begitu maskulin dengan setelan kemeja yang dibalut jas overcoat.
Sepersekian detik..
" Hahahaha.."
Tawa Emily pecah. Ia tergelak, menarik tangannya yang dipegang Shi Woon dan tertawa lepas. Bagaimana tidak, pengakuan Shi Woon benar - benar membuatnya tak bisa menahan tawa lagi hingga kini dirinya terpingkal - pingkal didepan Shi Woon yang keherangan.
" Wah, kau mabuk ya?" seru Emily setelah menghentikan tawanya. Ia mengendus aroma tubuh Shi Woon dari jarak setengah meter, mencari tau apakah pria gagah didepannya memang mabuk atau hanya bercanda.
" Kau tidak mabuk." tambahnya lagi seolah masih ingin tertawa.
Emily menghela nafas kasar dan melipat tangan didepan dada. "Bagaimana, ya? Kau itu selalu kurang kerjaan." seru Emily tertawa kecil.
" Kau tidak percaya?" tanya Shi Woon lagi. Matanya seakan menyiratkan keputusasaan atas sikap yang ditunjukkan Emily setelah pengakuannya beberapa saat lalu.
" Tentu saja aku tidak percaya. Kau itu.." jeda Emily— tampak berfikir sembari mengamati raut wajah Shi Woon.
" Ah, kau itu mirip dengan grimpoteuthis." lanjut Emily dengan santai.
Sontak Shi Woon terdiam. Ia menatap jengah pada Emily saat mendengar wanita depannya seakan mengejeknya dengan nama aneh.
" Kau tau, cinta pertamaku itu sangat tampan. Walau aku tidak melihat wajahnya, aku tetap bisa tau kalau dia memiliki rupa manusiawi." jelas Emily menerawang pada kejadian empat tahun lalu.
" Wah, jadi kau pikir wajahku ini siluman ataupun monster, hah?" bantah Shi Woon dengan kesal.
" Aku tidak mengatakan wajahmu seperti siluman atau monster. Kau saja yang langsung beranggapan seperti itu." jawab Emily ketus.
Ia pun segera berlalu saat merasa Shi Woon memendam amarah karena perkataannya.
" Aish, kau mau pergi setelah mengatai wajahku tidak manusiawi? Wah, lihatlah wanita yang naik ditangga itu, seperti tidak punya hati saja." teriak Shi Woon dengan kesal saat Emily meninggalkannya begitu saja.
" Wah, aku tidak percaya.. dia mengatai aku grimpoteuthis?" gerutunya seorang diri.
•
•
The psychological therapy, Seoul
Pukul delapan pagi, Shi Woon sudah berada diruang kerja sahabatnya. Ia sudah berada diruangan dokter psikiater itu selama dua puluh menit, namun tak kunjung dirinya bersuara sedikitpun.
" Hei, Shi Woon. Keluarlah jika tidak punya urusan denganku. Kau hanya membuat mataku katarak jika duduk lama disitu." seloroh Shin Ho dengan raut wajah yang datar.