
Disatu sisi tampak Oya yang baru saja menyelesaikan kelas malamnya. Ia kini keluar dari kampus dengan tas jinjing yang menggantung dipundaknya.
Oya melangkah meninggalkan bangunan besar itu, sembari berjalan pandangannya hanya terarah pada jalanan yang dilaluinya hingga tanpa sadar melewati seseorang yang sejak tadi menantinya.
" Kau akan pulang?" suara berat nan maskulin itu terdengar sangat familliar membuat langkah kaki Oya tertahan.
Wanita cantik itu menoleh, dan terkejut saat mendapati pria itu yang ternyata adalah Hong Sik.
" Kau.. apa yang kau lakukan?" Oya seketika merasa canggung hingga tak ingin bersitatap dengan pria tampan didepannya.
" Aku datang menjemputmu, masuklah. Aku akan mengantarmu pulang." ujar Hong Sik meminta Oya agar menaiki mobilnya.
" Tidak perlu, aku akan naik bus." tolak Oya tanpa berfikir panjang. Dia pun segera melangkah menjauh dari Hong Sik.
" Kalau begitu.. jangan larang aku untuk mengantarmu pulang. Aku akan berjalan kaki bersamamu."
Pernyataan Hong Sik membuat Oya seketika mematung ditempat. Wanita dewasa itu tak bergeming, dan masih dalam pikirannya yang kalut.
Hening menyergap, Oya tak menolak dan tak pula mengiyakan. Hanya menghela nafas dengan lemah dan kembali melanjutkan langkahnya. Hong Sik? Tentu saja pria itu membuktikan ucapannya dengan mengikuti wanita yang dicintainya.
*****
Langkah kaki Oya berhenti tepat didepan sebuah kedai yang desain depannya full kaca. Dan tanpa menoleh dirinya menghela nafas kasar saat merasa Hong Sik sejak tadi mengikutinya dari belakang.
" Apa kau sungguh menyukaiku?" tanya Oya yang masih dalam posisi yang sama.
Hening, Oya tampak berfikir sejenak sementara Hong Sik dengan senang hati berdiam diri ditempat yang sama. Tak lama wanita cantik itu membalikkan badan dan menatap lekat wajah Hong Sik yang selalu terlihat tampan.
" Apa kau menyukaiku?" Oya kembali mengajukan tanya yang sama.
Sejenak Hong Sik terdiam, sembari mengamati setiap inci wajah wanita dewasa didepannya. Selang beberapa detik dirinya langsung mengangguk dengan senyuman manis.
" Kalau begitu, apakah kau menyukai dia?" tanya Oya lagi, menunjuk kearah sampingnya dimana terdapat pantulan dirinya didalam sebuah kaca jendela.
Disaat Oya menanti sebuah jawaban, Hong Sik justru tak bergeming. Dia terus menatap wajah Oya tanpa berniat menoleh kearah yang ditunjuk wanita cantik itu.
" Aku hanya menyukaimu. Yang kau tunjuk itu.. dia hanya pantulan dirimu, tapi kau tetaplah Oya yang kusukai sejak tujuh tahun lalu." jelas Hong Sik, membungkam bibir tipis wanita didepannya.
Oya diam termangu. Dirinya tertegun mendengarkan jawaban Hong Sik, dan entah mengapa dihatinya ada sebuah rasa yang aneh dan sulit tuk diungkapkan.
Melihat Oya yang diam saja, Hong Sik pun memberanikan diri untuk mendekat. Hanya selangkah, hingga tak ada jarak yang tersisa diantara mereka. Perlahan Hong Sik memegang kedua bahu Oya dan dengan lembut dirinya melabuhkan kecupan ringan dikening wanita itu.
" Aku hanya mencintaimu." ujar Hong Sik setelahnya, menyadarkan Oya dari lamunannya.
Hikk..
Setelah Hong Sik menyelesaikan ucapannya, Oya seketika cegukan. Kedua mata indah Oya pun tak berkedip sama sekali. Ia cukup terkejut karena tiba-tiba dihadiahi kecupan oleh Hong Sik. Mengingat selama ini dirinya tak pernah disentuh siapapun selain Ayahnya, tentu membuat kesan berbeda saat ini.