Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 30



Shi Woon mengernyit, melihat orang-orang didepannya yang tiba-tiba datang.


" Siapa kalian?" tanya Shi Woon menatap nanar satu persatu pria berjas hitam itu.


" Tuan Choi menyuruh kami menjemput Tuan Muda." seru salah satu dari mereka.


" Katakan, aku sedang menunggu seseorang." jawab Shi Woon dengan enteng.


" Tuan Choi sedang dirawat, beliau minta bertemu dengan Tuan Muda."


Mendengar ucapan pria didepannya, Shi Woon tersentak.


" Apa yang kau katakan?" Shi Woon mengajukan tanya karena sebenarnya Ia tak percaya bahwa Ayahnya sakit.


Ya, meski hubungannya dengan sang Ayah tak baik, namun Shi Woon tetap memiliki rasa kasih untuk Ayahnya terlebih lagi pria paruh baya itu adalah satu-satunya orang tua yang dimiliki setelah kematian Ibunya.


Shi Woon linglung, panik terlihat nyata diwajah tampannya. Ia ingin menunggu Emily, wanita yang dicintainya namun mendengar kondisi Ayahnya, mau tak mau Ia harus meninggalkan menara namsan.


Sebelum ikut dengan pria berjas hitam itu, Shi Woon melirik pada jam tangannya. Wajahnya sendu saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam yang berarti Emily sudah melewatkan satu jam pertemuannya.


" Kau hanya mencintai aku diempat tahun lalu, sekarang kau sudah tidak menyukaiku lagi Emily." benak Shi Woon yang tampak kecewa.


" Ayo, temui Ayahku." Shi Woon berjalan lebih dulu dengan para pengawal Tuan Choi yang mengikut dibelakang.


Disaat Shi Woon meninggalkan menara namsan, sosok Emily pun muncul dari arah berlawanan. Dengan nafas yang tersengal-sengal imbas dari berlarian, Emily menapaki anak tangga kayu yang akan mengantarnya keatas sana, dimana ribuan gembok cinta terpasang.


Tiba diatas sana, Emily mematung saat dirinya tak mendapati siapapun. Hanya salju yang menghiasi tempat itu, namun pengunjung ataupun Shi Woon tak terlihat lagi. Meski begitu, Emily tak meninggalkan tempat itu dan memilih duduk dibangku yang berada tak jauh darinya.


...🌸🌸🌸...


Seoul National University.


Namun Oya seketika mematung saat mendapati Hong Sik yang sudah menunggunya diluar kampus.


" Apa yang kau lakukan disini?" tanya Oya dengan wajah datarnya.


Hong Sik menyunggingkan senyum tipisnya. "Aku menunggumu. Ayo, pulang bersamaku.. aku akan mengantarmu."


Oya menghela nafas setelah mendengar penuturan Hong Sik.


" Kau gila, ya?" Oya membidik Hong Sik dengan tatapan nanar, membuat pria didepannya mengernyit bingung terlebih lagi saat mendengar umpatan itu.


" Kenapa kau menungguku, kau tau saat ini suhu udara sekarang sangat dingin. Kau bisa mati berdiri jika disini terus. Lagipula apa hubungan kita sampai kau mau menungguku." cerocos Oya dengan nada yang kesal.


Hong Sik terdiam mendengar serentetan omelan dari wanita cantik didepannya.


" Aku menyukaimu."


Deg.


Tanpa diduga, Hong Sik langsung menyatakan perasaannya membuat Oya seketika terdiam dengan bibir terkatup rapat.


" Aku menyukai, itu sebabnya aku menunggumu." Hong Sik memperjelas ucapannya membuat Oya tercenung.


" Ditujuh tahun yang lalu, dipertemuan pertama kita, saat orang lain tidak memperdulikanku dan justru hanya kau yang menolongku saat itu... aku sudah mencintaimu." tambahnya menatap dalam manik mata Oya.


" Aku tau kau tidak punya pacar, itu sebabnya aku akan mengajakmu berkencan disalju pertama ini. Maukah kau berkencan denganku?" terang Hong Sik lagi.


Hening.


Oya tak mampu berkata, Ia hanya membalas tatapan Hong Sik yang sangat penuh harap.