
" Iya, Nyonya." jawab Jung saat sudah berada disatu ruangan bersama atasannya.
" Kau urus dia karena aku akan menghadiri perjamuan diluar. Ah, kau sudah pastikan kalau diluar sudah aman kan?" tanya Nyonya Young yang dibalas anggukan oleh Jung.
Sebelum meninggalkan Hong Sik, Nyonya Young berbalik dan tersenyum penuh arti pada putra tirinya yang notabene adalah keponakannya.
Perlahan dia mendekat dengan senyum licik diwajah cantiknya. Dirinya lalu merapikan sampul dasi Hong Sik serta jas yang dikenakan pria tampan itu.
" Dengarkan aku, jangan bertindak berlebihan jika kau tidak ingin berakhir seperti Ibumu yang bodoh itu." bisik Nyonya Young.
Hong Sik diam termangu, dia masih syok pada kenyataan yang ada.
" Jangan ikuti adikmu, jika kau bersikap berani seperti adikmu yang bodoh itu, aku akan melenyapkanmu lebih dulu sebelum adikmu itu." Nyonya Young memperingatkan pada Hong Sik untuk tidak bermain-main padanya seperti apa yang dilakukan Shi Woon secara diam-diam.
" Kau sudah tau kan, bahkan dirumah ini pun aku bisa membunuh tanpa ketahuan. Dulu ibumu mati didalam rumah ini, apa kau juga ingin mati didalam kamar ini?" ancamnya lagi membuat Hong Sik tak dapat berkutik.
" Jung, urus keponakanku ini. Ah, maksudku adalah putraku." ralat Nyonya Young yang masih memperlihatkan senyum tipisnya.
" Baik, Nyonya." balas Jung dengan sopan.
" Pastikan dia tidak berani mengulangi hal yang sama. Setelah nanti, bawa dia kerumah kekasihnya karena aku harus membuat alasan pada Tuan Choi bahwa putra sulungnya mungkin sedang bepergian. Tidak mungkin aku menaruhnya dirumah ini saat wajahnya terluka, aku pasti akan tertangkap. Benarkan Hong Sik?" Nyonya Young mendelik tajam pada putra tirinya yang sudah ketakutan.
Setelahnya Ia pun segera berlalu, menutup kamar dengan rapat.
...🌸🌸🌸...
Seoul, pukul sepuluh malam.
" Young, dimana Hong Sik. Sejak tadi aku tidak melihatnya." tanyanya pada sang istri yang tengah merapikan tempat tidurnya.
" Dia meminta izin padaku, katanya akan pergi sebentar. Sepertinya dia punya urusan di kantor." jawab Nyonya Young dengan hangat.
" Kenapa dia tidak memberitahuku? Dan kenapa sangat tiba-tiba." Tuan Choi mulai khawatir sendiri.
" Dia tidak ingin mengganggumu. Pahamilah dia, Sayang. Kau tau kan.. tempramen Hong Sik memang aneh." Nyonya Young menenangkan pria paruh baya itu.
Mendengar penuturan wanitanya, Tuan Choi tak bertanya lagi dan segera beranjak dari sofa pijatnya.
" Keluarlah, aku ingin istirahat." seru Tuan Choi kemudian.
Nyonya Young segera keluar dari kamar suaminya— membiarkan pria paruh baya itu beristirahat seorang diri.
Begitulah hubungan mereka, meski diluaran sana orang menilainya sebagai pasangan suami istri yang harmonis, namun sebenarnya semua hanyalah label.
Menikah selama dua puluh tahun lebih, tak menjadikan Nyonya Young sebagai seseorang yang spesial dihati Tuan Choi. Meski begitu Nyonya Young tak pernah mempermasalahkan hal itu, bahkan dirinya pun tak pernah disentuh oleh Tuan Choi.
...🌸🌸🌸...
Hunian Myeongdong, Seoul
Tampak Oya yang saat ini baru saja selesai berberes. Ia mengumpulkan semua sampah dalam kresek dan siap membuangnya. Namun niatnya diurung saat melihat ponsel Emily yang berdering diatas meja, terlebih lagi sipenelfon adalah Shin Ho.