
Shin Ho seketika canggung saat mendapati Oya yang tiba-tiba datang. Ingin rasanya Ia menyapa, namun otaknya memberontak untuk menolak.
" Kita bertemu lagi." seru Oya lebih dulu saat melihat Shin Ho yang hanya diam.
" I.. Iya." jawab Shin Ho dengan ragu.
Oya menghela nafas. "Aku heran pada kalian semua para pria, selalu menunggu dibawah salju."
Mendengar ucapan Oya, Shin Ho hanya tersenyum kikuk. Sementara Oya kini melepas jaket overcoatnya. Ia lalu memasangkannya pada Shin Ho tanpa berucap.
" Tidak perlu, kau juga butuh." tolak Shin Ho.
" Pakai saja, lagipula aku sudah sampai dirumah. Kau bisa mati kedinginan kalau masih disini." tutur Oya yang hendak berlalu namun kembali menahan langkah kakinya.
" Kau mau makan ramyeon?" tawar Oya pada Shin Ho.
Shin Ho termangu menatap wanita dewasa didepannya. Seketika Ia teringat pada moment dimana Ia memeluk Oya tanpa izin.
" Hei, kau mau makan ramyeon?" Oya kembali bersuara saat dirinya tak kunjung mendapat jawaban.
Shin Ho tersadar, Ia lalu tersenyum. "Aku mau."
" Baiklah, ayo kerumahku." ucap Oya dan berjalan lebih dulu. Shin Ho mengulum senyum diam-diam dan segera mengikut dibelakang Oya.
...🌸🌸🌸...
Menara Namsan Tower.
Tiga puluh menit berlalu, Emily masih menunggu Shi Woon ditempat yang sama. Wajahnya sudah pucat pasih, kulitnya pun sudah sedingin es, serta bibirnya sudah tak merah lagi. Meski tak ada tanda-tanda kedatangan Shi Woon, Emily dengan sabar tetap menunggu pria gagah itu hingga tak lama seorang wanita paruh baya menghampiri.
" Nona, kau sudah lama disini. Cuaca sangat dingin, minumlah coklat hangat ini." ujar sang wanita paruh baya dengan memberikan Emily segelas coklat panas.
Emily meraih gelas itu, dan meneguknya sedikit.
" Tidak, nak. Itu gratis, aku menjualnya dibawah sana. Aku melihatmu sejak tadi, kau harus pulang, kalau tidak kau akan mati kedinginan disini." seru wanita itu pada Emily.
Emily terdiam.
" Aku menunggu seseorang." ucap Emily kemudian.
" Astaga, nak.. tidak akan ada yang datang disaat suhu udara seperti ini. Kau harus pulang." wanita paruh baya itu menasehati Emily dengan suara lembut.
" Tidak, dia pasti datang." Emily menolak dengan senyum tertahan. Sebenarnya hatinya juga bimbang. Khawatir apakah Shi Woon akan datang atau tidak.
" Memangnya siapa yang kau tunggu, pacarmu?" tanya wanita itu.
" Tidak, kami tidak berpacaran." jawab Emily.
" Tadi ada seorang pria yang juga datang. Sepertinya dia menunggu seseorang, tapi ada banyak pengawal yang menjemputnya. Mungkin pemuda itu pacarmu?" terang wanita paruh baya itu.
Emily tercenung setelah mendengar perkataan wanita didepannya.
" Benarkah?" Emily mengajukan tanya yang dijawab anggukan kepala oleh wanita itu.
" Baiklah, terima kasih, Bu. Aku harus pergi sekarang." pamit Emily yang langsung berlalu menuruni anak tangga.
Selang beberapa detik setelah kepergian Emily, Shi Woon pun tiba di menara namsan. Dengan langkah gontai Ia menaiki anak tangga dan setibanya diatas Ia sudah tak mendapati Emily dan hanya wanita paruh baya itu yang berada ditempat.
" Bu, apakah tadi ada wanita yang datang kesini?" tanya Shi Woon dengan nafas memburu.
" Oh, jadi kau yang dia tunggu?" tanya balik sang wanita paruh baya.
Shi Woon mengernyit. "Jadi dia sungguh datang?"